Final Lomba Senam PGRI Kabupaten Bojonegoro berlangsung meriah pada Sabtu (23/5/2026) di Pendopo Malowopati. Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.
Menjelang penutupan pengumpulan naskah pada 16 Mei 2026, antusiasme masyarakat dalam agenda “Crowdsourcing 100 Ide Pendidikan untuk Bojonegoro” yang digagas INSPIRA RISBO terus meningkat. Program ini membuka ruang bagi warga untuk menyumbangkan gagasan dan solusi bagi dunia pendidikan di Bojonegoro.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro hari ini menggelar upacara peringatan Hari Otonomi Daerah (Otoda) ke-30 dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 di halaman Gedung Putih Pemkab Bojonegoro. Upacara berlangsung khidmat dan menjadi momentum memperkuat komitmen pembangunan daerah melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan tata kelola pemerintahan, Kamis (7/5/2026).
Pada setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional, kita biasanya disuguhi deretan capaian, program baru, dan optimisme tentang masa depan pendidikan. Namun tahun ini, ada satu pertanyaan yang layak diajukan secara jujur: ketika program studi (prodi) ditutup karena dianggap tidak relevan dengan dunia industri, apakah kita sedang menyelamatkan pendidikan atau justru mempersempitnya? Pertanyaan ini penting, sebab ia menyentuh inti dari arah kebijakan pendidikan tinggi kita hari ini.
Hari ini, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tentu, momentum ini diperingati tidak serta merta luput dari tujuan. Salah satunya, bagaimana memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Isu ketahanan pangan kini tak lagi hanya dibahas di ruang kebijakan, tetapi mulai masuk ke ruang-ruang diskusi publik hingga sekolah. Hal itu tampak dalam forum “Ngaji” (Ngobrol Asyik Jengker Demokrasi) edisi ke-54 yang mengangkat tema peluang baru SMK dalam program ketahanan pangan, Selasa (28/42026) malam.
Sebentar lagi Kita akan sama-sama melakukan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Mei 2026. Ini harusnya menjadi momentum krusial bagi bangsa Indonesia untuk merefleksikan kembali esensi semboyan Tut Wuri Handayani di tengah dinamika global yang menuntut kreativitas tanpa batas. Namun, di balik seremonial tersebut, dunia pendidikan kita masih dibayangi oleh tantangan besar berupa sistem pendidikan yang sangat homogen. Homogenitas ini merujuk pada sebuah struktur kurikulum, standar evaluasi, metode pengajaran, hingga kebijakan administratif yang diseragamkan secara kaku dari pusat hingga ke daerah pelosok.
Pada momen hari pendidikan nasional (Hardiknas) tahun 2025, Pemkab Bojonegoro menyerahkan beasiswa kepada mahasiswa di Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan yang dirangkai dengan Hari Otonomi Daerah ini digelar di pendapa Malowopati Pemkab Bojonegoro, Jumat (2/5/2025).
Sebanyak 9 siswa Sekolah Dasar (SD) di Temayang jatuh pingsan, saat mengikuti upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Selasa (2/5/2017).
Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tahunnya tanggal 2 Mei. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Bojonegoro menuntut pemerintah kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, agar bukan hanya diperingati sebagai seremonial semata, melainkan internalisasi amanat pendidikan.