10:00 . Pemkab Bojonegoro Raih Dua Penghargaan dari Kemenaker RI   |   09:30 . Lontong Kikil Ala Mak Sih   |   09:00 . Eksekutif-Legislatif Sepakati APBD 2021 Diangka 6,2 T   |   08:00 . Penting untuk Kenali Gejala Covid Sejak Awal   |   07:00 . Wajib Tahu, Ini 4 Penyebab Sperma Encer dan Solusinya   |   06:00 . Momentum HGN; dari Guru untuk Bangsa   |   05:00 . Wabup Sebut Pademi Covid Tak Pengaruhi UMKM di Bojonegoro   |   21:00 . TBM Budi Utomo Tingkatkan Budaya Literasi di Kecamatan Malo   |   20:00 . Workshop dan Pelatihan untuk Perajin Resmi Dibuka Hari Ini   |   19:00 . Wisata Gerabah Rendeng Masih Bertahan di Tengah Pandemi   |   18:30 . Update Perkembangan Terkini Covid-19 di Indonesia   |   18:00 . Sempat Pindah-pindah Tempat, Geprek ini Kebanjiran Pelanggan Setiap Hari   |   17:00 . Cegah Pernikahan Dini, 44 Mahasiswa Ikuti Pembinaan Pra Nikah   |   16:00 . Wisata Edukasi Grabah Kembali Dibuka, Begini Kondisinya di Masa Pandemi   |   15:00 . AKBP Eva Guna Pandia Resmi Jabat Kapolres Bojonegoro   |  
Wed, 25 November 2020
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Monday, 16 November 2020 16:30

Jangan Ciptakan Generasi Lupa Ingatan

Jangan Ciptakan Generasi Lupa Ingatan

Oleh: Hilal Nur Fuadi*

Sebagaimana kata pepatah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Tampaknya pepatah ini juga berlaku seiring dengan pergantian pemimpin di Indonesia. Setiap pemimpin baru, biasanya juga akan membuat sebuah kebijakan dan aturan-aturan yang baru, termasuk pergantian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang saat ini dijabat oleh Nadiem Makarim. Seusai mengusung konsep merdeka belajar dan menghapus Ujian Nasional, baru-baru ini Mendikbud yang baru membuat sebuah wacana mengenai penyederhanaan kurikulum sebagaimana yang tertuang dalam draft sosialisasi penyederhanaan kurikulum dan Assessment Nasional tertanggal 25 Agustus 2020.

Sontak wacana penyederhanaan kurikulum ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat terutama kalangan guru dan akademisi. Pasalnya, kurikulum 2013 saja implementasinya belum menyeluruh terutama untuk daerah-daerah terpencil, kini akan disederhanakan dengan konsep baru. Ditambah lagi dalam draft sosialisasi penyederhanaan kurikulum ini juga terdapat beberapa poin kebijakan untuk menyederhanakan beberapa mata pelajaran, dan salah satunya adalah mata pelajaran Sejarah. Disebutkan dalam isi draft tersebut, mata pelajaran Sejarah untuk kelas X rencananya akan digabung dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sedangkan untuk kelas XI dan XII mata pelajaran sejarah dijadikan sebagai mata pelajaran pilihan dan bukan mata pelajaran wajib. Itu artinya, siswa diberikan kebebasan memilih dan dengan kata lain, ada kemungkinan bahwa mata pelajaran sejarah tidak dipilih oleh siswa.

Hal ini menimbulkan sebuah keresahan tersendiri terutama dikalangan guru pengampu mata pelajaran sejarah, mengingat posisi mata pelajaran sejarah sangatlah penting dalam membantu membentuk karakter dan juga menanamkan rasa Nasionalisme dalam diri setiap generasi bangsa. Jika kita mau berkaca sedikit dari pernyataan beberapa tokoh besar dunia, maka kita semua akan mengerti akan arti penting sejarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt pernah mengungkapkan bahwa “The More you know about the past, the better prepared you are for the future”. Ditambah dengan pesan salah satu pendiri Republik ini sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno yang berpesan kepada setiap generasi muda melalui sebuah pesan yang dikenal dengan “Jas Merah” yang merupakan akronim dari jangan sekali-kali melupakan Sejarah. Serta masih banyak lagi ungkapan dari para tokoh yang mengingatkan akan arti penting sejarah bagi generasi muda penerus bangsa.

Mengapa peran sejarah begitu penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Karena sejarah memiliki setidaknya enam dimensi yaitu: Apa (terkait dengan peristiwa apa yang pernah terjadi pada masa lampau), Kapan (mengacu pada waktu terjadinya sebuah peristiwa), Dimana (yang menunjukkan tempat terjadinya suatu peristiwa), Mengapa (menunjuk pada hubungan sebab-akibat terjadinya suatu peristiwa), Siapa (mengarah kepada siapa saja tokoh yang terlibat dalam suatu peristiwa sejarah), serta Bagaimana (yang menunjuk pada bagaimana proses terjadinya suatu peristiwa sejarah). Dari sini kita semua bisa melihat peran penting sejarah karena selain berfungsi sebagai sebuah mata pelajaran yang tertuang dalam kurikulum pendidikan, sejarah juga memiliki fungsi yang lebih penting yaitu mengingatkan kepada setiap generasi muda tentang perjalanan hidup suatu bangsa, membuat generasi muda menghargai jasa dan perjuangan para pahlawannya dan menanamkan rasa Nasionalisme semenjak dini kepada setiap generasi penerus bangsa.
Banyak pula yang menganalogikan bahwa belajar sejarah untuk “melawan lupa”  karena tanpa adanya sejarah, maka hampir dapat dipastikan bahwa generasi muda akan melupakan perjuangan para pendahulunya, dan generasi muda akan buta terhadap perjalanan dan perjuangan bangsa ini pada dalam proses menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan. Jika ini benar-benar tejadi, maka sesungguhnya bangsa ini sedang berada dalam sebuah masalah besar karena tidak memiliki generasi penerus yang nasionalis dan cenderung melupakan identitas dan jejak-jejak perjuangan bangsanya sendiri.

Meskipun Menteri Pendidikan telah melakukan klarifikasi dan menyatakan bahwa tidak akan ada penghapusan mata pelajaran sejarah setidaknya hingga tahun 2021, dan menyampaikan bahwa wacana penyederhanaan kurikulum masih membutuhkan pertimbangan yang matang dengan melibatkan berbagai pihak, namun tetap saja munculnya wacana penyederhanaan kurikulum telah menimbulkan sebuah keresahan dan kekhawatiran tersendiri bagi setiap orang yang peduli dengan nasib bangsa ini ke depan. Terakhir, sebelum menentukan dan mengambil sebuah kebijakan, hendaknya semua pihak harus mengingat dan memperhatikan bahwa sejarah memiliki nilai dan arti yang sangat strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena sebuah bangsa tidak akan bisa berkembang menjadi bangsa yang besar tanpa memiliki generasi muda yang berjiwa nasionalis, sejarah dapat modal berharga dalam perjalanan sebuah bangsa ke depannya karena dengan belajar sejarah kita akan mengetahui peristiwa penting yang terjadi pada masa lampau serta mengambil hikmah dan pelajaran hidup dari peristiwa yang telah terjadi dan menjadikan langkah yang diambil ke depan menjadi lebih bijaksana, sejarah berfungsi melawan lupa. Jika wacana penyederhanaan kurikulum benar-benar terjadi dan porsi mata pelajaran sejarah direduksi, maka dapat dipastikan akan lahir ribuan generasi muda yang tidak memiliki jiwa dan semangat nasionalisme serta “lupa ingatan” terhadap perjalanan dan perjuangan bangsanya sendiri. Jadi, mari kita selamatkan generasi muda dari ancaman hilang ingatan dan tidak mengenal nilai perjuangan dan identitas bangsanya sendiri.

*Penulis adalah Guru Sejarah SMA Negeri 1 Gondang, Bojonegoro

Tag : pendidikan, kurikulum, sekolah, sma, bojonegoro


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Thursday, 22 October 2020 16:00

    Sah, Anang blokTuban Lepas Lajang

    Sah, Anang blokTuban Lepas Lajang M. Anang Febri Efendi reporter blokTuban.com resmi melepas lajang. Ikrar janji suci diucapkan Anang di akad nikah pukul 09.00 WIB hari Senin (19/10/2020) di kediaman mempelai wanita. Resespsi kedua, dilaksanakan...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat