Fotografer: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Musim kemarau kerap menjadi tantangan bagi petani dan peternak. Ketika rumput semakin sulit ditemukan, kebutuhan pakan ternak tetap harus terpenuhi. Di sisi lain, sisa tanaman setelah panen sering kali dibakar untuk membersihkan lahan.
Namun, bagi Lamidi (39), petani asal Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, limbah pertanian justru dimanfaatkan. Daun kacang tanah kering dimanfaatkan sebagai campuran pakan domba, sedangkan kotoran ternak dikumpulkan untuk diolah menjadi pupuk kompos.
Upaya tersebut menjadi bagian dari Program Petani Hutan Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang dikembangkan Pertamina EP Cepu (PEPC) JTB Field. Program ini mendorong masyarakat di sekitar wilayah operasi Gas Processing Facility (GPF) JTB untuk mengoptimalkan potensi lokal sekaligus mengurangi praktik pembakaran liar limbah pertanian.

Kandang Budidaya Domba di Dusun Poh Wayang, Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem. Peternakan ini menjadi bagian dari Program Petani Hutan JTB yang dikelola melalui Koperasi Produsen Rimba Tani Sejahtera, Kamis (15/10/2026). (Foto: blokBojonegoro.com/Rizki Nur Diansyah)
Di Dusun Poh Wayang, Kamis (15/10/2026), aktivitas peternakan berlangsung di sebuah kandang yang mampu menampung sekitar 50 ekor domba. Di tempat tersebut, Lamidi bersama anggota kelompoknya mengembangkan usaha peternakan sekaligus memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Bagi Lamidi, pemanfaatan limbah pertanian menjadi salah satu alternatif untuk menghadapi keterbatasan pakan saat musim kemarau. Daun kacang tanah yang telah mengering dikumpulkan dan digunakan sebagai campuran pakan ternak.
Sebelumnya, sisa tanaman setelah panen kerap dianggap sebagai sesuatu yang harus disingkirkan dari lahan. Membakarnya menjadi salah satu cara yang biasa dilakukan masyarakat agar lahan lebih mudah dibersihkan sebelum kembali ditanami.

Peternak memberi makan domba yang dipeliharanya di Dusun Poh Wayang, Desa Bandungrejo. Daun kacang tanah kering dimanfaatkan sebagai campuran pakan untuk membantu memenuhi kebutuhan ternak, terutama ketika rumput segar sulit didapatkan, Kamis (15/10/2026). (Foto: blokBojonegoro.com/Rizki Nur Diansyah)
“Dengan pakan ternak dari limbah pertanian, domba-domba kami tumbuh dan berkembang dengan baik. Jadi, saat musim kemarau, kami tidak terlalu resah lagi memikirkan pakan ternak,” tutur Lamidi.
Ayah dua anak itu mengaku, sebelum mengikuti program pemberdayaan masyarakat di sekitar proyek JTB, sisa tanaman setelah panen kerap dibakar untuk membersihkan lahan.
Melalui Program Petani Hutan JTB, Lamidi bersama petani lainnya mendapatkan pelatihan untuk memanfaatkan limbah pertanian agar memiliki nilai guna.

Domba memakan pakan yang diberikan peternak. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai campuran pakan menjadi salah satu upaya mengoptimalkan sumber daya lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pada rumput segar, Kamis (15/10/2026). (Foto: blokBojonegoro.com/Rizki Nur Diansyah)
Pemanfaatan limbah pertanian tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi pembakaran sisa panen. Selain berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, pembakaran di sekitar wilayah operasi migas juga memiliki risiko terhadap fasilitas perusahaan.
Head of Communication, Relation & Community Involvement & Development (Comm.Rel & CID) Zona 12, Agung Yunito Yahya, menjelaskan, program pemberdayaan tersebut berangkat dari persoalan yang dihadapi masyarakat dalam mengelola lahan pertanian.
Sebagian petani hutan di sekitar area GPF JTB menggantungkan penghidupan pada lahan garapan di kawasan hutan. Setelah panen, limbah pertanian kerap dibakar agar lahan lebih mudah dibersihkan.
Menurut Agung, pendekatan pemberdayaan ini berupaya mempertemukan kepentingan lingkungan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Petani tidak hanya didorong meninggalkan kebiasaan membakar limbah, tetapi juga diperkenalkan pada cara mengolahnya agar menghasilkan manfaat.

Perwira Pertamina EP Cepu JTB Field memberikan pakan kepada domba saat mengunjungi Kandang Budidaya Domba, Program Petani Hutan JTB di Desa Bandungrejo, Kamis (15/10/2026). (Foto: blokBojonegoro.com/Rizki Nur Diansyah)
Pemanfaatan sumber daya di peternakan tersebut tidak berhenti pada limbah pertanian sebagai campuran pakan. Kotoran domba yang dihasilkan dari kegiatan pemeliharaan juga dikumpulkan untuk diolah menjadi pupuk kompos.
Setiap pekan, kotoran domba dari kandang dikirim ke rumah produksi kompos. Pengelolaan tersebut menjadi bagian dari upaya memanfaatkan hasil samping peternakan agar tidak sekadar menjadi limbah.

Lamidi mengumpulkan kotoran domba di Kandang Budidaya Domba. Kotoran ternak tersebut, selanjutnya dibawa ke rumah produksi untuk diolah menjadi pupuk kompos, Kamis (15/10/2026). (Foto: blokBojonegoro.com/Rizki Nur Diansyah)
Associate Community Relation & CID Zona 12, Bedhah Adityo Nugroho, menjelaskan bahwa peternakan domba dikembangkan melalui kemitraan antara koperasi dan anggota yang bertugas merawat ternak.
Pada awal pengembangan, jumlah domba yang dipelihara sebanyak 15 ekor. Setelah berjalan sekitar satu tahun, jumlahnya bertambah menjadi 23 ekor.
Dalam skema kemitraan yang disepakati secara tertulis, pembagian hasil usaha ditetapkan sebesar 40 persen untuk koperasi dan 60 persen bagi anggota yang merawat domba.
Selain mengembangkan peternakan, Program Petani Hutan JTB juga mencakup produksi kompos dan media tanam, pertanian hortikultura, hingga pengeringan jagung.

Anggota Koperasi Produsen Rimba Tani menunjukkan hasil olahan kompos dari Kandang Budidaya Domba, Kamis (15/10/2026). (Foto: blokBojonegoro.com/Rizki Nur Diansyah)
Andestara Anggara Putra dari Alas Institute, selaku mitra pendamping program, menjelaskan bahwa pemanfaatan potensi lokal menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat.
Berdasarkan data capaian Program Petani Hutan JTB tahun 2026, pengolahan limbah pertanian menjadi kompos tercatat mencapai 2,1 ton per bulan. Penjualan kompos dan media tanam menghasilkan pendapatan sebesar Rp52 juta per tahun.
Sementara itu, kegiatan pertanian hortikultura mencatat pendapatan Rp6,5 juta per musim. Program tersebut, juga telah menjangkau 134 penerima manfaat langsung dan 837 penerima manfaat tidak langsung.
Data program mencatat praktik pembakaran hutan dan lahan di wilayah sasaran mengalami penurunan sebesar 75 persen selama periode 2021–2025.

Perwira Pertamina EP Cepu JTB Field, Bedhah Adityo Nugroho meninjau rumah produksi kompos yang merupakan bagian dari Program Petani Hutan JTB di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kamis (15/10/2026). (Foto: blokBojonegoro.com/Rizki Nur Diansyah)
Andes berharap, program tersebut dapat terus mendorong masyarakat mengembangkan kegiatan ekonomi produktif sekaligus mengurangi praktik pembakaran limbah pertanian di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Meski demikian, keberlanjutan manfaat program tetap bergantung pada kemampuan kelompok dalam menjaga produksi, memperluas pemasaran, dan mengelola usaha secara mandiri. [riz/mad]