Sepak Bola dan Silaturahmi: Cerita Guru-Guru Bojonegoro-Tuban di GTK Sport Fest
Pertandingan GTK Sport Fest cabor sepak bola antara SMANESS vs SMKN 3 Bojonegoro (Foto: blokBojonegoro/M. Anang Febri)

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegori.com - Biasanya mereka berdiri di depan kelas. Menjelaskan pelajaran, memeriksa tugas, hingga mengawasi siswa yang berlarian di lapangan sekolah. Namun dalam GTK Sport Fest 2026, peran itu sejenak berubah.

Para guru dan tenaga kependidikan (GTK) dari berbagai SMA dan SMK di Bojonegoro-Tuban berganti seragam. Bukan lagi kemeja dinas atau pakaian mengajar, melainkan jersey sepak bola. Mereka turun ke lapangan Letjend. H. Soedirman Bojonegoro, berlari mengejar bola, saling memberi umpan, bahkan beradu strategi layaknya pemain profesional.

Bagi Fathul Amin Fachrudin atau yang akrab disapa Pak Didin, guru PJOK yang memperkuat tim GTK SMA Negeri 1 Sumberrejo (SMANESS), momen itu menjadi pengalaman yang tak biasa.

"Biasanya turnamen untuk anak-anak siswa. Ini baru pertama kali cabang dinas Bojonegoro-Tuban mengadakan untuk bapak-bapak. Jadi kita semua sangat excited dan sangat antusias," ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar kompetisi. Di tengah rutinitas mengajar yang padat, para guru juga membutuhkan ruang untuk bertemu dan bercengkerama dengan rekan dari sekolah lain.



"Kita tidak hanya fokus di sekolah saja. Kita juga butuh refreshing. Bisa ketemu bapak-bapak guru yang lain dan menambah silaturahmi dengan sekolah-sekolah yang lain," katanya.

Yang menarik, perjalanan tim GTK SMANESS menuju final ternyata tidak dibangun dengan persiapan panjang. Justru sebaliknya.

Saat informasi mengenai GTK Sport Fest diumumkan, mereka belum memiliki tim sepak bola yang benar-benar siap bertanding.

"Kita mendadak. Sebelumnya belum pernah latihan sepak bola, sparring juga tidak pernah. Kalau futsal iya, tetapi beda futsal dengan sepak bola," tutur Pak Didin sambil tersenyum.

Tim pun dibentuk secara spontan. Latihan dilakukan seadanya, dimulai dari bermain bersama para siswa di sekolah. Setelah itu mereka mencoba mengukur kemampuan lewat beberapa laga uji coba.

"Kita latihan dengan murid-murid dulu, kemudian sempat sparring dengan SMA Balen dan SMK Trucuk. Itu awal terbentuknya tim kami," ungkapnya.

Tak ada yang menyangka, tim yang lahir secara dadakan itu justru mampu melangkah hingga partai puncak.

"Alhamdulillah bisa sampai tembus final. Ini sudah luar biasa bagi kami," katanya usai berlaga tanding antara SMANESS lawan SMKN 3 Bojongeoro, Sabtu (13/6/2026) lalu.

Cerita serupa juga dirasakan Fauzan, salah satu peserta cabang sepak bola asal SMKN 3 Bojonegoro. Baginya, GTK Sport Fest memberikan ruang yang selama ini jarang dimiliki para guru pecinta olahraga.

"Sangat bagus sekali. Ini wadah untuk bapak-bapak yang punya hobi sepak bola. Jadi tidak harus terus di depan meja, di ruang guru, atau di kelas," ujarnya.

Menurut Fauzan, kegiatan seperti ini bukan hanya untuk mereka yang terbiasa bermain sepak bola. Bahkan guru yang sebelumnya jarang berolahraga pun terdorong untuk ikut bergerak dan menjaga kebugaran.



"Ini kegiatan yang sangat positif. Bapak-bapak yang mungkin sebelumnya belum pernah bermain, akhirnya juga bisa ikut olahraga," kata guru produktif Teknik Pemesinan ini.

Di tengah persaingan yang berlangsung, ada satu hal yang lebih penting daripada skor pertandingan. Lapangan hijau menjadi tempat bertemunya para guru yang sebelumnya hanya saling mengenal nama sekolah. Mereka kini saling menyapa, bercanda, dan membangun persahabatan baru.

Mungkin itulah kemenangan sesungguhnya dari GTK Sport Fest 2026.

Bukan tentang siapa yang mengangkat trofi, melainkan tentang para guru yang menemukan kembali kegembiraan sederhana: berlari bersama, tertawa bersama, dan pulang membawa cerita untuk dibagikan kepada murid-murid mereka keesokan harinya.

Karena sesekali, guru juga perlu bermain. [feb/mad]