Pengirim: Usman Roin *
blokBojonegoro.com - Perpustakan Unugiri, kembali mengadakan kegiatan Ketemu Penulis Batch#2, sekaligus membedah karya terbaru berupa novel berjudul “Tidak Pulang, Tidak Menyerah: Kisah Nyata Si Kembar Membangun Mimpi di Jakarta”. Bedah karya digelar Kamis (16/7/26) di Pojok Statistik, Ruang Perpus.
Hadir penulis buku Lilik Budi Witoyo yang juga seorang manajer di salah satu BUMD Pemkab Bojonegoro, dan juga pemantik Nanang Fahrudin yang merupakan Pemimpin Umum Mastumapel.com.
Direktur Kelembagaan, Alumni dan Kemahasiswaan Unugiri M. Tsaqibul Fikri, mengatakan bahwa kegiatan ini penuh spirit antusiasme kehadiran mahasiswa meski di hari libur. “Dengan penuh semangat panjenengan, ini hari libur tapi, sepertinya tidak libur,” ungkapnya.
Fikri juga menambahkan bahwa perpustakaan Unugiri banyak memberikan kegiatan dan energi positif untuk literasi. Sehingga ketika sudah lulus, mahasiswa diharapkan akan suka literasi. Lewat kegiatan ini menunjukkan bila mahasiswa Unugiri tidak lepas dari bahan bacaan literasi baik akademik maupun non akademik.
“Ada non fiksi dan fiksi yang kini akan dibedah sebagaimana kata penulis, nyata tetapi ada fiksinya,” imbuhnya.
Fiksi yang Nyata
Sementara, Lilik Budi Witoyo dalam paparan buku karyanya menjelaskan karyanya ini berawal dari sebuah cerita nyata yang kemudian menginspirasinya menulis. Cerita ini memiliki nilai kesamaan dengan kultur masyarakat Bojonegoro.
“Ada cerita yang menarik, sehingga saya tertarik untuk menuliskannya,” ulasnya.
Budi, sang penulis, menjelaskan bila buku barunya adalah novela inspiratif yang berbasis kisah nyata dengan tokoh utama Dara dan Dira (nama samaran-red) dengan tema pendidikan, kerja keras dan sebuah harapan. Kisah yang ia angkat, adalah dua wanita kembar dengan empat bersaudara dari salah satu kota ujung timur Jawa Tengah, yang merantau ke Jakarta.
Sang penulis menceritakan, bila tokoh di buku tersebut ketika sampai di Jakarta, mencari sekolah yang dibiayai oleh negara. Terlebih, di tokoh yang diceritakan adalah dua perempuan yang baru lulus SMA, kembar, di mana singkat cerita mendapat izin dari orang tua merantau di Ibu Kota.
Sesampainya di Jakarta, dua perempuan kembar tersebut melamar sekolah kehakiman mulai dari tahap administrasi hingga berbagai tes yang dilalui, namun gagal. Di sinilah cerita perempuan kembar itu menarik. Yakni, ketika gagal pilihannya adalah kembali atau bertahan dengan segala konsekuensi.
“Cara yang paling aman adalah kembali ke rumah, bertemu keluarga, nyaman dengan mereka, sarapan hingga WA-nan,” jelasnya.
Tapi Budhenya menguatkan mereka. “Jangan pulang dahulu. Tapi cobalah terlebih dahulu nduk” kata Budhenya.
Alhasil, dua perempuan tersebut mulai memikirkan apa yang bisa dilakukan agar bisa bertahan, yang dimulai dari menulis lamaran kerja dan disampaikan ke mana pada bulan pertama. Di bulan kedua, Budhenya pada suatu waktu mengajak jalan dan makan di salah satu restoran cepat saji, sembari menanyakan apakah terdapat lowongan untuk lulusan SMA, dan ternyata bisa.
Setelah bekerja, perempuan kembar ini mengumpulkan gajinya untuk membayar kuliah. Ketika melihat banyak pegawai bank yang rapi sering makan di restoran, perempuan kembar tersebut juga tidak lupa menanyakan lamaran, dan akhirnya melamar dan diterima.
“Karir yang dimiliki, tidak lepas dari nilai pantang menyerah, integritas, disiplin dan berani tidak pulang. Itulah, ringkasan buku ini,” paparnya pria yang menjabat Manajer PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) tersebut.
Dorong Literasi Bojonegoro
Sementara, Nanang Fahrudin, menyampaikan bila kegiatan yang terselenggara ini sangat inspiratif. Yakni, ikut mendorong gerakan literasi di Bojonegoro agar semakin tumbuh. Bojonegoro, kata dia, harus dikenal dengan pikiran dan buku-buku karya orang-orang Bojonegoro.
Buku karya Lilik Budi Witoyo, bagi Nanang bisa dilihat dari dua perspektif. Yakni dilihat dari proses kepenulisannya yang melalui wawancara panjang. Juga bisa dilihat dari perspektif isi novela yang mengajak pembaca pada pribadi yang pantang menyerah.
“Buku ini inspiratif dan penuh semangat pantang menyerah,” katanya.
Para peserta yang merupakan mahasiswa Unugiri memberi apresiasi pada novela tersebut. Alfindi Edo Kurnia, mahasiswa dari Prodi Teknik Informatika mengatakan terkesan dengan acara tersebut hingga excited dan berharap acara seperti ini dilakukan kembali. Apalagi, pemateri dan pemantiknya ramah.
“Saya tadi meminta tanda tangan juga dikasih,” ujar mahasiswa yang kini semester 4.
Hal senada juga disampaikan Shofa Nur Farihatuts Tsalitsah dari Prodi PAI. Ia mengatakan, bila bedah buku yang digelar menarik, kaya akan wawasan dan banyak memberi inspirasi dari sudut pandang penulis secara langsung.
“Semoga kegiatan seperti ini, terus diadakan dengan lebih banyak sesi diskusi dan tanya jawab agar peserta itu semakin memahami isi bukunya secara mendalam," pintanya.
Kegiatan temu penulis yang dimulai pukul 09.30 Wib, dihadiri oleh puluhan mahasiswa lintas prodi, yang live juga di youtube Library Unugiri.
* Pengirim Kepala Perpustakaan Unugiri
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published