Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas
blokBojonegoro.com - Bulan Ramadan telah berakhir dan umat Islam baru saja merayakan kemenangan Hari Raya Idul Fitri dengan penuh sukacita. Namun, dengan berakhirnya bulan Ramadan bukan berarti semangat ibadah juga selesai.
Justru inilah saatnya bagi setiap Muslim untuk membuktikan bahwa Ramadan benar-benar telah berhasil mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Oleh karena itu dibutuhkan setidaknya tiga pilar agar dalam menjalani ibadah pasca Ramadan.
Yang pertama, keistiqomahan dalam ibadah dan ketaatan. Jangan sampai semangat ibadah hanya ada di bulan Ramadan. Tetap jaga salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, qiyamul lail dan amal baik lainnya.
Istiqamah adalah konsinten dalam ketaatan dan proporsional dalam tindakan serta tidak berlebihan dalam hal apapun.
حَقِيقَةُ الِاسْتِقَامَةِ هِيَ الْوَفَاءُ بِالْعُهُودِ كُلِّهَا، وَمُلَازَمَةُ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ بِرِعَايَةِ حَدِّ التَّوَسُّطِ فِي كُلِّ الْأُمُورِ، مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَاللِّبَاسِ، فِي كُلِّ أَمْرٍ دِينِيِّ وَدُنْيَوِيٍّ
Artinya: “Hakikat istiqamah adalah menepati seluruh janji, serta senantiasa berpegang pada jalan yang lurus dengan menjaga batas keseimbangan dalam segala urusan baik dalam hal makan, minum, berpakaian, maupun dalam setiap urusan agama dan dunia.” (Tafsir Ruhul Bayan )
Tidak sedikit dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang memerintahkan umat Islam untuk selalu berusaha istiqamah dalam kebaikan, dalil istiqamah dari Al-Qur'an diantaranya:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: “Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Hud: 112).
Adapun di antara Hadits Nabi Muhammad yang memerintahkan istiqamah adalah sebagai berikut:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Perbuatan baik yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling konsisten (istiqamah) meskipun sedikit.” (HR Muslim).
Yang kedua menjaga hati, dan anggota badan dari dosa lama. Pasca ramadan adalah titik awal kembali fitrah. Maka penting untuk tidak kembali ke kebiasaan buruk dan maksiat sebelumnya.
Imam Al-Ghazali menyatakan dalam kitab Bidayatul Hidayah bahwa menjauhi larangan Allah itu lebih berat dari pada mengerjakan perintahNya, karena semua orang bisa melakukan ketaatan tetapi tidak semua orang bisa meninggalkan keinginan.
وَتَرْكُ المَنَاهِي هُوَ الأَشَدُ؛ فَإِنَّ الطَّاعَاتِ يَقْدِرُ عَلَيْهَا كُلُّ وَاحِدٍ، وَتَرْكُ الشَّهَوَاتِ لَا يَقْدِرُعَلَيْهِ إِلَّا الصَدِيْقُوْنَ
Artinya: “Meninggalkan perkara yang dilarang ialah berat, setiap individu mampu untuk melakukan taat, dan tidaklah mampu meninggalkan keinginan syahwat kecuali orang-orang yang lurus.”
Sebagai wujud syukur setelah bisa melaksanakan ibadah puasa dan bisa menjaga amanah atas hati dan anggota badan, maka pengendalian diri dari maksiat dan dosa adalah syarat mutlak.
Yang ketiga adalah muhasabah diri, Konsep muhasabah adalah kegiatan merenungkan dan menilai perbuatan yang telah dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengetahui perbuatan baik dan buruk yang telah dilakukan, serta memahami niat dan tujuan dari perbuatan tersebut.
Dari Umar bin AlKhottob, Nabi bersabda:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ
“Intropeksilah diri kalian, sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal saleh) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak).” (HR. Tirmidzi)
Imam Ghazali menjelaskan bahwa tujuan dari muhasabah adalah untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Dengan menyadari kekurangan diri, seseorang akan termotivasi untuk memperbaiki diri dengan meningkatkan amal kebaikan dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Dengan demikian, seseorang akan dapat menghindari perbuatan yang tidak diridhai oleh Tuhan.
Harapan setelah tiga pilar ini, ada pada setiap muslim tentunya adalah kebahagiaan didunia dan diakhirat. Dan tergolong sebagai muslim yang beruntung, sabda Rasulullah SAW:
من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون.( رواه الحاكم)
Artinya: "Barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan kemarin, maka ia merugi. Barangsiapa hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia terlaknat." (HR. Al-Hakim).
Akhirnya semoga ketiga pilar tersebut dengan istiqamah, menjaga hati dan muhasabah bisa menjaga fitrah setiap muslim, sehingga mereka meraih kebahagiaan dan keberuntungan. [mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published