Reporter: M. Anang Febri
blokBOjonegoro.com - Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan kekuatannya sebagai daerah agraris meski dikenal sebagai salah satu pusat industri hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional. Sinergi antara sektor migas dan pertanian bahkan dinilai mampu memperkokoh posisi Bojonegoro sebagai penghasil komoditas pertanian terbesar kedua di Jawa Timur.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani saat pemaparan bersama perwakilan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di Anjungan Pameran ExxonMobil Indonesia dalam ajang Indonesian Petroleum Association Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (21/5/2026).
"Industri migas dan sektor pertanian bisa berjalan berdampingan serta saling berkolaborasi. Kami merasa sangat terbantu dengan adanya program kemasyarakatan dari ExxonMobil yang mampu ikut mendorong peningkatan produktivitas pertanian di Bojonegoro," ungkap Zaenal.
Menurutnya, tantangan utama pertanian di Bojonegoro terletak pada karakteristik tanah hitam dengan kandungan Nitrogen (N) organik yang rendah sehingga membutuhkan perlakuan khusus untuk menjaga kesuburan lahan.
"Dibutuhkan kolaborasi semua pihak untuk mendorong penggunaan bahan organik guna mengembalikan kesuburan tanah. Di sisi lain, Dinas Pertanian juga terus memberikan bantuan Alat Mesin Pertanian serta pelatihan pembuatan pupuk organik guna meningkatkan kapasitas dan kemandirian petani kita," urainya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan paparan perwakilan ExxonMobil Cepu Limited, Slamet Rijadi, terkait program Right of Way (RoW) atau pengelolaan jalur pipa minyak hulu.
Melalui Program Pertanian Ramah Lingkungan, EMCL membina petani di sepanjang jalur pipa distribusi sepanjang 72 kilometer yang melintasi Bojonegoro dan Tuban. Di wilayah Bojonegoro sendiri, tercatat sebanyak 654 petani aktif terlibat dalam program tersebut.
"Selama EMCL beroperasi, kelancaran operasional tanpa insiden di sepanjang 72 kilometer jalur pipa hulu ini dapat tercapai berkat dukungan luar biasa dari para pemangku kepentingan dan masyarakat sekitar. Melalui program kemitraan ini, EMCL, relawan, dan para petani penggarap lahan terus bersinergi agar keamanan serta keselamatan pipa sebagai Objek Vital Nasional tetap terjaga bersama," tutur Slamet.
Program pendampingan pertanian ramah lingkungan itu juga membawa dampak nyata bagi petani. Biaya pengolahan lahan berhasil ditekan hingga 25–30 persen, sementara produktivitas panen padi meningkat dari rata-rata 6,6 ton per hektare menjadi 8,1 ton per hektare.
Tak hanya meningkatkan hasil pertanian, sinergi tersebut juga dinilai efektif membangun kesadaran keselamatan operasi migas. Edukasi rutin mengenai aktivitas yang diperbolehkan dan dilarang di atas jalur pipa, ditambah pembentukan 76 Petani Pelopor, berhasil menekan potensi gangguan operasional secara signifikan.
Salah satu capaian terbaiknya ialah keberhasilan menekan kasus pembakaran sampah maupun jerami di atas jalur pipa hingga nol kasus sepanjang 2026.
Untuk menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat, program kemitraan ini juga mendorong berdirinya Koperasi Manunggal Agro Lestari yang resmi berbadan hukum pada 2025. Koperasi tersebut menjadi wadah mandiri bagi petani dalam mengelola usaha pertanian sekaligus memperkuat rantai pasok hasil panen ke depan. [feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published