Geosite Kedung Lantung, Upaya Merawat Warisan Geologi sekaligus Menggerakkan Ekonomi Warga
Pemkab Bojonegoro bersama SKK Migas, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro), dan komunitas Bojonegoro History berkolaborasi mengembangkan kawasan Geosite Kedung Lantung di Desa Sugihwaras (Foto: Istimewa)

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Warisan geologi tak hanya menyimpan jejak sejarah bumi, tetapi juga menyimpan peluang untuk mengembangkan pendidikan dan ekonomi masyarakat. Potensi itu coba dioptimalkan melalui pengembangan Geosite Kedung Lantung di Desa Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, sebagai destinasi wisata edukasi berbasis konservasi dan pemberdayaan warga.

Peresmian Geosite Kedung Lantung berlangsung pada Jumat (16/10/2026), bertepatan dengan Festival Lantung 2026. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama SKK Migas, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro), dan komunitas Bojonegoro History berkolaborasi mengembangkan kawasan tersebut dengan mengusung tema “Merayakan Warisan Bumi, Menghidupkan Budaya”.

Dari menara pantau empat lantai di kawasan itu, pengunjung dapat menikmati panorama perbukitan dan hamparan vegetasi hijau. Namun, daya tarik utama Kedung Lantung bukan sekadar keindahan alamnya. Kawasan ini menyimpan fenomena geologi berupa sistem petroleum gas purba yang memiliki nilai penting untuk penelitian dan pendidikan.

Pengembangan geosite tersebut sekaligus memperkenalkan konsep geowisata berkelanjutan. Berbeda dengan pariwisata massal yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan, geowisata mengedepankan pelestarian alam, pembelajaran, serta keterlibatan masyarakat setempat.

Bagi kalangan pelajar dan generasi muda, Kedung Lantung dapat menjadi ruang belajar terbuka untuk memahami proses geologi. Berbagai alat peraga dan papan informasi disiapkan agar pengunjung dapat mengenali fenomena alam di kawasan tersebut dengan cara yang lebih mudah dan menarik.

Sementara itu, bagi masyarakat sekitar, pengembangan geosite membuka peluang ekonomi baru. Warga dapat terlibat dalam pengelolaan kawasan, penyediaan kuliner khas, hingga menjadi pemandu wisata yang menceritakan sejarah dan keunikan lokal.

Keterlibatan tersebut diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan alternatif yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, manfaat ekonomi kawasan tidak hanya bergantung pada pemanfaatan sumber daya alam yang terbatas, tetapi juga pada potensi wisata, budaya, dan pengetahuan.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Bojonegoro, Machmuddin, menegaskan bahwa nilai penting geosite tidak hanya terletak pada keunikan batuan, tetapi juga pada upaya masyarakat menjaga dan mengembangkan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Menurutnya, fenomena sistem petroleum gas di Kedung Lantung menjadikan kawasan tersebut memiliki keunikan sebagai laboratorium geologi.

"Potensi ini adalah modal penting Bojonegoro menuju pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp). Kita ingin dunia tahu bahwa Bojonegoro bukan hanya penghasil energi, tetapi juga garda depan konservasi geologi," ungkap Machmuddin.

Pengembangan Kedung Lantung juga memperlihatkan peluang kolaborasi antara industri hulu minyak dan gas bumi, akademisi, pemerintah, serta masyarakat dalam menjaga warisan geologi. Melalui kerja sama tersebut, aktivitas industri diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan dan pengembangan budaya lokal.

Perwakilan EMCL, Rifqi Romadhon, menjelaskan bahwa riset dan pendekatan ilmiah menjadi landasan pengembangan kawasan. Akademisi Unigoro berkontribusi melalui kajian ilmiah, komunitas Bojonegoro History menggali narasi sejarah lokal, sedangkan masyarakat setempat berperan dalam menjaga sekaligus menghidupkan kawasan tersebut.

Analis Senior SKK Migas Jabanusa, Erwin Andriyanto, menambahkan bahwa kontribusi industri migas perlu memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar capaian produksi minyak dan gas.

"Aktivitas industri dan kehidupan sosial masyarakat berada dalam satu lanskap yang sama. Kebermanfaatan itu harus menyentuh warisan geologi dan kesejahteraan jangka panjang warga," kata Erwin.

Camat Sugihwaras, Heri Purwanto, berharap pengembangan Kedung Lantung tidak berhenti setelah Festival Lantung 2026 berakhir. Menurutnya, keberlanjutan kegiatan dan keterlibatan warga menjadi faktor penting agar geosite tersebut terus berkembang dan memberikan manfaat nyata.

Ke depan, tantangan pengelolaan Kedung Lantung tidak hanya terletak pada upaya menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga menjaga kelestarian kawasan, mengembangkan edukasi geologi, serta memastikan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Melalui kolaborasi berbagai pihak, Kedung Lantung diharapkan menjadi contoh bahwa warisan geologi dapat dirawat sekaligus dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Dari jejak purba yang tersimpan di dalam bumi, Bojonegoro berupaya membangun masa depan yang mempertemukan ilmu pengetahuan, pelestarian alam, dan kesejahteraan masyarakat. [feb/mad]