51 Peristiwa Kebakaran Hutan Terjadi di Bojonegoro
Petugas Damkar Bojonegoro berjibaku memadamkan kebakaran hutan di Bojonegoro (Foto: istimewa)

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di Kabupaten Bojonegoro. Sejak awal tahun hingga bulan September 2026, tercatat sebanyak 51 kejadian kebakaran hutan di wilayah setempat.

Data Dinas Pemadaman Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Bojonegoro menunjukkan, angka tersebut menjadi salah satu penyumbang tingginya kasus kebakaran selama musim kemarau.

Secara keseluruhan, Damkarmat mencatat 575 kejadian kebakaran hingga September 2026. Kasus terbanyak terjadi pada kategori kebakaran lahan, pekarangan, sampah, jerami, dan rumpun bambu yang mencapai 350 kejadian.

Sementara itu, kebakaran permukiman atau rumah tercatat sebanyak 40 kejadian. Adapun kebakaran hutan mencapai 51 kejadian.

Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama pada 2025. Hingga September 2025, total kebakaran yang tercatat sebanyak 243 kejadian. Saat itu, kebakaran lahan, pekarangan, sampah, jerami, dan rumpun bambu tercatat 58 kejadian, sedangkan kebakaran hutan hanya lima kejadian.

Kepala Bidang (Kabid) Damkarmat Bojonegoro Ahmad Agus Salim menjelaskan, kebakaran yang terjadi di area nonbangunan masuk dalam kategori lahan, pekarangan, sampah, jerami, dan rumpun bambu. Kategori tersebut dapat disebut sebagai kebakaran tempat terbuka.

Sementara kebakaran hutan atau lahan Perhutani dimasukkan dalam kategori tersendiri.

"Kalau lahan perhutani, sesuai informasi dari penjaga hutan sebagian besar disebabkan, dibakar oleh orang tidak bertanggung jawab," ungkap Agus, Senin (5/10/2026).

Menurut Agus, sebagian kebakaran tersebut terjadi karena masyarakat sengaja membakar sampah atau membersihkan lahan. Kondisi kemarau yang kering membuat api lebih mudah merambat ke area terbuka di sekitarnya.

"Tentu saja sangat memengaruhi, karena pembakaran sisa panen, sampah, daun, bambu kering membuat api sangat mudah menjalan ke area lebih luas," jelasnya.

Agus mengimbau masyarakat tidak membakar sampah, sisa hasil pertanian, daun kering, maupun rumpun bambu selama kondisi kemarau. Sebab, api dapat dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan.

"Karena musim kemarau saat ini sifatnya benar-benar kering sehingga api akan mudah membesar dan pasti sulit ditanggulangi," pungkasnya. [riz/mad]