Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Malam itu, duka tak hanya datang dari kepergian seorang warga. Di Dusun Kaligede, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, duka justru berlipat ketika jalan rusak parah, sehingga memaksa jenazah ditandu sejauh lebih dari tiga kilometer, Rabu (4/2/2026) petang.
Dalam kondisi gelap gulita tanpa penerangan, keluarga dan warga setempat harus bergantian memanggul jenazah melewati jalan tanah yang licin dan berlumpur. Sebab, Ambulans yang seharusnya mengantar hingga ke rumah duka, tak sanggup melanjutkan perjalanan akibat kondisi jalan yang rusak parah.
Keluhan warga setempat disampaikan melalui sebuah video berdurasi 48 detik yang beredar luas di media sosial. Rekaman itu memperlihatkan jenazah yang telah dikafani dan ditutup kain jarik, ditandu secara manual. Menyusuri jalan becek yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki.
Dalam video tersebut, perekam terdengar mengungkapkan keprihatinannya dengan logat Jawa. Mereka mengeluhkan beratnya kondisi warga Kaligede yang harus menghadapi situasi tersebut, terutama di tengah malam yang tanpa penerangan.
“Jalan tidak bisa dimasuki mobil, motor saja kesulitan. Karena jalannya licin beralaskan tanah,” ujar salah seorang warga.
Ia menambahkan, jenazah tersebut sebenarnya hendak diantarkan ke rumah duka menggunakan mobil jenazah dari rumah sakit. Namun, kondisi yang tak memungkinkan, sehingga mengharuskan keluarga dan warga setempat, memikul secara bergantian menyusuri jalan dari tanah, dengan kondisi gelap gulita.
“Pulang dari rumah sakit, ambulans hanya bisa sampai dekat Masjid Samin (Masjid Wisata Religi). Dari situ sampai rumah, jenazah harus ditandu lebih dari tiga kilometer,” terangnya.
Menurut warga, kondisi jalan yang berlumpur, terlebih setelah hujan, membuat kendaraan roda empat mustahil untuk melintas. Situasi ini kerap menyulitkan aktivitas warga, terutama saat kondisi darurat pada malam hari.
Dikonfirmasi perihal kondisi tersebut, Kepala Desa (Kades) Meduri, Hariyono tak menampik video tersebut. Hariyono mengakui jika kondisi menuju ke Dusun Kaligede memang hanya jalan yang terbuat dari tanah, dengan medan yang sangat ekstrim di perbukitan.
“Itu jalannya ikut Perhutani, dan medannya sangat ekstrim. Desa Meduri memiliki 10 dusun, semua dusun tidak ada yang nyambung, semua terputus hutan dan sungai,” ungkap Hariyono.
Hariyono menjelaskan, pihaknya telah mengajukan permohonan untuk peningkatan status jalan. Namun, tidak ada tindaklanjut, baik dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab), Provinsi, maupun Pusat. Sehingga, pihaknya tidak bisa berkutik, untuk pembenahan jalan. Terlebih dengan sangat terbatasnya anggaran yang turun ke desanya.
“Satu Dusun Kaligede terbagi 5 kelompok pemukiman atau 5 bukit. Semua terputus sungai, semua butuh jembatan dan jalan yang layak,” tegasnya. [riz/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published