Ketika Malu Jadi Penjaga Nurani
Ilustrasi malu

Oleh: Dr. Fahmi Khumaini*

blokBojonegoro.com - Era digital membawa dampak pada tsunami informasi yang muncul pada media sosial kita, baik informasi yang positif maupun negatif. Hal ini menuntut adanya filter dan sistem kontrol diri agar informasi-informasi tersebut dapat disikapi secara baik dan bijak. Di tengah arus informasi yang deras itu, ada kegelisahan yang muncul ketika kita merasa biasa saja melihat kata-kata kasar berseliweran di linimasa, mengumbar aib, berkata kasar dan umpatan, tidak malu berbuat keji dan mungkar secara terang-terangan, dan ini seperti terasa sudah menjadi hal yang lumrah. Pelan-pelan, sesuatu yang dulu dianggap tabu mulai diterima sebagai hal biasa, dan pada saat yang sama, rasa malu pun kian memudar.

Padahal, dalam hidup sehari-hari, malu sering kali menjadi pengingat paling jujur. Ia hadir sebagai bisikan kecil di dalam sanubari: Apakah ini pantas? atau Perlukah ini diucapkan? Ketika bisikan itu masih ada, sebenarnya nurani itu masih hidup. Hal inilah yang dalam hadis Nabi ditegaskan sebagai kebaikan yang selalu lahir dari rasa malu,

 الحياء لا يأتي إلا بخير 

“Malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan”

Nabi Muhammad memberi perhatian serius terhadap perasaan malu ini, beliau menyebut malu sebagai bagian dari keimanan manusia. Bukan berarti bahwa orang beriman dan mempunyai rasa malu harus selalu menunduk dan diam. Sebaliknya, iman dan rasa malu justru mengaktifkan kepekaan batin dan kontrol diri. Dalam salah satu hadis, Rasulullah bersabda,

 الحياء من الإيمان 

“Malu adalah bagian dari iman”

Secara khusus, hadis-hadis Nabi yang membahas tentang rasa malu dihimpun dalam kitab Riyadh al-Salihin, pada bab ḥayā’. Hadis-hadis itu memberi isyarat bahwa rasa malu selalu membawa kebaikan. Bahkan Nabi menegaskan bahwa rasa malu seluruhnya adalah kebaikan,

 الحياء كله خير 

Rasa malu akan selalu menjaga seseorang agar tidak melakukan perbuatan tercela, tidak merugikan orang lain, dan tidak meremehkan hak sesama. Malu, dalam konteks pengertian ini adalah kesadaran yang lahir dari dalam diri manusia yang melahirkan akhlak terpuji. Pemahaman ini dijelaskan oleh Imam Junaid al-Baghdadi, bahwa malu lahir dari kesadaran atas nikmat Allah dan keterbatasan diri. Dari kesadaran inilah tumbuh sikap hati-hati dan tanggung jawab dalam bersikap.

Ketika seseorang sadar bahwa hidupnya penuh nikmat, kesehatan, keluarga, dan sebagainya, ia akan berpikir ulang sebelum berbuat sembarangan. Bukan karena takut pada manusia, tetapi karena merasa tidak pantas mengkhianati kebaikan yang telah ia terima. Dari sanalah malu tumbuh sebagai penjaga diri, sebagaimana iman yang memiliki banyak cabang, dan malu adalah salah satunya, sebagaimana sabda Nabi,

 والحياء شعبة من الإيمان 

“Malu adalah salah satu cabang iman”

Di kehidupan kita hari ini, rasa malu sering diuji. Media sosial membuat segalanya terasa dekat dan cepat. Perasaan dan emosi bisa langsung dituliskan. Pendapat bisa langsung disebarkan. Dalam kondisi seperti ini, malu menjadi rem yang penting. Ia mengingatkan bahwa tidak semua yang kita rasakan harus diumumkan, dan tidak semua yang kita pikirkan harus diucapkan.

Rasa malu juga tidak dimaknai dalam arti mematikan keberanian. Seseorang tetap bisa bersuara, mengkritik, bahkan berbeda pendapat, tanpa harus melukai dan memaki. Rasa malu justru mengajarkan cara berbicara dengan lebih beradab, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi yang dikenal memiliki rasa malu yang sangat kuat, namun tetap tegas dalam menyampaikan kebenaran.

Pada akhirnya, malu adalah tanda bahwa hati masih hidup. Selama seseorang masih bisa merasa malu, selama itu pula nuraninya belum mati. Iman yang hidup akan melahirkan rasa malu, dan rasa malu akan menjaga manusia agar tetap menjadi manusia. [mad]

*Hasil kajian kitab Riyadh al-Salihin setiap Sabtu siang di Kantor PCNU Bojonegoro
*Penulis: Dosen di UNUGIRI Bojonegoro