Reporter: Muhammad
blokBojonegoro.com - Tahapan pendaftaran calon Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) periode 2026–2030 ditutup pada Jumat kemarin dan tercatat 13 orang mendaftarkan diri.
Ketiga belas pendaftar tersebut adalah Prof. Masdar Hilmy, Prof. Abdul Chalik, Prof. Khoirun Niam, Prof. Evi Fatimatur Rusydiyah, Prof. Idri, Prof. Akh. Muzakki, Prof. Siti Warjiyati, Prof. Rubaidi, Prof. Husniyatus Salamah, Prof. Nur Kholis, Prof. Mohammad Kurjum, Prof. Achmad Muhibin Zuhri dan Prof. Zumrotul Mukaffa.
Pada hari terakhir pendaftaran, sejumlah dosen dan tenaga kependidikan terlihat ikut mengantar para pendaftar menuju ruang panitia di Gedung Rektorat UINSA. Di antara pengantar bakal calon rektor itu ada pengurus Ika UINSA (Ikatan Keluarga Alumni) A. Bajuri.
"Saya datang bukan untuk mendukung salah satu calon, tapi ingin melihat prosesnya saja," ujar Bajuri.
Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) UINSA itu menjelaskan bahwa sehari sebelumnya Ika UINSA telah mengadakan Serasehan untuk menjajagi visi misi para calon rektor. “Saya sebenarnya hanya ingin memastikan berapa jumlah pendaftarnya sekaligus berdiskusi dengan masyarakat kampus. Informasi ini penting untuk kemajuan UINSA ke depan” katanya.
Bajuri mengaku cukup terkejut dengan jumlah pendaftar yang mencapai 13 orang. Sebab sebelumnya ia mendengar bahwa jumlah bakal calon diperkirakan hanya sekitar tujuh hingga delapan orang.
Sebagai mantan wartawan pada era 1990-an, Bajuri mengaku sempat melakukan diskusi informal dengan sejumlah dosen dan civitas akademika yang berada di lokasi pendaftaran. Dari percakapan tersebut, ia melihat adanya beragam pandangan di kalangan civitas akademika terkait pemilihan rektor mendatang.
“Memang ada yang pro terhadap incumbent. Tetapi dari diskusi informal yang saya dengar, arus netral dan yang menginginkan perubahan sangat kuat,” katanya.
Ia menambahkan, suasana tersebut juga terlihat dari adanya spanduk yang dibawa para pengantar bakal calon rektor. Spanduk itu bertuliskan “Calon Rektor UINSA: Guyub, Rukun, Damai, Bahagia, Seduluran Selawase.”
“Sepintas saya melihat pesan itu seperti menggambarkan harapan agar ke depan suasana kampus lebih guyub dan rukun. Tapi ini hanya pengamatan pribadi saya,” ujarnya.
Bajuri juga mengaku mendengar adanya percakapan informal di kalangan civitas akademika yang mulai memunculkan berbagai tagline terkait pemilihan rektor, seperti #wayaheganti, #gantirektor, hingga #asalbukandia.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dinamika tersebut merupakan bagian dari diskusi informal di lingkungan kampus. Menurut Bajuri, jumlah pendaftar yang mencapai 13 orang merupakan fenomena yang jarang terjadi dalam pemilihan pimpinan perguruan tinggi.
“Ini fenomena yang cukup unik. Bisa saja ini menjadi tanda adanya dinamika atau pergerakan menuju perubahan,” ujarnya.
Bajuri mengatakan akan melaporkan perkembangan tersebut kepada Ketua Umum IKA UINSA Dr. H. Ida Fauziyah untuk melihat kemungkinan menggelar kembali forum diskusi alumni.
“Apakah perlu diadakan lagi serasehan alumni dengan menghadirkan seluruh 13 bakal calon rektor UINSA, nanti akan kami laporkan terlebih dahulu kepada Ketum,” katanya. [mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published