Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Bencana kekeringan mulai dirasakan sejumlah wilayah di Kabupaten Bojonegoro. Hingga 31 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro mencatat sedikitnya 30 desa di 13 kecamatan terdampak kekeringan dan membutuhkan bantuan distribusi air bersih.
Berdasarkan data BPBD Bojonegoro, sebanyak 5.529 kepala keluarga (KK) atau sekitar 17.559 jiwa terdampak krisis air bersih tersebut. Puluhan desa yang tersebar di wilayah selatan, barat, dan timur Bojonegoro mulai mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, mengungkapkan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan. Menurutnya, jumlah desa terdampak masih berpotensi bertambah seiring kondisi musim kemarau.
“Apabila musim kemarau terus berlangsung dan sumber air warga semakin berkurang, maka tidak menutup kemungkinan wilayah terdampak kekeringan akan semakin meluas,” ungkap Heru, Senin (31/8/2026).
Saat ini, lanjut Heru, BPBD Bojonegoro telah menerima laporan kekeringan dan permintaan bantuan air bersih dari sejumlah kecamatan. Wilayah terdampak di antaranya Kecamatan Sumberrejo, Sukosewu, Ngraho, Ngambon, Temayang, Ngasem, Margomulyo, Purwosari, Kedewan, Tambakrejo, Bubulan, Sekar, hingga Dander.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD bersama sejumlah perusahaan, lembaga, dan organisasi turut menyalurkan bantuan air bersih. Hingga akhir Agustus, telah disiapkan 311 tangki air atau sekitar 1.550.000 liter air, serta bantuan sarana pendukung lainnya.
Heru menegaskan, masyarakat maupun pemerintah desa yang mulai mengalami kesulitan air bersih diharapkan segera melaporkan kondisi tersebut kepada BPBD. Hal itu dilakukan agar kebutuhan air bersih dapat segera ditangani dan distribusi bantuan bisa dilakukan secara cepat.
“Bagi desa yang terdampak kekeringan, kami mengimbau untuk segera mengajukan permohonan bantuan air bersih melalui mekanisme yang telah ditentukan,” pungkasnya. [riz/mad]