Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas*
blokBojonegoro.com - Sebagaimana diketahui di dalam sejarah, bahwa hijrah Nabi Muhammad SAW, sebenarnya dimulai dari baiah aqobah dua, yang terjadi pada bulan Dzulhijjah, tahun ketigabelas kenabian. Dimana orang yasrib (Madinah) siap melindungi dan berjuang bersama Rasulullah, sekaligus memberikan jaminan keamanan bagi Rasulullah dan umat Islam di Makkah untuk pindah (hijrah) ke Madinah.
Setelah itu pada bulan Muharram, Nabi Muhammad SAW membulatkan tekat untuk hijrah ke yasrib (Madinah), dan mengizinkan orang Islam untuk berhijrah ke Madinah secara sendiri sendiri atau berkelompok. Baru kemudian, dengan tuntunan Wahyu Nabi menyusul berhijrah bersama Abu Bakar Ra pada akhir bulan shafar dan sampai ke Madinah pada bulan rabiul awal.
Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat tinggal tapi untuk menyelamatkan umat Islam dari tekanan dan intimidasi diluar kemanusiaan oleh kaum Quraisy. Dalam perspektif tasawuf, sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW mengandung pelajaran mendalam tentang perjalanan hati menuju Allah, pentingnya kebersamaan dengan orang saleh, dan keyakinan bahwa setiap pengorbanan di jalan Allah akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. Hikmah Hijrah, tidak hanya untuk para sahabat saja, tapi juga untuk umat setelahnya, sampai hari kiamat.
Paling tidak, Ada tiga hikmah tasawuf yang dapat dipetik, dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW
1. Hakikat Hijrah: Perjalanan Hati Menuju Allah
Dalam kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan bahwa hijrah terbagi menjadi dua: Pertama, hijrah secara lahiriah, yaitu berpindah dari satu negeri ke negeri lain. Bentuk hijrah ini memiliki hukum-hukum fikih yang telah diketahui.
Kedua, hijrah batiniah, yaitu hijrah hati menuju Allah dan Rasul-Nya. Hijrah ini mengandung makna perpindahan hati dari segala sesuatu yang dicintai selain Allah menuju kecintaan kepada Allah, dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada-Nya, dari rasa takut kepada selain Allah menuju rasa takut kepada Allah, dari ketergantungan kepada makhluk menuju tawakal kepada-Nya, serta dari kesombongan menuju kerendahan hati dan kepasrahan di hadapan Allah.
Dengan demikian, hijrah yang paling hakiki adalah perubahan orientasi hidup. Seseorang mungkin tetap berada di tempat yang sama, tetapi apabila hatinya berpindah dari cinta dunia menuju cinta Allah, maka ia telah menempuh hijrah yang sesungguhnya.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
والمهاجر من هجَر ما نهى الله عنه
Artinya: "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR. Bukhari)
Karena itu, setiap muslim dituntut untuk terus melakukan hijrah batin sepanjang hidupnya, meninggalkan larangan Allah dan sifat-sifat tercela menuju perintah dan akhlak yang diridhai Allah.
2. Keutamaan Suhbah (sircle) : berteman, membersamai Orang Saleh atau didalam lingkungan yang baik.
Salah satu peristiwa penting dari hijrah adalah keberadaan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai sahabat perjalanan Nabi. Disaat kedua orang mulia ini bersembunyi di gua tsur selama tiga hari. Ketika Abu Bakar merasa cemas karena pemuda pemuda kafir Quraisy yang memburu mereka berdua berada sangat dekat, Abu Bakar berkata:
“Wahai Rasulullah, seandainya mereka melihat ke bawah arah kaki-kaki mereka, mereka pasti akan menemukan kita.”
Rasulullah menenangkannya dengan berkata, yang diabadikan dalam surat At-taubah,40:
اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
Artinya: "Ketika dia berkata kepada sahabatnya, Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita,Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."
Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar berada di Gua Tsur. Dalam kondisi penuh ancaman, Allah menurunkan ketenangan (sakinah) kepada Rasulullah.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa kedekatan Abu Bakar dengan Nabi menjadikannya menerima limpahan keberkahan ruhani dari beliau. Ketenangan hati, kekuatan iman, dan keyakinan yang ada dalam diri Rasulullah turut memengaruhi hati Abu Bakar melalui kebersamaan yang erat (suhbah).
Inilah salah satu rahasia penting dalam perjalanan spiritual: seseorang akan banyak dipengaruhi oleh teman dan lingkungan yang ia pilih. Bergaul dengan orang-orang saleh akan membantu membersihkan hati, memperkuat iman, dan menumbuhkan kecintaan kepada Allah.
Karena itu para ulama selalu menekankan pentingnya mencari guru yang saleh, menghadiri majelis ilmu, dan menjaga pergaulan yang baik. Sebab keberkahan sering kali mengalir melalui kebersamaan dengan orang-orang yang dekat kepada Allah.
3. Setiap Pengorbanan karena Allah Akan Diganti dengan yang Lebih Baik.
Para sahabat meninggalkan segala kenyamanan hidup di Mekkah demi membangun kehidupan baru di Madinah. Mereka dengan keteguhan nya meninggalkan rumah, kebun, segala macam aset ekonomi, dan tentunya mereka meninggalkan tanah air tercintanya, demi mempertahankan akidah dan keimanannya.
Hijrah Nabi dan mereka mengajarkan bahwa meninggalkan sesuatu demi Allah tidak pernah berakhir dengan kerugian.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
إنك لن تدع شيئا لله عز وجل إلا بدلك الله به ما هو خير لك منه
Artinya: "Sesungguhnya engkau tidak meninggalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik bagimu." (HR. Ahmad)
Prinsip ini juga sejalan dengan firman Allah:
مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: "Tidaklah Kami menghapus atau menjadikan suatu ayat dilupakan melainkan Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang sebanding dengannya." (QS. Al-Baqarah: 106).
Nabi Muhammad SAW meninggalkan kampung halaman yang sangat beliau cintai. Para sahabat meninggalkan rumah, harta, dan berbagai kenyamanan hidup. Namun Allah menggantinya dengan kemenangan, kemuliaan, persaudaraan Islam, dan berkembangnya dakwah hingga ke seluruh penjuru dunia.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin harus meninggalkan maksiat, pergaulan buruk, jabatan yang haram, atau kesenangan yang menjauhkan dari Allah. Secara lahiriah hal itu terasa berat, tetapi Allah menjanjikan pengganti yang lebih baik berupa ketenangan hati, keberkahan hidup, kemuliaan, dan pahala yang besar di akhirat. Keyakinan terhadap janji Allah inilah yang melahirkan kekuatan untuk terus melangkah di jalan kebaikan.
Hijrah Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah dimulai dari perubahan hati, diperkuat oleh kebersamaan dengan orang-orang saleh, dan ditopang oleh keyakinan bahwa setiap pengorbanan di jalan Allah akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. Oleh karena itu, momentum tahun baru Hijriah hendaknya tidak hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi juga menjadi ajakan untuk memperbarui hijrah batin kita menuju kedekatan yang lebih sempurna dengan Allah SWT. [mu]
*Dewan perumus LBM PCNU Bojonegoro dan Ketua LBM PC KESAN LANGITAN Bojonegoro
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published