Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Kasus pemukulan terhadap siswa SMK Diponegoro di Desa Kuniran, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro berakhir damai di kantor polisi. Dalam mediasi itu, terungkap pemukulnya bukanlah guru, namun staf tata usaha (TU) yang diberi tugas menjadi pembina Ekstrakurikuler Pramuka.
Hal tersebut, diungkapkan Kapolsek Purwosari, AKP Subeki. Menurutnya, setelah dilakukan mediasi di Polsek Purwosari. Justru orang tua yang meminta permasalahan ini diselesaikan secara damai. Dan tidak menuntut apapun dari pelaku.
“Alhamdulillah sudah dipertemukan di Polsek. Yang minta damai malah pihak ortu siswa,” ungkap AKP Subeki, Jumat (30/1/2026).
Polisi berpangkat tiga balok emas di pundaknya ini menjelaskan, yang melakukan pemukulan tersebut, bukanlah seorang guru. Namun, staf TU yang diberikan tugas untuk membina Ekstrakurikuler Pramuka di sekolah tersebut.
“Berakhir damai dan dibuatkan surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut, yang ditandangani semua pihak,” jelasnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang siswa SMK Diponegoro di Desa Kuniran, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, berinisial SW, menjadi korban kekerasan oleh oknum guru. SW mengalami luka memar di bagian punggung setelah dipukul menggunakan stik drum, lantaran tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, Senin (26/1/2026).
Salah satu anggota keluarga SW, Khalimatus Sa’diyah mengungkapkan, peristiwa tersebut terjadi saat adiknya baru kembali masuk sekolah setelah beberapa hari tidak hadir akibat kecelakaan lalu lintas.
“Pada hari Rabu, saat mau berangkat sekolah, adik saya disrempet motor, dan keesokannya udah nggak masuk sekolah, dan udah izin ke wali kelas,” ungkap Khalimatus Sa’diyah, Selasa (27/1/2026).
Sa’diyah menceritakan, setelah kembali masuk sekolah, adiknya justru mendapat hukuman berdiri. Saat hendak menjalani hukuman tersebut, tangan SW yang masih dalam kondisi sakit dipukul oleh guru, hingga membuatnya terjatuh karena kesakitan.
“Saat mau berdiri lagi, adik saya kembali dipukul. Mukulnya pakai stik drum,” ujarnya.
Akibat kejadian itu, SW memutuskan pulang ke rumah dan diantar oleh lima guru dari SMK Diponegoro, termasuk guru yang diduga melakukan pemukulan. Namun, setibanya di rumah, keluarga mengaku tidak mendapatkan penjelasan apa pun terkait alasan tindakan tersebut.
“Spontan ibu saya menangis, mengetahui anaknya dipukul di sekolah. Sedangkan, pihak guru hanya meminta maaf, dan tidak ada penjelasan apapun,” tuturnya. [riz/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published