Reporter: -
blokBojonegoro.com - Hari Minggu (21/6/2020), diprediksi akan terjadi gerhana matahari.
Anjuran salat sunah gerhana tercantum dalam Shahih Muslim:
إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَان٠مÙنْ آيَات٠اللَّه٠لَا يَنْكَسÙÙَان٠لÙمَوْت٠أَØÙŽØ¯Ù وَلَا Ù„ÙØÙŽÙŠÙŽØ§ØªÙÙ‡ÙØŒ ÙÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ رَأَيْتÙمْ ذَلÙÙƒÙŽ ÙَصَلّÙوا وَادْعÙوا ØÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ يَنْكَشÙÙÙŽ مَا بÙÙƒÙمْ
Artinya, “Sungguh matahari dan bulan adalah tanda kekuasaan Allah SWT, tidak terjadi gerhana keduanya (matahari dan bulan) karena kematian seseorang atau pun kehidupannya. Apabila kalian melihat gerhana, maka salat dan doalah hingga gerhana tersebut selesai.”
Di samping salat gerhana bulan, banyak amalan-amalan lain yang dianjurkan ketika terjadinya peristiwa ini. Hal ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi (676 H) berikut ini:
قال المصن٠رØÙ…Ù‡ الله: (والسنة أن يخطب لها بعد الصلاة Ù„Ùمَا رَوَتْ Ø¹ÙŽØ§Ø¦ÙØ´ÙŽØ©Ù رَضÙÙŠÙŽ اللَّه٠عَنْهَا "أَنَّ النَّبÙيَّ صَلَّى الله عليه وسلَّم Ùَرَغَ Ù…Ùنْ صَلَاتÙÙ‡Ù Ùَقَامَ Ùَخَطَبَ النَّاسَ ÙÙŽØÙŽÙ…ÙØ¯ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‡ÙŽ وَأثْنَى عَلَيْه٠وَقَالَ: الشَمْس وَالقَمَر٠آيتان٠مÙنْ آيات٠الله٠عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْسÙÙَان٠لÙمَوْت٠أَØÙŽØ¯Ù وَلَا Ù„ÙØÙŽÙŠÙŽØ§ØªÙÙ‡Ù ÙÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ رأيتم ذلك ÙØµÙ„وا وتصدقوا"
Artinya, “(Abu Ishaq As-Syairazi berkata, disunahkan khutbah setelah salat gerhana sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA, ‘Sungguh setelah selesai salat gerhana, Nabi SAW berdiri dan khutbah di hadapan manusia, kemudian ia memanjatkan puji kepada Allah, dilanjutkan dengan bersabda, ‘Matahari dan bulan adalah ayat (tanda kebesaran Allah) dari sekian ayat-ayat Allah Azza wa Jalla. Keduanya tidak akan gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian menyaksikannya, maka salat dan sedekahlah,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Majmu’ Syarh Muhadzzab, Beirut, Darul Fikr, juz IV, halaman 53).
Dari keterangan hadits yang Imam As-Syairazi sebutkan di atas, terdapat dua amalan yang dianjurkan bagi kita, yaitu salat sunah gerhana dan bersedekah. Selain salat sunah gerhana, sedekah pada peristiwa ini juga disunahkan sebagaimana yang disebutkan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Nihayatuz Zain berikut ini:
ÙˆÙŽÙŠÙØ³ÙŽÙ†Ù الإÙكْثَار٠مÙÙ†ÙŽ الصَّدقَة٠ÙÙÙŠ رَمَضَانَ لَا سÙيَّمَا ÙÙÙŠ عَشْرÙÙ‡Ù Ø§Ù„Ø£ÙŽÙˆÙŽØ§Ø®ÙØ±Ù وأمَامَ الØÙŽØ§Ø¬ÙŽØ§ØªÙ وَعÙنْدَ ÙƒÙØ³ÙÙˆÙ٠وَمَرَض٠وَØÙŽØ¬Ù‘٠وَجÙهَاد٠وَÙÙÙŠ أَزْمÙنَة٠وَأَمْكÙنَة٠ÙَاضÙلَة٠كَعَشْر٠ذÙÙŠ الْØÙجَّة٠وَأَيَّام٠العÙيْد٠وَالْجÙÙ…Ù’Ø¹ÙŽØ©Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù…ÙØØªØ§Ø¬Ùيْنَ
Artinya, “Disunahkan memperbanyak sedekah pada bulan Ramadhan, terutama pada sepuluh hari terakhir di bulan itu, dan ketika mempunyai kebutuhan, ketika terjadi gerhana, sakit, haji, jihad dan pada beberapa waktu dan tempat yang memiliki keutamaan seperti tanggal 10 Dzulhijjah, hari raya, hari Jumat. Disunahkan juga sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain Syarah Qurratu ‘Ain, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 183).
Selain dua amalan di atas, ada juga amalan lain yang dapat kita lakukan di saat gerhana. Hal ini disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muhadzzab sebagai berikut:
الشَّرْØÙ) ØÙŽØ¯ÙÙŠØ«Ù Ø¹ÙŽØ§Ø¦ÙØ´ÙŽØ©ÙŽ Ø±ÙŽÙˆÙŽØ§Ù‡Ù Ø§Ù„Ù’Ø¨ÙØ®ÙŽØ§Ø±ÙÙŠÙ‘Ù ÙˆÙŽÙ…ÙØ³Ù’Ù„ÙÙ…ÙŒ وَاتَّÙَقَتْ Ù†ÙØµÙوص٠الشَّاÙÙØ¹Ùيّ٠وَالْأَصْØÙŽØ§Ø¨Ù عَلَى Ø§Ø³Ù’ØªÙØÙ’Ø¨ÙŽØ§Ø¨Ù Ø®ÙØ·Ù’بَتَيْن٠بَعْدَ ØµÙŽÙ„ÙŽØ§Ø©Ù Ø§Ù„Ù’ÙƒÙØ³ÙÙˆÙÙ ÙˆÙŽÙ‡Ùمَا سÙنَّةٌ لَيْسَا شَرْطًا Ù„ÙØµÙØÙ‘َة٠الصَّلَاة٠قَالَ أَصْØÙŽØ§Ø¨Ùنَا وَصÙÙَتÙÙ‡Ùمَا ÙƒÙŽØ®ÙØ·Ù’بَتَيْ الْجÙÙ…ÙØ¹ÙŽØ©Ù ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽØ±Ù’ÙƒÙŽØ§Ù†Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ø´Ù‘ÙØ±Ùوط٠وَغَيْرÙÙ‡Ùمَا سَوَاءٌ صَلَّاهَا جَمَاعَةٌ ÙÙÙŠ Ù…ÙØµÙ’ر٠أَوْ قَرْيَة٠أَوْ صَلَّاهَا Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ³ÙŽØ§ÙÙØ±Ùونَ ÙÙÙŠ الصَّØÙ’رَاء٠وَأَهْل٠الْبَادÙيَة٠وَلَا ÙŠÙŽØ®Ù’Ø·ÙØ¨Ù مَنْ صَلَّاهَا Ù…ÙنْÙÙŽØ±ÙØ¯Ù‹Ø§ ÙˆÙŽÙŠÙŽØÙثّÙÙ‡Ùمْ ÙÙÙŠ هَذÙÙ‡Ù Ø§Ù„Ù’Ø®ÙØ·Ù’بَة٠عَلَى التَّوْبَة٠مÙنْ الْمَعَاصÙÙŠ وَعَلَى ÙÙØ¹Ù’Ù„Ù Ø§Ù„Ù’Ø®ÙŽÙŠÙ’Ø±Ù ÙˆÙŽØ§Ù„ØµÙ‘ÙŽØ¯ÙŽÙ‚ÙŽØ©Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ø¹ÙŽØªÙŽØ§Ù‚ÙŽØ©Ù ÙˆÙŽÙŠÙØÙŽØ°Ù‘ÙØ±ÙÙ‡Ùمْ الْغَÙْلَةَ ÙˆÙŽØ§Ù„ÙØ§ØºÙ’ØªÙØ±ÙŽØ§Ø±ÙŽ ÙˆÙŽÙŠÙŽØ£Ù’Ù…ÙØ±ÙÙ‡Ùمْ Ø¨ÙØ¥ÙÙƒÙ’Ø«ÙŽØ§Ø±Ù Ø§Ù„Ø¯Ù‘ÙØ¹ÙŽØ§Ø¡Ù ÙˆÙŽØ§Ù„ÙØ§Ø³Ù’ØªÙØºÙ’Ùَار٠وَالذّÙكْرÙ
Artinya, “(Penjelasan) hadits Aisyah RA yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dan nash Imam Syafi’i serta pengikutnya sepakat pada kesunahan dua khutbah setelah salat gerhana, dan dua khutbah sunah itu bukanlah syarat sahnya salat. Ashab kami berkata, ‘Dua khutbah ini sama dengan khutbah Jumat dalam rukun, syarat dan selainnya, sama saja entah dilaksanakan berjamaah di kota besar maupun di desa, atau musafir di padang pasir maupun di perkampungan. Sedangkan orang yang salat sendiri tidak perlu melakukan khutbah. Khatib dalam khutbah ini menganjurkan jamaah untuk bertobat dari maksiat, mengerjakan kebaikan, bersedekah, membebaskan budak, mengingatkan mereka dari kelalaian dan tipu daya, serta memerintahkan mereka untuk memperbanyak doa, meminta ampunan dan zikir,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Syarah Muhadzzab, Beirut, Darul Fikr, juz V, halaman 53).
Dari keterangan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa ada beberapa amalan yang dapat dilakukan saat gerhana sebagai berikut: 1. Shalat gerhana.
2. Bersedekah.
3. Tobat dari maksiat.
4. Mengerjakan kebaikan.
5. Membebaskan budak (zaman sekarang tidak ada budak).
6. Kehati-hatian jangan sampai lalai.
7. Memperbanyak doa.
8. Memperbanyak istighfar.
9. Memperbanyak zikir. Wallahu a’lam.
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/85712
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published