Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur, Sri Wahyuni, memberikan apresiasi atas prestasi membanggakan yang diraih dua siswi SMA Negeri 1 Bubulan, Kabupaten Bojonegoro, pada ajang Wonderful Indonesia Robot Challenge (WIRC) 2026. Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa sekolah di wilayah pelosok mampu bersaing dan berprestasi di tingkat nasional.
"Saya mengapresiasi murid SMA Negeri 1 Bubulan yang berhasil meraih juara dua tingkat nasional dalam dua kategori robotik. Walaupun sekolah ini berada jauh dari perkotaan, semangat para guru dan peserta didiknya luar biasa hingga mampu berprestasi di tingkat nasional," ungkap Sri Wahyuni.
Prestasi tersebut diraih Mahera Nur Fadhila dan Lailatul Aini Dwi Futriq, siswi kelas XI SMA Negeri 1 Bubulan, dalam ajang WIRC yang digelar di Jatim Park, Kota Batu, pada 4–6 Juli 2026. Dari sekitar 30 sekolah perwakilan berbagai daerah di Indonesia, keduanya berhasil meraih Juara II kategori Robotic Maze Solving Senior** dan Juara II kategori Robotic Soccer RC Basic Senior.
Sri Wahyuni berharap capaian tersebut tidak berhenti di tingkat nasional. Ia optimistis kedua siswi itu mampu mengharumkan nama Bojonegoro dan Jawa Timur pada kompetisi robotik internasional di Kuala Lumpur, Malaysia, yang dijadwalkan berlangsung November mendatang.
"Mudah-mudahan nanti di Malaysia juga mampu meraih prestasi yang membanggakan. Semoga keberhasilan SMA Negeri 1 Bubulan ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk terus melahirkan prestasi," pungkasnya.
Di balik prestasi tersebut, Mahera dan Lailatul ternyata hanya memiliki waktu persiapan yang sangat singkat. Keduanya menjalani pembekalan sehari di SMK Muhammadiyah 5 Babat, kemudian mengikuti latihan intensif selama enam hari menjelang perlombaan. Selama proses tersebut, mereka didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 1 Bubulan, Marmono, bersama pendamping Wahyu.
Mahera Nur Fadhila mengaku tidak pernah membayangkan akan mengikuti kompetisi robotik tingkat nasional karena kesempatan itu datang secara mendadak.
"Setelah minta izin orang tua dan mereka setuju, kami belajar selama enam hari. Karena pemberitahuannya mendadak dan kami juga banyak kegiatan sekolah, latihannya tidak sampai satu bulan, hanya beberapa hari. Saya tidak menyangka bisa bertemu banyak lawan dan akhirnya mendapatkan juara," terang Mahera.
Bagi Mahera, pengalaman tersebut menjadi yang pertama sekaligus memotivasi dirinya untuk mengejar cita-cita.
"Harapan saya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi negeri menggunakan sertifikat ini supaya bisa menjadi pramugari," ujarnya.
Mahera juga berharap prestasi tersebut mampu mengubah pandangan masyarakat terhadap sekolah-sekolah yang berada di wilayah pelosok.
"Meski sekolah kami berada di pelosok Bubulan, saya berharap prestasi siswa-siswanya bisa lebih terlihat. Jangan memandang sebelah mata sekolah di pelosok, karena kalau digali pasti banyak anak-anak yang berprestasi," katanya.
Ia pun berharap mendapat dukungan apabila kelak memperoleh kesempatan mengikuti kompetisi robotik tingkat internasional.
"Semoga saya bisa mengikuti kompetisi internasional dengan lancar dan ada dukungan pembiayaan dari pemerintah," tuturnya.
Kepala SMA Negeri 1 Bubulan, Dziyaus Shobah, S.Pd., M.Pd., mengaku bangga atas pencapaian kedua siswinya. Menurutnya, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa sekolah di daerah pinggiran mampu bersaing di tingkat nasional.
"Saya merasa bangga dengan prestasi peserta didik kami. SMA Negeri 1 Bubulan dikenal berada di kecamatan yang jauh dari perkotaan, tetapi kami mampu menunjukkan di tingkat nasional bahwa kami bisa bersaing dan menghasilkan juara-juara nasional," ujarnya.
Ia menambahkan, sekolah akan mempersiapkan Mahera dan Lailatul untuk menghadapi kompetisi robotik tingkat internasional di Malaysia.
"Insyaallah persiapan menuju Malaysia akan kami lakukan dengan maksimal. Semoga SMA Negeri 1 Bubulan juga bisa mengharumkan nama daerah di tingkat internasional," katanya. [feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published