20:00 . Akhir Ramadan, Pasar Sumberrejo Buka Pagi Sampai Malam   |   19:00 . Waqaf 10.000 Al-Qur'an GP Ansor Sumberrejo Mulai Didistribusikan   |   18:00 . Perkuat Kerukunan Pemuda Lewat Berbagi Takjil   |   17:00 . 1 Huruf Sama Dengan 10 Kebaikan   |   15:00 . Kanor-Rengel Bakal Tersambung   |   14:00 . Dibangun Jembatan, Penyedia Jasa Perahu Tambangan Sambut Positif   |   13:00 . Harga Ikan Laut di Pasar Bojonegoro Melambung   |   11:00 . Usai Lebaran, Kelulusan SD Baru Diumumkan   |   10:00 . Nilai UN Tidak Jadi Prioritas Penerimaan Siswa Baru   |   09:00 . Besok, PPDB Online SMP Mulai Dibuka   |   08:00 . Saat Malam Ramadan, Lapangan Kecamatan Sumberrejo Bak Pasar Malam   |   07:00 . Teh Manis Buat Buka Puasa, Sehat Nggak Sih?   |   06:00 . Khotmil Quran Mahasiswa Kesehatan   |   05:00 . Pondok Jurnalistik Bersama LPM Kampus Ungu   |   21:00 . Relawan Cinta NKRl Kutuk Petualang Politik Rongrong Wibawa Pemerintah   |  
Mon, 27 May 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Tuesday, 15 August 2017 12:00

Serpihan Agresi Militer Belanda II di Tuban-Bojonegoro (12)

Belanda Kuasai Jalan Bojonegoro-Babat

Belanda Kuasai Jalan Bojonegoro-Babat

Lubang-lubang dan batang-batang pohon pohon sengaja dipasang malang melintang  pada jalan Bojonegoro - Babat, agar tentara Belanda dengan kendaraanya susah melintasi jalan tersebut.

Reporter: Parto Sasmito, Tim Investigasi


blokBojonegoro.com -
Belanda berhasil menguasai kota-kota penting, selanjutnya, jalan besar yang mengubungkan Gresik-Lamongan-Bojonegoro-Cepu juga dikuasai. Pada tanggal 27 Januari 1949, tentara negeri Kincir Angin tersebut mendirikan pos tetap di Kecamatan Sukodadi yang berada di 12 km barat Lamongan.

Keingingan Belanda untuk mengusasai jalan Bojonegoro-Babat sepanjang 38 km, dilakukan dengan menggerakkan sepasukan dari Babat menuju ke barat pada 2 Februari 1949. Namun, di bagian timur Baureno, kompi Atrum telah membuat pertahanan pada tempat yang tinggi di kanan dan kiri jalan besar.. Pertempuran terjadi dan membawa korban dari lawan. Akan tetapi, kekuatan musuh terlalu besar sehingga mereka bisa terus maju hingga berhasil merebut jembatan Semarmendem yang sudah hancur diledakkan di 1 km timur Baureno.

[Baca juga: Pos Pertahanan Koro dan Ranjau Pejuang di Jatigembol ]

"Halang rintang telah kita siapkan. Pohon-pohon besar malang-melintang di jalan. Lubang-lubang lebar pada jalan sebagai rintangan terhadap kendaraan bermotor sudah dibuat dan jembatan-jembatan sampai yang pendek pun sudah berantakan jatuh di dasar sungai," Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe, Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe 1984: 278.

Setelah Belanda melewati Sumberrejo dan tiba di jembatan Besuki yang sudah rusak, terjadi pertempuran sekitar setengah jam. Seksi Supandi yang menghadang bersama Serma Suharto yang memimpin regu Sanyoto dan regu Pakrus, memberikan perlawanan di tempat datar dan terbuka.

Akhirnya Suharto terpaksa mundur bersama pasukannya ke utara jalan dengan meninggalkan Pratu Kaswin yang telah gugur jenazahnya tak sempat diselamatkan.

Sejak saat itu, tanggal 2 Februari 1949 jalan besar Babat-Bojonegoro berhasil direbut dan dikuasai oleh Belanda. Kemudian mereka mendirikan pos-pos tetap mulai dari Baureno, Sumberrejo, Kapas, juga di jalan Cepu-Bojonegoro dengan pos-pos di tepi jembatan Purwosari, Kalitidu, Kalipang dan Jetak. Kota Padangan juga dijadikan sebagai tempat komando pleton.

Selanjutnya, Belanda mulai membersihkan batang-batang pohon yang ada di jalan, serta menutup lobang-lobang di sepanjang jalan yang sebelumnya dibuat oleh pasukan gerliya.

Belanda Menduduki Dander

Meski sudah mengasai jalan Bojonegoro-Babat, Belanda masih merasa belum aman. Sehingga masih mereka berupaya menambah pos lagi menuju pedalaman. Tujuannya, agar mempersempit gerak pasukan gerliya pribumi.

Sisa kekuatan batalyon Basuki Rakhmat ditambah pasukan gabungan beekekuatan satu kompi lebih mengambil posisi pertahanan di desa-desa selatan dari Desa Wedi, Sembung, Pacul, Ngumpakdalem sampai Somodikaran untuk melawan pasukan Belanda yang telah menguasai jalur utama Surabaya-Lamongan hingga Cepu. Komando brigade mengambil kedudukan di Desa Mojoranu dan Komando Batalyon di Desa Bendo.

Belanda telah melakukan patroli-patroli pertempuran ke desa-desa selatan Bojonegoro, mulai dari kalianyar, Wedi, Kendal dan lainnya. Pada saat patroli, terjadi 'Pertempuran Perjumpaan' dengan pasukan gerliya, yakni Seksi Suwolo di Desa Kendal yang ada di utara Desa Ngumpakdalem, tepatnya 11 Februari 1949 pagi hari. Pada peristiwa tersebut, Letmuda Suwolo gugur. [ito/mu]

Bersambung....

 
Sumber: Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe, Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe,

Tag : agresi, militer, belanda, bojonegoro, tuban

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Friday, 24 May 2019 13:00

    Apprentice Program PEPC 2019

    Akan Ditutup, Pendaftar Beasiswa Diploma Membludak

    Akan Ditutup, Pendaftar Beasiswa Diploma Membludak Beberapa jam lagi menjelang penutupan pendaftaran, jumlah pelamar beasiswa pendidikan diploma guna menjaring Calon Operator Proyek Jambaran-Tiung Biru yang dikelola oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC). Hingga Jumat (25/4/2019) pagi...

    read more