Tembakau Bojonegoro Rp43 Ribu per Kilogram, Petani Masih Harap Harga Naik Lagi
Petani tembakau Desa Cengkir, Nursam memanen tembakau masa petik ketiga (Foto: blokBojonegoro.com/Rizki Nur Diansyah)

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com – Harga tembakau rajangan kering di Kabupaten Bojonegoro terus mengalami kenaikan. Memasuki petikan keempat, harga tembakau jenis Paiton Jumbo milik petani di Desa Cengkir, Kecamatan Kepohbaru, kini mencapai Rp40 ribu hingga Rp43 ribu per kilogram.

Kondisi tersebut menjadi angin segar bagi petani tembakau di tengah tingginya biaya produksi, terutama harga pupuk. Bahkan, para petani berharap harga tembakau terus naik hingga menyentuh Rp50 ribu per kilogram.

Gambaran tersebut terlihat saat Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah ikut memetik tembakau milik petani bernama Harjo di Dusun Kandangrejo, Desa Cengkir, Kecamatan Kepohbaru, dalam agenda rutin program Medhayoh edisi IX, Rabu (12/8/2026).

Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono saat memetik tembakau di Desa Cengkir, Kecamatan Kepohbaru dalam giat Medhayoh edisi ke IX (Foto: blokBojonegoro.com/Rizki Nur Diansyah)

Di lokasi, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengatakan lahan pertanian di Kabupaten Bojonegoro tidak hanya memiliki potensi pada tanaman padi, tetapi juga tembakau.

“Kita ingin membangkitkan kembali tanaman tembakau di Bojonegoro. Dan kita ingin lebih mendorong bagaimana kesejahteraan petani meningkat,” ungkap Wahono.

Menurut Wahono, harga tembakau rajangan kering terus mengalami peningkatan. Pada petikan kedua dan ketiga, harga sempat berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram. Namun, saat ini harga telah mencapai sekitar Rp40 ribu per kilogram.

Untuk mendorong harga semakin baik, Pemkab Bojonegoro juga telah berkomunikasi dengan sejumlah gudang tembakau agar menyerap hasil panen petani lokal.

”Kami sudah komunikasi dengan pihak gudang tembakau seperti Sampoerna dan Gudang Garam untuk bisa menyerap tembakau di Bojonegoro yang sebelumnya ambil di Madura,” tandas Wahono.

Sementara itu, Harjo mengaku senang bisa memanen tembakau tahun ini didampingi langsung Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro. Saat ini, ia telah memasuki petikan keempat dengan harga jual rajangan mencapai Rp40 ribu per kilogram.

Ia menyebut tembakau yang ditanam merupakan jenis Paiton Jumbo. Menurutnya, kualitas tembakau tahun ini juga lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

“Harga tahun ini hampir sama pada tahun sebelumnya. Biasanya satu pohon bisa panen hingga petik 12. Alhamdulillah tahun ini kualitasnya lebih baik dibanding tahun sebelumnya,” tutur Harjo.

Pada musim panen tahun lalu, Harjo mengaku mampu memperoleh hasil sekitar Rp20 juta. Tahun ini ia berharap pendapatannya bisa lebih besar seiring meningkatnya harga tembakau.

Namun, keuntungan tersebut masih harus berhadapan dengan tingginya biaya produksi. Harjo berharap pemerintah dapat membantu meringankan kebutuhan pupuk agar petani mendapatkan harga yang lebih terjangkau.

”Untung mrepet, pupuk e wis larang (pupuknya sudah mahal),” ujarnya.

Petani lainnya, Nursam, mengatakan panen tembakau di wilayah tersebut telah berlangsung sekitar dua pekan. Harga tembakau rajangan juga terus mengalami kenaikan sejak petikan pertama.

”Harga petik pertama tembakau rajangan dua puluh lima ribu, hingga saat ini naik terus menjasi empat puluh tiga ribu. Dibanding tahun lalu lebih mahal sekarang karena cuaca tidak hujan,” jelas Nursam.

Nursam berharap tren kenaikan harga tersebut terus berlanjut hingga mencapai Rp50 ribu per kilogram. Menurutnya, harga tersebut akan membuat hasil jerih payah petani lebih sepadan dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan selama masa tanam hingga panen.

Selain harga jual, persoalan pupuk menjadi perhatian petani. Mereka berharap pemerintah dapat mempermudah akses sekaligus menekan harga pupuk.

”Harapan kami pupuk akan lebih dipermudah dan dipermurah,” pungkasnya. [riz/mad]