Hukum Wanita yang Haid Membawa Terjemahan Al-Qur'an?
Ilustrasi seorang wanita tengah membaca Al-Qur'an

Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas*

blokBojonegoro.com - Menurut mayoritas ulama, wanita yang sedang haid haram hukumnya membaca, menyentuh dan membawa Al-Qu'ran. 

Namun problem ini menjadi tantangan tersendiri dikalangan wanita penghafal Alquran, dimana disatu sisi mereka haram membaca, menyentuh Al-Qu'ran saat haid, di sisi lain meraka punya tanggung jawab besar, menjaga hafalannya (murajaah).

Salah satu cara wanita penghafal Al-Qu'ran untuk tetap menjaga hafalannya adalah membaca dan membawa Al-Qu'ran terjemahan. Mereka beranggapan bahwa Al-Qu'ran terjemahan itu sama seperti tafsir.

Problemnya adalah apakah anggapan itu dapat dibenarkan atau justru sebaliknya.

Dalam rangka itu, pada minggu kedua bulan Januari, Pengurus Cabang Kesan Langitan Kabupaten Bojonegoro mengadakan Bahtsul Masail. 

Diantara pembahasannya adalah tentang bagaimana hukum wanita penghafal Al-Qu'ran menyentuh dan membawa Al-Qu'ran terjemahan.

Bahsul Masail yang di adakan di PP. Darul Hikmah Balen memutuskan bahwa:

Terjemah Al-Qu'ran itu ada dua macam. Pertama Terjemah Lafdliyyah/Harfiyyah (literal) yaitu terjemahan yang memperhatikan kesesuaian dengan teks asli dalam susunan dan urutannya, sehingga mirip dengan meletakkan padanan kata di tempat aslinya. Maka terjemah yang seperti ini hukumnya tidak seperti Tafsir.
 
Kedua, Terjemah Tafsiriyah/Maknawiyyah (Interpretatif), yaitu terjemahan yang tidak memperhatikan kesesuaian dengan teks asli, melainkan yang penting adalah penyampaian makna dan tujuan dengan baik. 

Maka untuk terjemah Tafsiriyah hukumnya seperti Tafsir yakni jika huruf hurufnya lebih banyak dari Al-Qu'ran, maka bagi orang yang berhadats besar seperti wanita haid boleh menyentuh dan membawanya.

Hal ini berdasarkan referensi kitab kitab salaf, di antaranya:

قرة العين بفتاوي الشيخ اسماعيل زين ص 59 
أن ترجمة القران ذاته لايجوز فان كانت الترجمة لمعناه فهي كالتفسير فلها حينئذ حكم  التفسير فإن كانت اكثر من القرأن الفاظا جاز للمحدث حملها مع القرأن. كذلك اذا كانت مساوية فان كانت اقل من الفاظ القرأن فلا يجوز للمحدث مسها ولا حملها تغليبا للقرأن الكريم .والله اعلم

مناهل العرفان ج 2 ص 80 - 82
(تفسير الترجمة) وتنقسم الترجمة بهذا المعنى العرفي إلى قسمين حرفية وتفسيرية فالترجمة الحرفية هي التي تراعى فيها محاكاة الأصل في نظمه وترتيبه فهي تشبه وضع المرادف مكان مرادفه وبعض الناس يسمي هذه الترجمة لفظية وبعضهم يسميها مساوية والترجمة التفسيرية هي التي لا تراعى فيها تلك المحاكاة أي محاكاة الأصل في نظمه وترتيبه بل المهم فيها حسن تصوير المعاني والأغراض كاملة ولهذا تسمى أيضا بالترجمة المعنوية وسميت تفسيرية لأن حسن تصوير المعاني والأغراض فيها جعلها تشبه التفسير

Walhasil, bagi penghafal Alquran saat haid maka dianjurkan berhati hati dalam rangka menyentuh atau membawa Alquran terjemahan. Dengan melihat Alquran terjemahan itu, kalau benar benar nyata, yang dimaksud adalah terjemah Tafsiriyyah maka boleh baginya menyentuh dan membawa. Itupun dengan catatan jika huruf hurufnya lebih banyak dari Alquran. Wallahu a'lam

*Dewan perumus LBM PCNU Bojonegoro dan Ketua LBM PC KESAN LANGITAN Bojonegoro