Kemarau, Sebagian Petani Cabai di Ngasem Mulai Panen
Meski musim kemarau, sebagian tanaman cabai di Desa Setren, Kecamatan Ngasem masih tampak subur. Hal itu terlihat buah cabai masih segar dan banyak.
Meski musim kemarau, sebagian tanaman cabai di Desa Setren, Kecamatan Ngasem masih tampak subur. Hal itu terlihat buah cabai masih segar dan banyak.
Masih stabilnya cabai dengan harga tinggi membuat para petani cabai di Kabupaten Bojonegoro ikut sumringah. Mereka menggap, harga cabai yang tinggi ini dinilai sebagai sebuah berkah.
Harga cabai rawit di pasaran terpantau masih cukup tinggi, hal itu membuat para petani yang menanam cabai berharap harga tersebut bisa terus naik hingga tanaman mereka siap panen.
Sebagian petani cabai di Sekar, Bojonegoro saat ini mulai diselimuti rasa was-was, sebab tanaman mereka mulai diserang hama mentek.
Pasca lebaran 2017 harga cabai rawit di sejumlah pasar di Kabupaten Bojonegoro mengalami kenaikan. Hal ini mengikuti di momen lebaran ketupat, stok menjadi minim dan harga mengalami kenaikan.
Kecamatan Sekar memang terkenal dengan tanaman cabai. Musim kemarau tahun ini sebagian petani di Dusun Dibal, Desa Deling, sudah mulai tanam cabai.
Budi, petani Desa Setren, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, lebih memilih menanam cabai daripada tembakau. Dengan alasan hasil panen cabai lebih menguntungkan.
Selain harga cabai yang mulai berangsur turun, sejumlah kebutuhan pokok lain juga ikut turun. Seperti bawang merah, sejak sepekan ini harga bawang merah juga turun. Dari yang sebelumnya dijual Rp35.000 per kilogram menjadi Rp25.000 per kilogram.
Harga cabai rawit merah terus terpantau turun. hari ini, Minggu (2/4/2017) harga cabai rawit merah dijual Rp60.000 per kilogram. Penurunan harga disebabkan stok yang mulai melimpah di pedagang.
Harga cabai rawit merah turun di pasar tradisional Bojonegoro dijual Rp80.000 per kilogram. Penurunan harga terjadi dalam tiga hari terakhir ini. Harga cabai sebelumnya atau tiga hari lalu di kisaran Rp100 ribu per kilogram.