Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Harga daging sapi di Kabupaten Bojonegoro melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat sejumlah pedagang daging sapi kelimpungan karena tidak hanya menghadapi kenaikan harga, tetapi juga kesulitan mendapatkan pasokan.
Harga daging sapi kelas 1 kini mencapai Rp140 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya, harga masih berada di kisaran Rp110 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut terjadi di tengah semakin menipisnya stok daging sapi di wilayah Bojonegoro. Sejumlah pedagang bahkan memilih menutup lapaknya karena tidak mendapatkan pasokan untuk dijual kembali.
Kondisi itu terlihat di tempat penampungan sementara Pasar Tradisional Kota Bojonegoro. Sejumlah lapak yang biasanya dipenuhi daging sapi segar kini tampak tutup tanpa aktivitas perdagangan.
Salah seorang pedagang, Nur Hasan, warga Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota mengungkapkan, dirinya terpaksa menutup lapak karena kesulitan memperoleh pasokan daging sapi untuk dijual kembali.
“Ya mau bagaimana lagi, harga memang tinggi, tapi kita juga kesulitan mendapatkan barang,” ungkap Hasan, Rabu (20/8/2026).
Menurut Hasan, selain harga yang terus mengalami kenaikan, daya beli masyarakat juga dirasakan menurun. Kondisi tersebut membuat pedagang semakin kesulitan mempertahankan aktivitas jual beli.
“Kondisi seperti ini mulai terjadi sejak berakhirnya Idul Adha kemarin. Sampai sekarang harga malah terus melambung tinggi,” keluhnya.
Hasan menjelaskan, saat ini harga daging sapi kelas 1 mencapai sekitar Rp140 ribu per kilogram. Sementara daging kelas 2 berada di kisaran Rp130 ribu per kilogram dan kelas 3 sekitar Rp120 ribu per kilogram.
“Kalau soal harga, setiap kelasnya berjarak Rp 10 ribu,” jelasnya.
Di tengah kondisi pasokan yang menipis, Hasan mengemukakan pedagang daging sapi di Bojonegoro sebelumnya juga sempat menghadapi banyaknya pembeli dari luar daerah.
Sejumlah pembeli disebut datang dari berbagai kota untuk mendapatkan daging sapi di Bojonegoro. Daging tersebut kemudian dijual kembali di daerah asal dengan harga yang lebih tinggi.
“Ada yang dari Surabaya, Madura, bahkan dari Jakarta. Biasanya mereka jual kembali dengan harga sekitar Rp 200 ribu per kilogram,” tutur Hasan.
Kondisi tersebut semakin membuat pasokan daging sapi di Bojonegoro sulit didapat. Pedagang lokal pun berada dalam posisi sulit karena harga beli tinggi, sementara daya beli masyarakat disebut mengalami penurunan.
Bagi pedagang, situasi tersebut membuat aktivitas jual beli tidak lagi mudah dipertahankan. Sebagian memilih menutup lapak daripada terus berjualan tanpa kepastian mendapatkan pasokan.
Hasan berharap persoalan pasokan daging sapi segera teratasi sehingga harga dapat kembali stabil. Dengan begitu, pedagang bisa kembali berjualan dan aktivitas perekonomian di pasar daging Bojonegoro berjalan normal.
“Kami berharap kondisi sulit mendapatkan daging sapi ini segera teratasi, supaya aktivitas pedagang bisa kembali normal,” pungkasnya. [riz/mad]