Reporter: Rizki Nurdiansyah
blokBojonegoro.com - Diantaranya kekayaan alam unik dimiliki Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yakni Geosite (G-05) Kedung Lantung. Geosite ini merupakan rembesan minyak bumi (cair) di aliran Sungai Borik yang berada di Dusun Nglantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro.
Lokasinya lumayan dari pusat kota, sekitar 30 km. Perlu melalui jalanan berkelok dengan jarak tempuh kurang lebih satu setengah jam untuk ke geosite ini. Perlu lanjut berjalan kaki sedikit untuk bisa sampai lokasi yang masih tampak asri. Ada papan informasi sejarah Geosite Kedung Lantung di pintu masuk dan beberapa papan peringatan.
[Baca Juga: WISATA DAN KULINER DI BOJONEGORO JAWA TIMUR YA D'KONCO CAFE https://www.blokbojonegoro.com/2026/01/19/wisata-kuliner-di-bojonegoro-jawa-timur-ya-dkonco-cafe-saja]
Merawat lapisan sejarah membutuhkan usaha besar. Semakin melihat berbagai warisan alam yang ada di Kabupaten Bojonegoro, semakin membuktikan antara geosite satu dengan lainnya ternyata membentuk sebuah narasi besar tentang sistem petroleum Bojonegoro yang unik, kaya makna, dan kulturnya.
Geosite ini berada di Zona Kendeng. Pengendapan laut dalam di Zona Kendeng bersamaan dengan pengendapan laut dangkal di Zona Rembang. Aktifitas tektonik pada masa lampau menciptakan jaringan rekahan (fractures) pada batuan yang menjadi jalur rembesan minyak bumi (oil seepage) alami.
Melalui rekahan tersebut, minyak dari reservoir di sekitarnya meresap secara vertikal ke atas didorong oleh gaya angkat karena densitas minyak bumi lebih kecil daripada air. Pada akhirnya, minyak bumi tersebut muncul di permukaan sebagai rembesan dan dapat disaksikan langsung di Kedung Lantung.
Sesampai lokasi, perlu turun sedikit untuk melihat rembesan minyak secara langsung. Fenomena rembesan ini menciptakan spektrum warna melalui interferensi cahaya. Sehingga warna-warni seperti pelangi dapat dilihat mata manusia. Menariknya, secara kultural, rembesan minyak di Geosite Kedung Lantung ini telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat lokal untuk kehidupan sehari-hari seperti penerangan tradisional. Warga lokal menyebutnya Lintung.
Mengingat adanya rembesan minyak bumi ini, Geosite Kedung Lantung bagai memiliki 'saudara kandung' yang jaraknya kurang lebih 35 kilometer bernama 'Geosite Kayangan Api'. Bedanya, jika Kedung Lantung berupa rembesan minyak bumi, maka Kayangan Api ialah rembesan gas bumi (gas) yang terbakar di permukaan tanah kering.
Tidak hanya kekayaan alam dan kulturnya, komoditas unggulan lokal juga melengkapi perjalanan edukasi kali ini. Tim redaksi berkesempatan ngobrol singkat soal komoditas pertanian setempat dengan salah satu anggota Pokdarwis Kedung Lantung, Nabila. Mengingat struktur tanah dan iklim di Desa Drenges, jagung dan singkong menjadi komoditas unggulan di kawasan ini.
"Karena hasil pertanian di sini mayoritas jagung dan singkong, jadi olahan Marning dan Balung Kuwuk menjadi produk asli dari Desa Drenges," ujar Nabila.
Peta besar yang menunjukkan kekayaan warisan alam perlu terjaga melalui sektor pariwisata. Agar apa yang menjadi keunggulan daerah dapat terus terjaga hingga anak cucu. [riz/mu]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published