Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro terus mendorong tumbuhnya semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim dosen UNUGIRI menggelar Youth Entrepreneur Class (YEC) bertema "Membangun Mindset, Keterampilan, dan Inovasi Bisnis Berbasis Komunitas Lokal IPPNU di Bojonegoro" di Balai Desa Sukodadi, Kecamatan Sukosewu, pada Minggu (21/6/2026).
Kegiatan ini diikuti 42 kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dari Pimpinan Cabang (PC) IPPNU Bojonegoro dan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPPNU Sukosewu. Selain menjadi ruang belajar, kegiatan tersebut juga menjadi wadah kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi kepemudaan untuk melahirkan generasi muda yang mandiri secara ekonomi.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Syubbanul Wathon, dan Mars IPPNU. Suasana berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat, mencerminkan antusiasme para peserta yang mengikuti kegiatan sejak awal.
Ketua PC IPPNU Bojonegoro, Agil Mutiara Nurjannah, menegaskan pentingnya pemberdayaan perempuan melalui peningkatan kapasitas diri dan kemandirian ekonomi. Menurutnya, perempuan muda harus berani berkembang dan mengambil peran lebih luas di tengah masyarakat.
"Sebagai perempuan, kita harus memiliki daya tawar dan kemandirian. Menjadi berdaya bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi bagaimana kita bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat luas," ungkapnya.

Agil berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi sarana bagi kader IPPNU untuk mengembangkan keterampilan yang bermanfaat, baik dalam kehidupan organisasi maupun di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian UNUGIRI, Lisa Aminatul Mukaromah, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat. Ia menilai penguatan jiwa kewirausahaan menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda di tengah perkembangan ekonomi yang semakin dinamis.
Menurut Lisa, kader IPPNU memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan apabila dibekali pola pikir, keterampilan, dan keberanian berinovasi.
"Melalui pendekatan community-based entrepreneurship, kami ingin rekanita keluar dari zona nyaman. Jangan hanya menjadi konsumen, tetapi mulai membangun pola pikir sebagai produsen yang mampu menciptakan nilai tambah dan kemandirian ekonomi di lingkungan masing-masing," tuturnya.
Ia menambahkan, kewirausahaan tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Banyak peluang usaha yang dapat dikembangkan dari potensi lokal apabila dikelola secara kreatif dan berkelanjutan.
Sebelum memasuki sesi materi, peserta mengikuti pretest untuk mengukur tingkat pemahaman awal tentang kewirausahaan dan pengelolaan usaha.
Materi pertama disampaikan Aulina Faizah yang mengupas Business Model Canvas (BMC) dan perencanaan bisnis sederhana. Peserta diajak memahami cara merancang usaha, mulai dari menentukan target pasar, menyusun nilai produk, hingga merancang strategi pemasaran.
Tidak hanya menerima teori, peserta juga mendapatkan studi kasus nyata dari usaha Pampers Clodi yang dikembangkan pemateri. Melalui contoh tersebut, mereka belajar memetakan sembilan elemen penting dalam Business Model Canvas dan memahami bagaimana sebuah ide dapat berkembang menjadi usaha bernilai ekonomi.
Pada sesi berikutnya, Lisa Aminatul Mukaromah membawakan materi Entrepreneurial Mindset. Ia mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap dunia usaha dan berani memulai langkah meski dari skala kecil.
Menurutnya, banyak generasi muda memiliki potensi besar, namun belum berani memulai usaha karena merasa tidak memiliki modal yang cukup atau takut menghadapi risiko kegagalan.
Sekarang suka checkout, besok jadi CEO (Chief Executive Officer). Jangan takut memulai usaha kecil, takutlah jika seumur hidup hanya menjadi penonton kesuksesan orang lain," ujarnya yang disambut antusias para peserta.
Lisa menekankan bahwa keberhasilan berwirausaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga kemauan untuk belajar, berproses, dan terus berinovasi.
Materi terakhir disampaikan Khurul Anam mengenai literasi keuangan dan pengelolaan keuangan UMKM. Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan pemahaman tentang pentingnya pencatatan keuangan, pengelolaan arus kas, hingga pemisahan keuangan pribadi dan usaha.
Materi ini menjadi pelengkap penting karena banyak usaha kecil mengalami hambatan berkembang akibat lemahnya manajemen keuangan. Dengan pengelolaan yang baik, usaha yang dirintis dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
Setelah seluruh rangkaian materi selesai, peserta mengikuti posttest sebagai bagian dari evaluasi kegiatan. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai kewirausahaan, perencanaan bisnis, dan pengelolaan usaha.
Salah satu peserta, Jihan Amelia, mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut. Ia merasa materi yang diberikan membuka pandangannya bahwa usaha dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Saya sangat berterima kasih atas ilmu yang luar biasa ini. Materi hari ini benar-benar membuka mata bahwa bisnis bisa dimulai dari hal sederhana. Kami sangat berharap ke depannya ada pelatihan yang lebih mendalam agar saya bisa benar-benar memulai bisnis secara profesional," ungkap Amelia.
Pada kesempatan yang sama, Lisa Aminatul Mukaromah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan, khususnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNUGIRI Bojonegoro.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada LPPM UNUGIRI atas dukungan dan fasilitasi yang diberikan sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Semoga kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi kepemudaan seperti ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," tandasnya. [feb/mu]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published