Batik Sekar Rinambat: Dari Pemberdayaan Perempuan hingga Tempat Edukasi Yang Ramah Anak

Fotografer: Wahyu Budianto

blokBojonegoro.com - Di sebuah sudut tenang Desa Dologgede, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, goresan kuas spons berpadu dengan aroma malam panas yang menyengat dan kepulan asap tipis mengiringi tangan-tangan perempuan desa yang tekun menorehkan malam di atas kain putih. Dari sanalah lahir karya bernilai tinggi Bernama Batik Sekar Rinambat, batik dengan motif bunga merambat yang melambangkan ketekunan, harapan, dan semangat untuk tumbuh bersama.

Potret Astutik dengan di sela aktifitas membatiknya.

Batik Sekar Rinambat bukan sekadar produk kerajinan, melainkan hasil dari proses panjang pemberdayaan perempuan desa. Melalui program tanggung jawab sosial Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12, para perempuan Dologgede kini memiliki wadah untuk belajar dan berkreasi lewat Tempat Kreasi dan Edukasi (TERAS) Batik Sekar Rinambat. Tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang produksi, tetapi juga menjadi “sekolah kehidupan” di mana para ibu rumah tangga belajar mengatur waktu, mengasah kreativitas, berinovasi dalam desain, hingga memahami cara memasarkan hasil karya mereka.

Proses membatik dengan kuas busa spons diatas pola batik yang telah dibuat.

Perjalanan kelompok ini bermula pada tahun 2018, saat PEPC Zona 12 melalui proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) mengadakan pelatihan membatik bagi warga setempat. Dari kegiatan sederhana itu, tumbuh harapan baru. Para peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan membatik, tetapi juga dukungan modal berupa peralatan dan bahan produksi. Dukungan tersebut menjadi fondasi awal berdirinya kelompok Batik Sekar Rinambat, yang kini dikenal sebagai salah satu sentra ekonomi kreatif di wilayah Bojonegoro.

Astutik Berpose dengan para perempuan anggota kelompok membatik Sekar Rinambat

Astutik, ketua kelompok Batik Sekar Rinambat, masih mengingat betul masa awal perjuangan mereka. “Waktu itu kami masih ragu, apakah batik bisa benar-benar menjadi sumber penghasilan,” ujarnya sambil tersenyum mengenang. Namun seiring berjalannya waktu, semangat dan kebersamaan membuat keraguan itu berubah menjadi keyakinan. “Sekarang, alhamdulillah, berkat kerja keras dan kekompakan, kami bisa meraih omzet antara 30 hingga 70 juta rupiah per bulan,” tuturnya dengan bangga.

Detail Malam yang telah dipanaskan sebagai bahan utama batik Sekar rinambat

Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa pemberdayaan perempuan mampu menjadi penggerak roda ekonomi desa. Melalui pendampingan berkelanjutan dari PEPC Zona 12, kelompok ini mendapatkan pelatihan lanjutan, bimbingan usaha, hingga kesempatan mengikuti berbagai pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Produk Batik Sekar Rinambat pun semakin dikenal luas dengan desain khas dan penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan.

Tangan terampil para perempuan dalam proses pewarnaan batik secara manual

Namun, keberhasilan kelompok ini tak hanya diukur dari nilai omzet. Lebih dari itu, mereka telah menghadirkan perubahan sosial yang nyata. Para ibu rumah tangga yang dulunya hanya bekerja di rumah kini memiliki ruang untuk berkreasi, saling mendukung, dan berkontribusi terhadap ekonomi keluarga. Dari kegiatan membatik, tumbuh rasa percaya diri dan solidaritas di antara perempuan desa.

Astutik sedang menyiapkan kain bahan untuk diwarnai di TERAS Sekar Rinambat

Kini, Rumah Batik Sekar Rinambat berkembang menjadi pusat edukasi budaya yang terbuka untuk masyarakat luas. Hampir setiap bulan, tempat ini menerima kunjungan dari siswa-siswi taman kanak-kanak (TK) yang datang untuk belajar membatik secara langsung. Dalam suasana penuh keceriaan, anak-anak diperkenalkan pada proses kreatif membatik, mulai dari menggambar pola sederhana, mencanting dengan hati-hati, hingga mewarnai kain menggunakan bahan alami.

Astutik Bersama salah satu anggota kelompok Batik sekar Rinambat sedang memyiapkan kain yang telah di bentang untuk kemudian diwarnai.

Kegiatan ini menjadi cara menyenangkan untuk menanamkan nilai cinta budaya sejak usia dini. “Kami ingin anak-anak tahu bahwa membatik itu bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga,” kata Astutik. Menurutnya, Rumah Batik kini bukan hanya tempat produksi, tetapi juga ruang belajar yang menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal di hati generasi muda.

Tangan Astutik mengecek pola malam di bentangan kain yang siap diwarnai.

Dari tangan-tangan perempuan Dologgede, Batik Sekar Rinambat menorehkan lebih dari sekadar motif di atas kain. Ia menulis kisah tentang perjuangan, kolaborasi, dan perubahan. Tentang bagaimana sebuah inisiatif sosial mampu menumbuhkan ekonomi desa, menguatkan peran perempuan, dan melestarikan warisan budaya Bojonegoro.

Kuas busa spons yang biasanya digunakan dalam proses membatik

Dan di setiap goresan canting yang meneteskan malam di atas kain putih, tersimpan doa sederhana: agar semangat perempuan desa terus merambat seperti bunga Sekar Rinambat yang tak pernah berhenti tumbuh, menghidupi, dan memberi warna bagi sekitarnya.

Para anggota kelompok menyiapkan pewarna batik untuk persiapan kunjungan edukasi di TERAS Batik Sekar Rinambat

Mugi, Perwira Pertamina PEPC Zona 12 sedang berinteraksi dengan anak-anak pengunjung TERAS Sekar Rinambat

Suasana TERAS Batik Sekar Rinambat saat menerima kunjungan edukasi dari anak-anak TK.

Suasana TERAS Batik Sekar Rinambat saat menerima kunjungan edukasi dari anak-anak TK.