Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) bergerak cepat mengamankan siklus produksi "emas hijau" daerah dengan menyediakan varietas benih tembakau bersertifikat dan berlabel resmi. Langkah strategis ini disambut gembira dan penuh antusias oleh para petani, terbukti dengan tingginya angka penyerapan benih unggul gratis yang kualitasnya dipantau ketat berbasis uji laboratorium berkala.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkor Tanaman Perkebunan DKPP Bojonegoro, Bambang Wahyudi, mengungkapkan bahwa seluruh varietas yang disediakan telah disesuaikan dengan peta kebutuhan pasar pabrikan nasional. Hal ini dilakukan demi memberikan garansi kepastian serapan hasil panen bagi para petani saat musim petik tiba.
"Kami menguji daya kecambah benih-benih ini secara ketat setiap enam bulan sekali di laboratorium. Keberhasilan hulu pertanian ini adalah prioritas kami, sehingga varietas yang kami turunkan ke lapangan seperti varietas Virginia dan Jawa," ujar Bambang saat memberikan keterangan resmi.
Hingga akhir Mei, realisasi penyaluran berjalan sangat masif. Dari total ketersediaan stok sebesar 14,5 kilogram yang bersumber dari sisa cadangan tahun lalu ditambah pengadaan baru, belasan kelompok tani telah menyerap sebanyak 8,743 kilogram benih tembakau.
Menariknya, varietas primadona baru asal Probolinggo, Python 4, yang memiliki daya pikat tinggi di pasar industri langsung habis tak tersisa dari kuota stok 3,5 kilogram. Sementara varietas andalan lainnya, K326, kini hanya menyisakan 460 gram dari stok awal 2,03 kilogram.
Saat ini sisa stok benih tembakau di DKPP berkisar di angka 5 kilogram, didominasi oleh varietas Jawa (seperti Rejep Gagang Sidi, Grompol Jatim, Kasturi 2, dan Jinten pak pie) yang secara kultural terkonsentrasi di wilayah tertentu seperti Kecamatan Temayang, Bubulan, Purwosari,, dan Tambakrejo.
Sisa stok ini juga dipersiapkan untuk mengantisipasi permintaan dari wilayah sentra lain seperti Kecamatan Kepohbaru, Kedungadem, Baureno, dan Sukosewu. Petani di wilayah-wilayah tersebut saat ini sengaja menunda pengambilan benih karena sedang menuntaskan masa panen komoditas sebelumnya sebelum mendirikan bedengan semai tembakau baru.
Lebih lanjut, Bambang menjelaskan bahwa pada musim tanam tembakau tahun anggaran 2026, Pemkab Bojonegoro mematok target ambisius dengan menaikkan proyeksi luas tanam tembakau menjadi hampir 16.000 hektare, meningkat signifikan dibanding realisasi tahun lalu yang berada di kisaran 15.000 hektare lebih.
Budidaya tembakau di Kabupaten Bojonegoro terus mengalami perluasan yang masif. Dari total 28 kecamatan, saat ini tercatat sudah ada 26 kecamatan yang aktif menanam tembakau (meningkat dari periode 2023–2024 yang hanya 22 kecamatan). Hanya Kecamatan Bojonegoro Kota dan Kecamatan Kapas yang terpantau belum melaporkan adanya penanaman tembakau secara massal.
DKPP telah menerapkan formula bantuan super aman (margin of error). Setiap 1 hektare lahan dialokasikan bantuan benih tembakau sebanyak 10 gram. Dari benih sekecil biji kemangi tersebut, potensi bibit tembakau yang dihasilkan mencapai 18.000 hingga 20.000 batang siap tanam.
Padahal, kebutuhan riil petani di lapangan sebenarnya hanya berkisar 6 hingga 8 gram per hektare. Kelebihan 2 hingga 4 gram tersebut sengaja dibulatkan oleh DKPP sebagai jaminan cadangan (faktor keamanan) gratis jika petani mengalami kegagalan pada proses semai mandiri.
Kendati antusiasme petani melonjak tinggi, DKPP memberikan catatan terkait tantangan iklim ekstrem berupa fenomena kemarau basah (curah hujan tinggi di sore hari) di awal musim ini. Kondisi ini sangat diwaspadai karena tanaman tembakau yang baru dipindahkan ke lahan terbuka rawan mati jika tergenang air.
Pada kasus ekstrem tahun-tahun sebelumnya, petani bahkan harus melakukan proses sulam atau tanam ulang hingga 5 sampai 7 kali. Hal tersebut memicu pembengkakan biaya operasional tenaga kerja yang cukup signifikan.
Sebagai langkah mitigasi taktis, DKPP mengimbau dengan keras agar seluruh kelompok tani selalu memperbarui perkembangan informasi cuaca dari BMKG secara berkala. "Kami meminta petani untuk terus memperbaiki manajemen tata ruang lahan. Salah satunya dengan membuat gulutan atau bedengan semai yang agak tinggi serta mengoptimalkan sistem saluran drainase mikro agar air hujan tidak menggenang dan merusak perakaran tembakau," pungkas Bambang. [mu]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published