Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) memasuki tahap kedua dengan pendekatan yang lebih luas. Tak sekadar memberikan ayam, kandang, dan pakan awal kepada masyarakat, program ini mulai diarahkan untuk membangun ekosistem usaha peternakan desa yang mampu tumbuh dan dikelola secara mandiri.
Program yang digulirkan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama ALAS Institute tersebut merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas dan EMCL. Penguatan ekosistem menjadi salah satu hasil evaluasi dari pelaksanaan Gayatri tahap sebelumnya.
Pada Gayatri Tahap 2, ALAS Institute terlebih dahulu melakukan asesmen terhadap lebih dari 100 penerima manfaat program sebelumnya. Dari proses tersebut, ditemukan sejumlah hal yang perlu diperbaiki dan dikembangkan agar usaha peternakan masyarakat dapat berjalan lebih berkelanjutan.
"Tahun ini kita akan fokus pada pengembangan ekosistem," ungkap Manager Program ALAS Institute, Khoirul Huda.
Menurut Huda, ekosistem tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai usaha peternakan, mulai dari penyediaan pakan, produksi telur, hingga pemasaran. Dengan demikian, penerima manfaat tidak hanya bergantung pada bantuan awal, tetapi memiliki sistem usaha yang dapat terus berjalan secara mandiri.
Gayatri Tahap 2 menyasar lima desa, yakni Desa Sukoharjo dan Leran di Kecamatan Kalitidu serta Desa Sudu, Bonorejo, dan Gayam di Kecamatan Gayam. Total penerima manfaat dari lima desa tersebut mencapai 50 orang.

Dukungan yang diberikan berupa paket ayam petelur, kandang, dan pakan awal. Program ini dirancang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, mendorong produksi telur, memperbaiki kualitas hidup, sekaligus membangun kemandirian dan keberlanjutan usaha penerima manfaat.
Salah satu penerima manfaat, Marsam, warga Desa Sudu, Kecamatan Gayam, mengaku bersyukur kembali dipercaya mengikuti program Gayatri. Pria yang memiliki tiga anak tersebut dinilai berhasil mengembangkan ternak ayam petelur sejak mengikuti program pada tahun sebelumnya.
"Alhamdulillah kami masih dipercaya mendapatkan Gayatri. Kami akan bersungguh-sungguh menjalankannya dan menjadi peternak yang handal," kata Marsam kepada media, Minggu (16/8/2026).
Pengalaman beternak sebelumnya membuat Marsam mampu mengembangkan pola pemeliharaan ayam dengan cara yang selama ini ia terapkan pada ayam peliharaannya. Dari usaha tersebut, ia konsisten menghasilkan telur sekitar 3 kilogram per hari.
"Saya bersyukur karena BUMDES selama ini telah membantu mensupply pakan dan juga telur langsung dibeli," tambahnya.
Dorong Usaha yang Berkelanjutan
Perwakilan EMCL, Feni K. Indiharti, mengatakan pengembangan peternakan masyarakat membutuhkan keterlibatan penerima manfaat sejak awal. Menurutnya, dukungan yang diberikan melalui program tersebut tidak boleh berhenti sebagai bantuan, tetapi harus berkembang menjadi usaha yang memberikan manfaat dalam jangka panjang.
"Keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan dan komitmen bersama," terangnya.
Feni menambahkan, program tersebut menjadi bagian dari komitmen industri hulu migas dalam mendukung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro meningkatkan taraf hidup masyarakat, khususnya warga di sekitar wilayah operasi migas Lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris.

Dukungan tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi kepada masyarakat yang selama ini memberikan dukungan terhadap kegiatan operasional EMCL sehingga produksi migas nasional dapat terus berjalan.
"Terima kasih untuk dukungan pemerintah dan masyarakat selama ini. Pemenuhan energi untuk negeri ini tidak akan terpenuhi tanpa dukungan Bapak Ibu sekalian," ucap Feni saat sosialisasi di Desa Sudu, Kamis (13/8/2026).
Sosialisasi yang berlangsung di Balai Desa Sudu itu melibatkan pemerintah desa, BPD, tokoh masyarakat, penerima manfaat, penanggung jawab program EMCL, dan ALAS Institute.
Selain memperkenalkan program, forum tersebut juga menjadi ruang untuk menyampaikan sekaligus menetapkan data hasil verifikasi lapangan calon penerima manfaat. Sinkronisasi dilakukan agar pelaksanaan program sesuai dengan kondisi masyarakat sekaligus memperoleh dukungan dari para pemangku kepentingan di tingkat desa.
Dengan pendekatan tersebut, Gayatri Tahap 2 tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah peternak ayam petelur. Lebih dari itu, program ini diharapkan mampu membangun mata rantai usaha yang saling mendukung sehingga manfaat ekonomi dapat terus dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. [feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published