Skip to main content

Category : Tag: Megengan


Tanya Jawab Fiqih

Puasa untuk Umat Terdahulu dan Tahapan Pensyariatan

Kewajiban puasa tidak hanya diwajibkan kepada umat Rasulullah Muhammad SAW saja. Umat-umat terdahulu pun sudah diperintahkan berpuasa, sebagaimana bunyi penghujung ayat perintah puasa, “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu,” (QS. al-Baqarah [2]: 183).

Tanya Jawab Fiqih

Berkumur Ketika Saya Sedang Puasa, Bolehkah?

Sebagaimana yang kita ketahui bersama salah satu hal yang sebaiknya dilakukan atau dihukumi sunnah ketika menjalankan wudlu adalah berkumur dengan sungguh-sungguh (al-mubalaghah).

Tanya Jawab Fiqih

Enam Syarat Batin Puasa Menurut Imam Ghozali

Puasa secara bahasa adalah menahan diri, baik dari perbuatan atau berbicara. Adapun puasa secara syara’ adalah menahan diri dari yang membatalkan menurut cara tertentu mulai dari fajar sampai tenggelamnya matahari serta di hari hari yang boleh lakukan puasa.

Tanya Jawab Fiqih

Dua Orang yang Boleh Tidak Puasa, Siapa?

Islam adalah agama yang penuh rahmat, tidak membebani umatnya dengan sesuatu diluar kemampuan. Oleh karena itu dalam kondisi tertentu, Islam memberikan keringanan (rukhsah). Termasuk disaat puasa Ramadan seseorang boleh tidak puasa dalam kondisi tertentu.

Tanya Jawab Fiqih

Coba Makanan, Batalkah Puasa Saya?

Perlu diingatkan kembali, bahwa yang membatalkan puasa itu adalah masuknya ‘ain atau benda ke dalam rongga perut. Dikecualikan bila yang masuk ke rongga perut tersebut karena lupa, tidak tahu, atau dipaksa, atau sesuatu yang sulit dipisahkan dari air liur.

Tanya Jawab Fiqih

Salat Witir, Tentang Hukum, Waktu dan Tata Caranya

Salat Witir, menurut mayoritas ulama' hukumnya sunnah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah). Ia menjadi penutup salat malam seorang muslim. Berbeda dengan mayoritas ulama', madzhab Hanafi berpandangan bahwa Salat Witir hukumnya wajib.

Tanya Jawab Fiqih

Haid Tidak Lancar, Bagaimana Jadwal Shalat dan Puasanya?

Siklus bulanan perempuan atau yang lebih dikenal dengan menstruasi kadang tiba-tiba berubah, menjadi tidak teratur, tidak lancar, menjadi lebih lama, lebih singkat, dan seterusnya. Bahkan, seringkali perempuan yang mengalaminya merasa bingung, apakah dirinya sudah boleh mandi serta menunaikan kewajibannya atau belum. Termasuk berpuasa di bulan Ramadan.

Tanya Jawab Fiqih

Ziarah Kubur Jelang Ramadan, Hukumnya?

Sering kita temui, menjelang datangnya bulan suci Ramadan, ada fenomena khususnya di Jawa, kebanyakan umat Islam, berbondong-bondong mengunjungi kuburan atau makam orang tua, famili maupun kerabat.

Kolom

Tradisi yang Menahan Ego

Siang itu, beberapa hari menjelang Ramadan, kampung saya mulai ramai bukan karena pasar murah atau baliho diskon sirup, tetapi karena aroma apem, kolak, dan nasi berkat yang mengepul dari dapur-dapur. Ibu-ibu sibuk menata tampah, bapak-bapak menenteng rantang, anak-anak mondar-mandir sambil mencicipi “jatah bocoran.” Di kalender, hari itu belum puasa. Tetapi di rasa, kami sudah sedang mempersiapkan diri. Orang Jawa menyebutnya ruwahan atau megengan—sebuah tradisi menyambut Ramadan dengan doa, berbagi, dan menata batin.

Makna Megengan Sambut Ramadan dalam Tradisi Islam di Jawa

Menjelang Ramadan, masyarakat Islam di Indonesia mempunyai tradisi sambut bulan Ramadan. Di berbagai daerah di Indonesia tradisi ini memiliki banyak versi nama. Jika di Aceh namanya Meugeng, Jawa Barat istilahnya Munggahan, di Bali Megibung dan di Jawa Timur khusunya di Bojonegoro istilah masyhurnya Megengan.