Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Ribuan jamaah memadati Pondok Pesantren Attanwir, Desa Talun, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, dalam peringatan Haul ke-34 Almaghfurlah KH Muhammad Sholeh, Jumat (29/5/2026). Suasana khidmat terasa sejak pengajian umum dimulai dengan menghadirkan KH Najib Muhammad dari Jombang dan KH Marzuki Mustamar dari Malang.
Dalam tausiyahnya, KH Najib Muhammad menegaskan bahwa KH Muhammad Sholeh merupakan ulama besar yang memberi kontribusi penting dalam dunia dakwah dan pendidikan Islam, terutama melalui karya kitab berbahasa Jawa yang mudah dipahami masyarakat.
"KH Muhammad Sholeh adalah rijalul fikr dan rijalul ummah. Beliau banyak menulis kitab dengan bahasa Jawa agar mudah dipahami masyarakat. Meski berbahasa Jawa, insyaAllah tetap penuh keberkahan," kata KH Najib di hadapan ribuan jamaah.
Menurutnya, keikhlasan menjadi kunci utama dalam setiap amal dan doa. Meski doa yang dipanjatkan sama, nilai keberkahannya bisa berbeda karena tingkat keikhlasan masing-masing orang.
"Podo banyune ora podo regone, podo doane tapi beda ikhlase," tuturnya.
KH Najib juga menjelaskan isi Kitab Fathul Jalil karya KH Muhammad Sholeh yang membahas kemuliaan seorang guru atau mu’alimul ilmi yang mengamalkan sekaligus mengajarkan ilmu kepada umat.
"Saat Allah menciptakan manusia disebut Al-Khaliq, dan saat mengajar manusia disebut Al-Akrom. Wong alim seng ngamalne ilmu lan seng mulang ilmu iku keramat," terangnya.
Ia menegaskan bahwa meminta doa dan keberkahan kepada para ulama bukanlah hal yang keliru, sebab ulama merupakan pewaris nabi yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT.
"Kalau meminta suwuk atau doa keberkahan bukan kepada mu’alimul ilmi, itu seperti Abu Jahal modern," ujarnya.
Dalam ceramahnya, KH Najib turut mengulas perbedaan mukjizat nabi dan karomah para wali. Menurutnya, para ulama terdahulu lebih menekankan pentingnya istiqomah dibanding mengejar karomah.
"Al-istiqomatu khoirun min karomah. Istiqomah itu lebih baik daripada karomah," paparnya.
Ia kemudian mengutip dawuh ulama, “Kun tholiban istiqomah la tholibal karomah,” yang berarti jadilah pencari istiqomah, bukan pencari karomah.
KH Najib juga menyampaikan bahwa mukjizat Al-Qur’an akan tetap abadi sepanjang zaman. Karena itu, orang yang berilmu dan memberi manfaat kepada umat akan terus dikenang meski telah wafat.
"Orang baik hidupnya lebih lama daripada umurnya karena ilmunya terus dikenang dan bermanfaat," katanya.
Di akhir tausiyah, KH Najib mengajak jamaah meneladani kehidupan KH Muhammad Sholeh yang istiqomah berdakwah dan mengajar hingga akhir hayatnya.
"Mbah Yai Sholeh meninggal karena beristirahat dari lelahnya dunia. Sedangkan orang yang tidak baik itu diistirahatkan,” tandasnya.
Peringatan haul ini menjadi momentum untuk mengenang perjuangan KH Muhammad Sholeh dalam membesarkan Pondok Pesantren Attanwir sekaligus menyebarkan ilmu agama di tengah masyarakat. [feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published