Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas*
blokBojonegoro.com - Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat tanggung jawab sosial, yaitu berbuat baik kepada sesama. Tanggung jawab ini, tidak hanya didunia nyata saja, namun juga berbuat baik didunia maya.
Ada satu kemampuan manusia yang sering dianggap sederhana, tetapi sesungguhnya sangat menentukan kualitas kehidupan sosial, kemampuan itu namanya empati.
Empati adalah kemampuan seseorang untuk memahami keadaan batin orang lain, mencoba melihat dunia dari sudut pandangnya, dan menyadari bahwa di balik setiap perilaku terdapat manusia dengan perasaan, pengalaman, luka, kebutuhan, dan harapan.
Dalam ajaran Islam, empati bukan sekedar kemampuan mengidentifkasi perasaan orang lain, tetapi bagian dari sifat welas asih (Rahmah) dan solidaritas sosial. Seorang muslim tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan mampu merasakan penderitaan, kebutuhan dan keadaan sesamanya.
Dalam praktiknya, empati ditunjukkan dengan menghormati hak-hak manusia, menghindari perilaku yang menyakiti orang lain, memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, berbagi dalam kebahagiaan dan kesedihan, serta berusaha menjalin hubungan yang penuh kasih sayang dengan semua makhluk Allah.
Rasulullah SAW sebagai suri tauladan, banyak mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, termasuk empati, welas asih dan tolong menolong. Diantaranya, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الْآخِرَةِ... وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
Artinya: “Siapa yang menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia seorang mukmin, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan akhirat darinya... Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR at-Tirmidzi).
Rasulullah SAW juga menggambarkan hubungan orang-orang beriman dengan hadits nya:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إذا اشتكَى منْهُ عضوٌ تدَاعَى لَهُ سائِرُ الجسَدِ بالسَّهَرِ والْحُمَّى
Artinya: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Bila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan susah tidur dan demam."
(HR.Muslim).
Inilah gambaran yang sangat kuat tentang empati dalam Islam. Kasih sayang dan welas asih antar sesama bermula dari empati. Ketika orang berempati, maka penderitaan yang dirasakan orang bisa ikut dirasakan, sehingga muncul aksi untuk membantu sesama. Dengan demikian, empati bukan sekadar persoalan psikologi, Ia memiliki dimensi akhlak terpuji dan kebajikan spiritual yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Pertanyaan besarnya, mengapa seseorang itu krisis empati (nirempati)? Seseorang menjadi nirempatik disebabkan banyak faktor. Bisa jadi karena terlalu egois, terbiasa menghakimi, tumbuh dalam lingkungan yang keras, mengalami luka yang tidak terselesaikan, mengalami kelelahan emosional (emotional exhaustion), atau terlalu lama hidup dalam mode bertahan akibat trauma.
Ada pula orang yang begitu sibuk mempertahankan dirinya sampai tidak lagi mempunyai ruang untuk memahami orang lain.
Namun ada persoalan yang lebih dalam, yaitu kerasnya hati.
Al-Qur'an berfirman (QS. Al-Baqarah: 74):
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
Artinya: "Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras, sehingga ia seperti batu, bahkan lebih keras."
Hati yang keras tidak selalu membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk melihat penderitaan, tetapi membuatnya kehilangan kemampuan untuk tergugah oleh penderitaan itu.
Dalam tafsir Qurthubi dijelaskan :
وَفِي مُسْنَدِ الْبَزَّارِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:) أَرْبَعَةٌ مِنَ الشقاء جمود العين وقساء(١) الْقَلْبِ وَطُولُ الْأَمَلِ وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا
Artinya: "Di dalam Musnad Albazzar, ada empat perkara yang menyebabkan celaka yaitu tidak mudah menangis (saat mengingat dosa), kerasnya hati, panjang angan dan cinta dunia."
Dalam tradisi tasawuf, persoalan hati bukan perkara kecil. Hati yang dipenuhi kesombongan, dendam, dengki, cinta dunia, dan ego dapat kehilangan sensitivitas terhadap penderitaan manusia lain. Karena itu, membangun empati juga merupakan bagian dari tazkiyatun nafs, proses membersihkan jiwa.
Mungkin ancaman terbesar bagi manusia bukanlah ketika kita kehilangan kecerdasan. Melainkan ketika akal tetap bekerja, tetapi hati berhenti merasa. Tanpa empati, manusia mungkin tetap memiliki akal, ilmu, teknologi, kekuasaan, bahkan aturan hukum.Tetapi ada sesuatu yang perlahan hilang, kemanusiaan itu sendiri.
Bisa dibayangkan sebuah dunia di mana seseorang menangis tetapi tidak ada yang bertanya mengapa. Orang sakit dianggap hanya sebagai pasien. Orang yang sedang terpuruk dianggap lemah. Orang yang melakukan kesalahan langsung dihukum tanpa pernah dipahami. Bahkan seseorang yang sedang mencari tempat untuk bercerita justru mendapatkan ejekan dan perundungan.
Lalu, apa yang terjadi jika manusia benar-benar kehilangan empati? Keluarga menjadi tempat tinggal tanpa kehangatan. Persahabatan berubah menjadi transaksi untung rugi. Pelayanan kesehatan berubah menjadi prosedur, tanpa sentuhan kemanusiaan.
Media sosial berubah menjadi ruang penghakiman. Institusi berubah menjadi mesin. Pejabat publik, yang mestinya menjadi pelayan masyarakat, berubah menjadi bosnya. Dan masyarakat berubah menjadi kumpulan individu yang hanya berkata: "Yang penting saya baik-baik saja."
Padahal manusia tidak diciptakan untuk hidup sendirian, mereka adalah makhluk sosial. Pada akhirnya, empati adalah cara kita menjaga kemanusiaan. Jangan sampai manusia kehilangan rasa empati. Mungkin manusia tidak selalu bisa menyelesaikan masalah orang lain.
Seseorang tidak selalu mampu menghilangkan sakitnya, tidak selalu mempunyai jawaban. Tetapi manusia masih bisa melakukan sesuatu yang sangat sederhana, yaitu tidak menambah luka. Kadang seseorang tidak membutuhkan ceramah. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Kadang ia tidak membutuhkan solusi. Ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata baik.
Inilah barangkali salah satu bentuk rahmah yang paling sederhana, yang harus tetap dijaga, dikampanyekan dan diajarkan. Sebagaimana misi risalah, kasih sayang dan welas asih antar sesama manusia didunia. Jangan sampai rasa ini, tergerus dengan hiruk pikuknya dunia. [mu]
*Dewan perumus LBM PCNU Bojonegoro dan Ketua LBM PC KESAN LANGITAN Bojonegoro
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published