Reporter: Muhammad
blokBojonegoro.com – Kongres Bahasa Indonesia pertama di Rusia yang diselenggarakan oleh KBRI Moskow tidak hanya menghadirkan perspektif resmi pemerintah, tetapi juga menampilkan apresiasi mendalam dari para akademisi Rusia mengenai bahasa Indonesia dan nilai-nilai yang dikandungnya.
Kongres yang mengusung tema "Bahasa Indonesia di Rusia: dari Diplomasi Lunak menuju Pengakuan Internasional" berlangsung pada 5 November 2025 di Perpustakaan Sastra Asing M.I. Rudomino, Moskow, dan dihadiri oleh sekitar 50 peserta yang didominasi oleh Indonesianis muda asal Rusia.
Sejarah Panjang Pengajaran Bahasa Indonesia di Rusia
Dalam paparan presentasinya, Marina Frolova, dosen dan peneliti pada Institut Negara Asia Afrika (ISAA) MGU, menyoroti akar sejarah yang dalam dari pengajaran bahasa Indonesia di Rusia.
Menurutnya, “Bahasa Indonesia telah diajarkan di Rusia sejak akhir 1950-an hingga sekarang. Pertama kali Bahasa Indonesia diajarkan dimulai dari Universitas Negeri Moscow Lomonosov.”
Ia melanjutkan dengan menjelaskan ekspansi pengajaran bahasa Indonesia ke berbagai institusi ternama Rusia.
“Hingga saat ini, pengajaran bahasa Indonesia berlangsung di berbagai institusi ternama Rusia, termasuk MGIMO, Institut Negeri-Negeri Asia dan Afrika, Far Eastern Federal University, Kazan University, dan Saint Petersburg State University,” tegas Marina. Paparan ini menggarisbawahi fondasi akademis yang kuat dan sudah berlangsung lama bagi bahasa Indonesia di negara tersebut.
Bahasa Indonesia dan Gotong Royong sebagai Modal Sosial
Sementara itu, Polina Evsyukova, dosen pada High School of Economic (HSE) University Moskow Rusia, dalam paparannya menyampaikan penghargaan yang lebih mendalam, yang melampaui aspek kebahasaan semata. Ia menekankan bagaimana bahasa Indonesia tidak terpisahkan dari nilai-nilai budaya masyarakatnya, khususnya gotong royong.
“Saya kira Bahasa Indonesia dan budaya gotong royong adalah modal sosial yang amat penting bagi masyarakat Indonesia yang menjadikan negara ini harmonis dan damai hingga saat ini,” terang Polina.
Komentar ini menyoroti persepsi bahwa bahasa Indonesia dipandang sebagai cermin dan sekaligus perekat bagi harmoni sosial dan kedamaian di Indonesia, menempatkannya sebagai elemen budaya yang hidup dan bernilai tinggi.
Dalam sambutan yang dibacakan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menggarisbawahi capaian signifikan bahasa Indonesia di panggung dunia. Beliau menyatakan, "Bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO pada tahun 2023, dan pada 4 November 2025 kemarin, kami kembali membuat sejarah dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam pidato di Sidang Umum UNESCO."
Tampak hadir dalam Kongres Bahasa Indonesia pula Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Jose Antonio Morato Tavares, beserta Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Moskow, Khoirul Rosyadi, dan pejabat dari Fungsi Penerangan Sosial Budaya, Noor Alexandra Mustajab. Sebagai pembicara, kongres ini menghadirkan Marina Frolova (dosen dan peneliti Institut Negara Asia Afrika/ISAA MGU), Polina Evsyukova (dosen High School of Economics/HSE University Moskow), dan Khoirul Rosyadi.
Duta Besar Jose Antonio Morato Tavares dalam sambutannya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berkontribusi sehingga Kongres Bahasa Indonesia I di Rusia ini dapat terselenggara dengan sukses.
“Ini menjadi momentum penting dan bersejarah karena kegiatan kongres bahasa Indonesia ini baru yang pertama diselenggarakan di Rusia,” jelasnya.
“Saya berharap acara kongres ini akan dilaksanakan setiap tahun,” tambah Dubes.
Kongres ini, dengan kontribusi berharga dari para pembicara asing, telah berhasil mengangkat diskursus tentang bahasa Indonesia di Rusia melampaui sekadar pembelajaran bahasa, menuju apresiasi atas sejarah, nilai budaya, dan kontribusinya bagi masyarakat. [mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published