Teater Sedhet Srepet : Selayang Pandang Pertunjukan Teater Lurung Kala Bendu

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Teater Sandur Sedhet Srepet kembali menghadirkan denyut kehidupan masyarakat akar rumput melalui pentas drama berjudul Lurung Kala Bendu. Pertunjukan yang dipusatkan di Aula Lemcadika Kalianyar, Kecamatan Kapas, Bojonegoro ini disajikan dalam bentuk blabar, gaya khas pertunjukan Sandur Bojonegoro yang cair, lugu, namun sarat makna, lakon ini disutradarai oleh Oky Dwi Cahyo dengan kepekaan sosial yang kuat dan pijakan tradisi yang kokoh.

Berlatar sebuah lurung, gang sempit yang menjadi pusat interaksi warga—Lurung Kala Bendu menyingkap lapisan-lapisan persoalan hidup masyarakat kecil: utang, tekanan ekonomi, gaya hidup, dan rapuhnya relasi keluarga. Cerita bergerak perlahan namun tajam, menghadirkan potret keseharian yang terasa dekat dan akrab.

Kisah dibuka dengan Ngabdul, yang ngigau dan bermimpi di atas becak yang tak ingin pulang karena merasa dirinya akan diberikan persembahan oleh seseorang kepada siluman Buto Ijo, sebuah gambaran surealis yang memberi isyarat kegelisahan batin dan ketidakpastian hidup. Dari sini, penonton diajak masuk ke pusaran konflik utama yang berpusat pada Santoso, buruh sederhana yang hidupnya terguncang oleh utang istrinya, Darsi, kepada Bu Sugi.

Bu Sugi tampil sebagai sosok yang disegani—bahkan ditakuti—oleh warga. Dengan dalih utang sebesar 3,5 juta rupiah yang konon digunakan untuk biaya sekolah anak, Bu Sugi terus menekan Santoso agar menjual tanah keluarga. Rayuan halus bercampur ancaman menjadi senjata Bu Sugi, bukan hanya kepada Santoso, tetapi juga kepada warga lain seperti Wakidin, tukang becak yang terancam kehilangan alat kerjanya jika tak mampu melunasi utang.

Di tengah pusaran konflik itu, hadir Mbah Sumi, tokoh tua yang menjadi suara kebijaksanaan dan nurani kampung. Melalui dialognya dengan Sukidi, tukang becak, dan warga lain, Mbah Sumi perlahan membuka akar persoalan: gaya hidup Darsi yang jauh melampaui kemampuan Santoso. Pakaian, sepatu, tas, dan tuntutan hidup serba layak menjadi beban yang tak mungkin ditopang oleh penghasilan seorang buruh. Ketegangan memuncak ketika Darsi minggat selama tiga hari karena desakan agar tanah dijual, hingga akhirnya Santoso mengambil keputusan pahit: mengusir istrinya sendiri.



Tekanan Bu Sugi terus berlanjut. Bahkan ketika ia merayu Mbah Sumi agar tanah Santoso dijual kepadanya, Mbah Sumi menolak tegas—tanah sepetak itu lebih baik dirawat daripada dilepas. Namun, bayang-bayang utang dan tanggung jawab moral sebagai istri Santoso membuat posisi Mbah Sumi kian terjepit.

Tokoh lain seperti Slamet, pemilik toko burung yang juga berutang kepada Bu Sugi, menambah lapisan cerita. Ketika Slamet akhirnya membayar utangnya, kelegaan justru berubah menjadi kekhawatiran Mbah Sumi: jangan-jangan Slamet akan bernasib sama seperti Santoso dan Darsi. Sementara itu, Kampret, seorang pemuda dengan cita-cita menjadi penulis, hadir sebagai simbol harapan—generasi muda yang masih menyimpan mimpi di tengah kerasnya realitas kampung.

Melalui dialog sederhana, humor khas Sandur, dan konflik yang membumi, Lurung Kala Bendu tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga cermin sosial. Ia mengajak penonton merenung tentang utang yang tak hanya bersifat materi, melainkan juga utang moral, tanggung jawab, dan kesetiaan dalam keluarga serta masyarakat.

AKhir kata, para penikmat seni yang belum bisa hadir dan menonton pertunjukan Sabtu 27 Desember 2025 malam ini, maka nantikanlah pertunjukan Lurung Kala Bendu pada kesempatan lain yang akan datang oleh Teater Sandur Sedhet Srepet, dan rasakan kembali denyut kehidupan lurung yang sederhana, getir, namun penuh makna. [feb/mad]