Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Rencana pembangunan pabrik metanol di Kabupaten Bojonegoro kembali menguat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan proyek strategis tersebut akan segera memasuki tahap groundbreaking atau peletakan batu pertama sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat industri hilirisasi energi nasional.
Rencana tersebut, menyusul program Biodiesel B50 yang resmi diberlakukan mulai 1 Juli 2026 lalu. Pemerintah juga menyiapkan satu pabrik metanol lainnya di Kalimantan Timur agar kebutuhan metanol dalam negeri tidak lagi bergantung pada impor.
“Maka langkah berikut adalah kita mendorong untuk segera membangun industri metanol. Ini ada di Jawa Timur juga kita akan melakukan groundbreaking. Dan kemudian adalah di Kalimantan Timur yang merupakan bagian dari hilirisasi batu bara,” kata Bahlil Lahadalia, dikutip dari CNBC Indonesia saat Peluncuran Mandatori B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta–Cikampek.
Menurut Bahlil, kebutuhan metanol nasional saat ini mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun. Karena itu, pembangunan industri metanol di dalam negeri dinilai menjadi langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel secara mandiri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa pabrik metanol di Bojonegoro akan memanfaatkan gas alam sebagai bahan baku utama melalui teknologi steam reforming. Sementara proyek serupa di Kalimantan Timur akan menggunakan batu bara kalori rendah melalui proses gasifikasi.
“Kalau Bojonegoro menggunakan gas alam dengan teknologi steam reforming,” kata Eniya.
Di Kabupaten Bojonegoro, proyek tersebut direncanakan berdiri di kawasan hutan Perhutani seluas sekitar 5.130 hektare yang berada di wilayah RPH Sawitrejo, Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem.
Dari total luas lahan tersebut, sekitar 130 hektare akan dimanfaatkan untuk pembangunan kawasan pabrik, sedangkan sekitar 5.000 hektare lainnya disiapkan sebagai lahan budidaya sorgum sebagai bahan baku pendukung.
Meski pemerintah pusat telah menyampaikan rencana groundbreaking, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mengaku hingga kini belum menerima kepastian jadwal pelaksanaan peletakan batu pertama tersebut.
Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Bojonegoro, Yudhistira Ardhi Nugraha, mengungkapkan proses proyek masih berada pada tahap penyelesaian perizinan penggunaan kawasan hutan.
“Untuk rencana groundbreaking belum ada informasi. Sejauh ini informasi yang kami terima masih proses perizinan terkait penggunaan lahan hutan,” ungkap Yudhistira, Rabu (15/7/2026).
Untuk diketahui, Pabrik metanol yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) ini diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp22,8 triliun dan akan dioperasikan oleh PT Butonas Petrochemical Indonesia (BPI).
Sebagai bentuk dukungan terhadap proyek tersebut, Kementerian ESDM telah mengalokasikan pasokan gas dari Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB) sebesar 90 MMBTU untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik. [riz/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published