18:00 . Jamaah Haji Bojonegoro Bakal Diberangkatkan Mulai 31 Juli   |   17:00 . Puluhan CJH Bojonegoro Termasuk Kelompok Risti   |   16:00 . Jelang Idul Adha, Harga Cabai Merangkak Naik   |   15:00 . Musim Kemarau, Disnakkan Klaim Petani Ikan Sudah Panen   |   14:00 . Laga Kontra Arema Malang United Jadi Uji Coba Terakhir Persibo   |   13:00 . DPD AGPAII Bojonegoro Resmi Dikukuhkan   |   12:00 . Perkuat Pengembangan Operasional Kilang Nasional, Pertamina Gandeng 5 PTN   |   11:00 . Penetapan Caleg Tepilih, KPU Hanya Diberi Waktu Lima Hari   |   10:00 . Ratusan Guru PAI se-Bojonegoro Ikuti Pembinaan dan Halal Bihalal   |   09:00 . Cinta NKRI, Urus KTP Diusia Senja   |   08:00 . Abimanyu Dilantik Jadi Pj. Sekda Bojonegoro   |   07:00 . Mau Naik Haji? Periksa Kesehatan Ini Sebelum Berangkat   |   22:00 . Awak Media Diminta Keluar Saat Liput Pelantikan, Ini Alasan Bupati   |   21:00 . Bupati Resmi Lantik Pj Sekda Bojonegoro   |   20:00 . Pj Sekda Bojonegoro Resmi Dilantik   |  
Sat, 20 July 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Tuesday, 02 July 2019 14:00

Liburan dan Konsistensi Belajar

Liburan dan Konsistensi Belajar

Oleh: Usman Roin *

Hadirnya liburan semester kali ini tentu menyisakan pertanyaan sekaligus kekhawatiran mendalam orang tua terhadap anak-anaknya. Pertanyaan itu adalah, selama liburan apa yang akan dilakukan oleh anak-anak? Sedangkan sisi kekhawatirannya, apakah liburan mereka hanya habis di depan layar ponsel!

Dua hal di atas tentu menjadi pemikiran mendalam bagi kita “orang tua” yang respek terhadap tumbuh, kembangnya anak. Libur sekolah satu sisi menjadi bentuk solusi “istirahat” dari kejenuhan yang melanda pikiran anak. Sisi yang lain adanya liburan juga merupakan salah satu cara terbaik untuk meredakan kepenatan dari rutinitas pembelajaran. Gambarannya, seperti men-charge kembali baterai kosong untuk kemudian memunculkan semangat baru setelah keluar dari aktivitas normal.

Hanya saja, idealitas tersebut ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Jauh panggang dari api sebagaimana kata pepatah. Karena kebanyakan anak-anak memaknai liburan sekolah hanya dengan memperbanyak tidur, bermalas-malasan dan menghabiskan waktunya dengan cara bermain serta duduk manis di depan layar ponsel hingga televisi. Tentu hati kecil kita sebagai orang tua jelas tidak rela bila anak-anak hanya melakukan hal-hal tersebut. Selain kurang produktif hanya akan memunculkan kebiasaan buruk dengan tidak bisa mengisi liburan dengan tetap mengedepankan belajar.

Terkait keberadaan ponsel bagi penulis bukanlah perangkat yang benar-benar tidak diperlukan oleh anak, melainkan bagi mereka ponsel memberi manfaat selain untuk mencari informasi edukatif, juga sebagai alat komunikasi. Hanya saja, tujuan idel tersebut hanya sekian persen yang mafhum, yang tidak mafhum jauh lebih banyak. Fakta yang ada, cara instan, termudah, untuk mendiamkan anak adalah dengan mengasihkan ponsel pada mereka.

Jika demikian adanya, mengisi liburan dengan tetap belajar adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh anak. Tujuannya, agar anak (yang statusnya sebagai pelajar) terkontrol, tetap dalam nuansa belajar meski liburan, sehingga aktivitas yang kurang produktif bisa ditekan dialihkan pada hal positif.

Untuk mewujudkan hal tersebut, bagi penulis ada beberapa hal yang bisa orang tua agar anak tidak mengalami ketergantungan dengan ponsel dan tetap konsisten untuk belajar, antara lain:

Pertama, orang tua perlu memberi kegiatan produktif anak. Semisal dengan memberi tantangan menghatamkan buku baru saat liburan, sehingga waktu yang dimiliki oleh anak tidak sepenuhnya dihabiskan untuk bermain game lewat ponsel. Hal ini sebagaimana pengalaman orang tua Joko Susanto dan Jamilatun Heni Marfu’ah yang terbukukan berjudul “Kisah Inspiratif Keluarga Penulis” (2015), hingga mampu mencetak ketiga anaknya menjadi penulis cilik lewat kebiasaan memberi tanggung jawab membaca kepada anak-anaknya baik saat liburan hingga ketika sekolah aktif.

Hadirnya kegiatan produktif yang diberikan oleh orang tua tersebut, selain sebagai pengalih terhadap hal negatif juga untuk menstabilkan hingga meningkatkan potensi (yang kurang, sedang anak miliki) menjadi berkembang walau saat liburan. Tentu untuk mewujudkan hal ini, kuncinya ada pada orang tua. Yakni, orang tua perlu sedikit berusaha menformulasikan dengan memberi tanggung jawab yang kreatif agar saat liburan anak tetap dalam nuansa belajar meski bukan seketat saat sekolah aktif.

Ke dua, membuat hari tanpa ponsel. Ini memberi maksud, bahwa orang tua perlu melakukan kesepakatan bersama untuk tidak menggunakan ponsel sama sekali (off).  Pertanyaannya, lalu aktivitas apa yang tepat digunakan untuk mengisinya? Bagi penulis alternatif aktivitas seperti membaca bersama, berkebun bersama, dan membersihkan rumah secara gotong royong, adalah aktivitas tepat mengisi liburan agar tidak melulu berkonsentrasi melalui ponsel atau hanya melihat televisi. Justru semakin intens kegiatan tersebut dilakukan, akan menjadi solusi kreatif anak agar tidak kecanduang ponsel yang ia miliki, melainkan melahirkan hal-hal produktif untuk keluarga karena bisa mengajarkan kemandirian melakukan sesuatu.

Ke tiga, mengajak anak rajin ke tempat ibadah. Cara ini bagi penulis adalah kunci untuk mengimplementasikan pengetahuan baik agama, norma, maupun akhlak yang telah telah diterima oleh anak saat pembelajaran di sekolah. Juga sekaligus membimbingnya untuk mendahulukan panggilan ibadah dari semua aktivitas yang ada untuk ditinggalkan. Apalagi yang membawa madlorot besar sebagaimana game.

Jika dalam sehari lima waktu anak diajak ke masjid atau musala, tentu ketergantungan terhadap ponsel bisa dikikis. Apalagi bila di masjid atau musala tersebut terdapat kegiatan keremajaan, majelis taklim, tentu akan turut memperlama waktu anak tidak menggunakan ponsel. Hanya saja uswah agar anak rajin beribadah di masjid atau musalah itu kembali kepada orang tuanya. Karena dalam konsep pendidikan, orang tua tidak hanya memerintah, melainkan juga ikut serta melaksanakannya.

Ke empat, dengan cara meminta anak kelembaga kursus bahasa. Ini memberi maksud, bahwa konsistensi belajar selama liburan akan terwujudakan melalui aktivitas tambahan kursus bahasa baik Inggris maupun Arab. Manfaatnya, sebagai pendukung skill untuk menempuh jenjang pendidikan lanjutan yang penuh dengan tantangan di era 4.0.

Akhirnya, tidak terlalu susah untuk mewujudkan tindakan pembelajaran saat liburan. Kuncinya ada atau tidak upaya “muatan belajar” itu disisipkan dalam liburan yang kita lakukan. Jadi, selamat berlibur dan mengedukasi rencana liburan kita.

* Penulis adalah Mahasiswa Magister PAI UIN Walisongo Semarang, Pengurus Majelis Alumni IPNU Bojonegoro, dan Penulis Buku “Langkah Itu Kehidupan: 5 Cara Hidup Bahagia” serta Editor: Penulis Buku “Menjadi Guru: Catatan Sehimpun Guru Menulis”.



Tag : Liburan, konsistensi, belajar, anak, layar, hp, buku, literasi

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Wednesday, 17 July 2019 22:00

    KKM MI Kapas Gelar Bimtek K13 Revisi Tahun 2018

    KKM MI Kapas Gelar Bimtek K13 Revisi Tahun 2018 Kelompok Kerja Madrasah (KKM) MI Kecamatan Kapas melaksanakan Bimbingan Teknis K13 Revisi Tahun 2018 yang akan berlangsung selama 4 hari dari tanggal 17 hingga 20 Juli 2019. Kegiatan ini berlangsung...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat