Hasil Asesmen, Kemenag Latih 4.921 Guru PAI Tuntas Baca Al-Qur'an
Pelatihan pendek ketuntasan baca Al-Qur’an yang diselenggarakan Kementerian Agama

Reporter: Muhammad

blokBojonegoro.com - 4.921 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum mengikuti pelatihan pendek (short course) ketuntasan baca Al-Qur’an yang diselenggarakan Kementerian Agama. Program ini merupakan tindak lanjut atas hasil asesmen Tuntas Baca Al-Qur’an (TBQ) yang dilakukan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam pada pertengahan Desember 2025 untuk memetakan kompetensi baca Al-Qur’an guru PAI.

Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) SDM Pendidikan dan Keagamaan, Mastuki, mengatakan short course ini dilaksanakan karena ada hal urgen terkait kemampuan baca (dan tulis) al-Quran di kalangan guru PAI sekolah umum. Oleh karenanya, pelatihan ini dirancang sebagai langkah cepat untuk memperkuat kompetensi dasar guru PAI.

"Hasil asesmen Tuntas Baca Al-Qur’an (TBQ) menyebut sekitar 49%-68% kemampuan baca Al-Quran guru PAI di level pratama (basic). Hanya 13%-17% yang berada di level mahir. Tentu angka ini memprihatinkan. Pusbangkom punya tanggung jawab moral untuk menyediakan layanan yang dapat diakses guru-guru tersebut," katanya di Ciputat, Tangerang Selatan, pada kemarin.

Menurut Mastuki, rendahnya hasil asesmen tersebut menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan agama. Sebab sebagai pengajar, guru PAI dituntut memiliki kompetensi dasar yang kuat, terutama dalam membaca Al-Qur’an sebagai prasyarat dasar seseorang bisa mengajar agama.  sumber utama ajaran Islam.

"Kami punya resorces untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru PAI. Secara sarana kami punya 4 lokal smart classroom di kampus Ciputat, platform klinik pengetahuan MOOC Pintar yang dapat diikuti ribuan peserta. Makanya kami selenggarakan hybrid learning untuk memberikan akses luas pada guru PAI di seluruh Indonesia," ungkapnya.

Lebih lanjut, Mastuki menilai capaian 4.921 peserta bukan sekadar angka statistik, melainkan langkah nyata dalam memperbaiki kualitas guru PAI. Meski jumlah tersebut belum sebanding dengan kebutuhan nasional, program ini menjadi sinyal kuat bahwa peningkatan literasi Al-Qur’an guru PAI tidak boleh diabaikan.

"Namun ini bukan sekadar angka. Ini adalah pernyataan sikap. Kita sedang menghadapi alarm keras dimana 69 persen guru PAI kita masih di level dasar. Bagaimana mungkin kita bicara kualitas pendidikan agama jika fondasi literasinya belum kokoh", jelasnya.

Mastuki menambahkan, short course ini merupakan solusi jangka pendek yang harus diikuti dengan langkah lebih sistematis dan kolaboratif. Ke depan, penguatan kompetensi guru PAI perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari direktorat terkait, perguruan tinggi, hingga instansi lainnya.

"Melalui hybrid learning ini, saya ingin 4.921 peserta ini tidak hanya sekadar 'lewat'. Kalian harus naik kelas secara mandiri namun tetap terarah. Kami ingin seluruh peserta mengambil manfaat maksimal agar mampu memberikan pengajaran agama yang jauh lebih berkualitas bagi siswa-siswi di sekolah," tegasnya. [mad]