Soal Stiker "Miskin", DPRD Desak Pemkab Bojonegoro Segera Perbaiki Data Kemiskinan

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com — Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam memasang stiker bertuliskan “Keluarga Miskin” di rumah penerima bantuan sosial menuai keluhan dari masyarakat. Sejumlah warga mengaku rumah mereka dipasangi stiker tersebut, namun tidak pernah menerima bantuan sosial sebagaimana yang tertera.

Keluhan itu ramai diperbincangkan di berbagai grup media sosial (Medsos) warga Bojonegoro. Beberapa unggahan menunjukkan kekecewaan masyarakat yang merasa dicap sebagai keluarga miskin, padahal bantuan yang dijanjikan tidak pernah mereka terima.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro, Ahmad Supriyanto mengungkapkan, pemasangan stiker sejatinya merupakan langkah yang baik dan patut didukung, selama dilakukan dengan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Pemasangan stiker ini bukan sekadar label, tetapi instrumen penting untuk verifikasi dan transparansi. Publik jadi tahu bantuan apa saja yang masuk ke setiap rumah penerima,” ungkap Supriyanto, Senin (5/1/2026).

Mas Pri sapaan karibnya menambahkan, kebijakan tersebut juga bertujuan untuk mencegah penyelewengan bantuan sosial (Bansos). Dengan adanya stiker, ruang gerak oknum yang berpotensi memotong atau menyalahgunakan hak warga bisa dipersempit.

“Selain itu, stiker ini bisa menjadi cermin akurasi data kemiskinan yang riil di lapangan. Jadi sebenarnya niatnya baik,” jelas Ketua DPD Partai Golkar Bojonegoro itu.

Namun demikian, Mas Pri menegaskan bahwa, keluhan warga harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menurutnya, ketika ditemukan warga yang dipasangi stiker tetapi tidak pernah menerima bantuan, maka besar kemungkinan terjadi ketidaksesuaian data.

“Kalau memang ada warga yang tidak pernah menerima bantuan tapi rumahnya ditempeli stiker ‘Keluarga Miskin’, itu berarti data harus segera dievaluasi dan disesuaikan. Jangan sampai masyarakat dirugikan secara sosial maupun psikologis,” tegasnya.

Pihaknya mendesak Pemkab Bojonegoro melalui dinas terkait agar segera melakukan verifikasi ulang data penerima bantuan sosial hingga ke tingkat desa dan RT/RW, agar kebijakan transparansi tidak justru menimbulkan polemik di masyarakat.

“Pemkab harus cepat merespons keluhan ini, melakukan klarifikasi, dan memperbaiki data. Tujuannya agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan kepercayaan publik tetap terjaga,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, pemasangan stiker bertuliskan “Keluarga Miskin” yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menuai pro-kontra di berbagai platform media sosial (Medsos) maupun secara langsung. Sebab, stiker tanda penerima bantuan dari pemerintah itu, disebut-sebut salah sasaran.

Berdasarkan Data Kemiskinan Daerah (Damisda) Kabupaten Bojonegoro, keluarga penerima manfaat (KPM) yang dipasang stiker ini sejumlah 50.987 KK.

Seperti pada kolom komentar postingan blokBojonegoro, pada Sabtu (3/1/2026), soal sosialisasi pemasangan stiker tersebut. Tak sedikit warga yang mengeluhkan jika pemasangan stiker ini, tak tepat sasaran. Sebab, sejumlah KPM disebut telah sejahtera.

“Tapi gak kabeh oleh stiker. Kiwo tengenku oleh bantuan tapi gak di templek.i stiker (Tapi tidak semua dapat stiker. Tetangga kanan kiri dapat bantuan, tapi tidak ditempeli stiker),” ujar warganet dengan akun @Ari Jemblung.

“Rata rata emang warga yang mampu dan warga yang dekat dengan perangkat (desa), yang selama ini yang dapat bansos. Ini stiker kalo gak di awasi langsung sama Bupati atau Wakil Bupati dan Dinas Sosial waktu penempelan, dijamin stiker itu nyasar ke rumah warga yang gak Nerima bansos,” sambung warganet lain, Yoyok Lestari.

Disisi lain warga Kecamatan Dander, Yanto mengapresiasi langkah pemasangan stiker tersebut. Sebab, tetangga di rumahnya sudah sejahtera dan memiliki sepeda serta sawah, namun tetap dapat bansos.  

“Setuju, ditempel stiker miskin, tetanggaku rumah bagus sepeda bagus punya sawah masih dapat bansos, di gangku yang nggak dapat cuman 3 KK, aku dan tetanggaku. Soalnya dulu nggak pilih lurah yang jadi sekarang, mas,” ungkap Yanto. [riz/mad]