Kontributor: Maulina Alfiyana
blokBojonegoro.com - Menjelang Hari Raya Qurban 1440 Hijriah/2019, penjual tusuk sate tradisional di sejumlah pasar Kabupaten Bojonegoro mulai menjamur membuka lapaknya, Kamis (8/8/2019).
Nafiah, salah satu penjual tusuk sate tradisional berbahan bambu yang dutemui blokBojonegoro.com di pasar kota mengaku sudah berjualan tusuk sate sejak satu pekan yang lalu. Tusuk sate tersebut dibuat sendiri olehnya dengan cara manual.
"Tusuk sate ini saya buat sendiri dari rumah," ujarnya.
Wanita yang kesehariannya menjual kebutuhan pokok ini berjualan tusuk sate satu tahun sekali ketika menjelang Hari Raya Idul Adha saja. Ada dua macam tusuk tradisional yang dijualnya, yakni tusuk yang khusus buat sate dan tusuk yang khusus buat ranggit.
Perbedaan dari kedua tusuk ini bisa terlihat dari ukurannya. Di mana tusuk yang khusu buat sate berukuran lebih panjang dibandingkan dengan tusuk yang khusus buat ranggit.
"Harganya satu untai tusuk ranggit Rp 15.00, sedangkan yang ranggit Rp2.000 saja, isinya ada 50 batang," jelasnya.
Selain Nafiah, ada juga Kasman yang penjual tusuk sate tradisional lainnya. Ia juga disibukkan mulai membuat tusuk sate sendiri hingga menjualnya di pasar. Sama halnya dengan Nafiah, tusuk sate Kasman juga terbuat dari bambu.
Dijelaskan olehnya cara pembuatan tusuk sate cukup sederhana, hanya dibelah dan dipotong kecil-kecil memanjang serta dibentuk atau diraut dengan meruncingkan ujungnya.
Untuk memproduksi ribuan tusuk sate dirinya hanya memerlukan satu batang bambu jenis andong atau tali. Setelah itu diolah sendiri dengan dibuatnya menjadi ribuan tusuk sate yang nantinya siap diambil borongan oleh para pedagang dan dijualnya sendiri.
"Alhamdulillah untungnya lumayan, bisa untuk tambahan kebutuhan rumah tangga," tutupnya laki-laki asal Ledokwetan tersebut. [lin/lis]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published