Sering kita temui, menjelang datangnya bulan suci Ramadan, ada fenomena khususnya di Jawa, kebanyakan umat Islam, berbondong-bondong mengunjungi kuburan atau makam orang tua, famili maupun kerabat.
Salat adalah tiang agama. Ritual ibadah yang tidak boleh di gantikan dengan apapun, atau oleh siapapun. Selama orang Islam masih berakal, tidak boleh meninggalkan salat dalam kondisi apapun. Begitu pentingnya salat, jika ditinggalkan maka wajib di qadha' di lain waktu.
Deretan jamaah Mujahadah Kubro dalam rangka Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama tampak duduk beristirahat di salah satu ruas jalan sekitar Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026). Di tengah kerumunan, beberapa jamaah mengenakan peci unik dengan tinggi mencapai sekitar satu meter yang spontan menarik perhatian dan menghadirkan senyum di wajah jamaah lain.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tampak membagikan kaos kepada jamaah saat menghadiri Puncak Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama di kawasan Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026).
Sejak kemarin malam, secara bergelombang puluhan ribu jamaah Nahdlatul Ulama (NU) mulai bergeser ke lokasi utama acara Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur.
Kemenag RI menegaskan komitmennya untuk memenuhi hak tunjangan profesi guru (TPG) bagi guru yang lulus Pendidikan Profesi Guru (PPG) tahun 2025. Penegasan ini disampaikan Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama Republik Indonesia, Thobib Al Asyhar, dalam kanal YouTube Kemenag RI.
Hari-hari ini sedang viral pernyataan Prof. Dr. Kamaruddin Amin, MA, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, bahwa Kementerian Agama mendapatkan beban dalam menganggarkan kesejahteraan guru dalam pengangkatan guru yang dilakukan oleh Yayasan dan tidak melakukan koordinasi dengan Kemenag pada levelnya masing-masing. Prof. Kamaruddin menyatakan: “banyak guru yang diangkat oleh Yayasan tanpa sepengetahuan Kemenag, kemudian minta dibayar dan jumlahnya terus bertambah, tanpa ada koordinasi dengan Kemenag.”
Siang itu, beberapa hari menjelang Ramadan, kampung saya mulai ramai bukan karena pasar murah atau baliho diskon sirup, tetapi karena aroma apem, kolak, dan nasi berkat yang mengepul dari dapur-dapur. Ibu-ibu sibuk menata tampah, bapak-bapak menenteng rantang, anak-anak mondar-mandir sambil mencicipi “jatah bocoran.” Di kalender, hari itu belum puasa. Tetapi di rasa, kami sudah sedang mempersiapkan diri. Orang Jawa menyebutnya ruwahan atau megengan—sebuah tradisi menyambut Ramadan dengan doa, berbagi, dan menata batin.
Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Bojonegoro menggelar pelatihan peningkatan kompetensi konselor pada Ahad (1/2/2026) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Bojonegoro. Pelatihan yang mengusung tema “Penguatan Kompetensi Konselor ‘Aisyiyah dalam Layanan Konseling Islami” ini dirancang sebagai ruang pembekalan bagi kader agar mampu merespons persoalan keluarga dan sosial secara profesional, empatik, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.