Silaturahmi KKN Unugiri Ungkap Potret Desa Turi: Jalan Rusak, Tantangan Petani, dan Tradisi yang Tetap Hidup

Pengirim: Meysa Afriska Dewi* 

blokBojonegoro.com - Silaturahmi yang dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pintar Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro Kelompok 42 di Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, membuka beragam cerita tentang kehidupan masyarakat desa. Mulai dari persoalan infrastruktur yang belum terselesaikan selama puluhan tahun, tantangan sektor pertanian, hingga kuatnya tradisi keagamaan yang tetap terjaga dari generasi ke generasi.

Kegiatan silaturahmi tersebut dilakukan dengan mengunjungi sejumlah tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan desa, mulai dari Kepala Desa Turi, kepala dusun, perangkat desa, Ketua Muslimat, hingga tokoh agama setempat. Selain memperkenalkan diri, mahasiswa juga menyerap berbagai informasi mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat secara langsung.

Kepala Desa Turi menyambut baik kedatangan mahasiswa KKN dan berharap mereka dapat memanfaatkan masa pengabdian sebagai sarana belajar dari kehidupan masyarakat desa.

“KKN bukan hanya tentang menjalankan program kerja. Selama berada di Desa Turi, manfaatkan kesempatan untuk mengenal masyarakat lebih dekat, belajar dari pengalaman mereka, dan mengambil pelajaran yang tidak selalu didapatkan di ruang kuliah,” ujarnya.

Pesan serupa disampaikan Kaur Pembangunan Desa Turi, Aris Fuad. Menurutnya, pengalaman hidup yang diperoleh mahasiswa selama berinteraksi dengan masyarakat akan menjadi bekal berharga di masa depan.

“Jangan fokus pada program kerja saja. Justru nanti kalian akan mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran dari berbaur dengan masyarakat itu sendiri. Manfaat KKN itu luas, baik dalam bidang sosial, pendidikan, keagamaan, maupun kehidupan bermasyarakat. Ketika menjelang penutupan nanti, yang paling membekas biasanya bukan sekadar programnya, tetapi pengalaman yang kalian dapatkan selama tinggal bersama masyarakat,” tuturnya.

Aris juga berpesan agar mahasiswa tetap menjadi diri sendiri selama menjalani KKN.

“Jangan hilangkan karakter kalian selama di sini. Ojo jaim,” katanya.

Dari kunjungan tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai kehidupan masyarakat Desa Turi yang mayoritas bekerja di sektor pertanian. Kepala Dusun Bacem, Parman, menjelaskan bahwa jagung menjadi salah satu komoditas utama warga. Saat panen, harga jagung kering berkisar Rp6.000 per kilogram, sedangkan jagung basah sekitar Rp4.800 per kilogram.

Meski demikian, potensi pertanian tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah serangan hama tikus yang kerap merusak tanaman jagung milik petani. Selain itu, limbah janggel atau bonggol jagung yang melimpah pascapanen sebagian besar masih dibakar karena belum dimanfaatkan secara optimal.

Parman juga menceritakan perubahan yang dialami Desa Turi dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, akses listrik baru benar-benar dirasakan masyarakat sekitar enam tahun lalu. Sebelumnya, sebagian warga masih bergantung pada jaringan listrik yang disalurkan dari Desa Bobol, Kecamatan Sekar.

Di sisi lain, persoalan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Jalan desa yang menjadi akses utama warga hingga kini mengalami kerusakan di sejumlah titik.

“Selama hampir 30 tahun saya menjadi perangkat desa, setiap kepala desa selalu mengajukan perbaikan jalan. Sudah berkali-kali difoto, diukur, dan diusulkan, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut yang benar-benar terealisasi,” ungkapnya.

Keterbatasan fasilitas ekonomi juga masih dirasakan masyarakat. Desa Turi belum memiliki pasar desa sehingga aktivitas jual beli lebih banyak bergantung pada warung dan toko-toko kecil milik warga.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, masyarakat Desa Turi tetap menjaga kehidupan sosial dan keagamaan yang kuat. Ketua Muslimat Desa Turi, Wari Eka Sari, yang telah menjabat selama tiga periode, menuturkan bahwa kesabaran menjadi kunci utama dalam mengabdi kepada masyarakat.

“Kalau niatnya mengabdi untuk agama, hatinya harus sabar. Banyak kebaikan yang kadang tidak terlihat, tetapi ketika ada sedikit kesalahan justru itu yang lebih mudah terlihat,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa berbagai kegiatan keagamaan masih rutin dilaksanakan oleh masyarakat, di antaranya istigasah Ahad Pahing, khatmil Quran triwulanan, Rotibul Haddad setiap selapanan, serta tahlilan ibu-ibu setiap malam Jumat.

Semangat yang sama juga terlihat dari upaya menjaga pendidikan Al-Qur'an di desa. Pengasuh TPQ setempat, KH Rokhim, menceritakan bahwa lembaga yang dirintisnya sejak 2002 masih aktif hingga sekarang dan menjadi tempat belajar bagi anak-anak desa.

“TPQ berjalan setiap hari dan libur pada hari Jumat. Tantangan terbesar saat ini adalah mencari ustaz dan ustazah. Banyak yang setelah menikah mengikuti pasangan dan pindah daerah. Namun Alhamdulillah kegiatan belajar mengaji tetap berjalan sampai sekarang,” ujarnya.

Menurutnya, santri perempuan menjadi kelompok yang paling banyak menyelesaikan pembelajaran hingga khatam Al-Qur'an.

Bagi mahasiswa KKN, rangkaian silaturahmi tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung wajah Desa Turi dari berbagai sudut. Tidak hanya mengenal potensi desa, mereka juga belajar memahami tantangan yang dihadapi masyarakat sekaligus menyaksikan bagaimana nilai-nilai gotong royong, keagamaan, dan kebersamaan tetap terjaga di tengah berbagai keterbatasan.

Melalui pertemuan-pertemuan sederhana itu, mahasiswa menemukan bahwa KKN bukan semata tentang program yang dijalankan, melainkan tentang proses belajar dari masyarakat yang selama ini menjadi denyut kehidupan desa.

*Penulis adalah Mahasiswi dari kelompok KKN Unugiri 42 Turi