Cerita Menara dan Masjid Jami' Tambakberas di Ponpes Bahrul Umum Jombang
Masjid Jami’ Tambakberas di kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum / foto: tambakberas.id

Kontributor: Ayu Rahma Fadila

blokBojonegoro.com - Masjid Jami’ Tambakberas berada di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Induk Putra memiliki sejarah penting dalam pembangunannya. Menjelang pagelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 35 di Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, akhir Agustus 2026 mendatang, cerita tentang menara ikonik patut untuk ditelisik lebih dalam. 

[Baca Juga: WISATA DAN KULINER DI BOJONEGORO JAWA TIMUR YA D'KONCO CAFE https://www.blokbojonegoro.com/2026/01/19/wisata-kuliner-di-bojonegoro-jawa-timur-ya-dkonco-cafe-saja]

Dalam buku ‘Tambak Beras, Menelisik Sejarah Memetik Uswah’ dijelaskan, tempat ibadah umat Islam ini dibangun antara tahun 1903-1904 M di era kepemimpinan Kiai Hasbullah. 

Tampak pada masjid itu terdapat empat tiang saka yang terbuat dari kayu jati berada di ruang utama masjid. Tiang-tiang saka itu sampai saat ini tetap berdiri kokoh, hanya saja belakangan dibungkus dengan semen untuk menghindari rayap. 

“Empat tiang saka itu adalah pemberian Residen (Bupati) Belanda,” ucap Abdul Hakim,Ta’mir Masjid Jami’ Tambakberas dikutip dari berbagai sumber.

[Lagu Muktamar NU ke 35 Tambakberas: https://www.youtube.com/watch?v=RVbkvtzjO20&list=RDRVbkvtzjO20&start_radio=1]

Menara Masjid Jami' Tambakberas yang menjadi ikonik di Ponpes Bahrul Ulum, Jombang (foto: bahrululum.id)

Menara Tambakberas yang Ikonik

Seperti pada umumnya, masjid selalu punya menara. Begitu juga dengan Masjid Jami’ Tambakberas. Model menara sekaligus bangunan masjid itu menjadi ikon tersendiri di lingkungan Pesantren Tambakberas karena model pembangunannya sangat khas. Bahkan di logo Muktamar NU ke 35 di Ponpes Bahrul Ulum, pucuk menara menjadi salah satu simbol khas yang dimasukkan.

Antara masjid dan menara dibangun dalam masa yang berbeda. Dalam catatan buku yang sama, menara itu dibangun di era kepemimpinan Kiai Abdul Hamid Hasbullah, tepatnya pada tahun 1367 H/ 1948 M.

Artinya, data itu menunjukkan Masjid Jami' Tambakberas dibangun jauh lebih awal daripada menaranya. Yang menarik, pada menara itu terukir huruf hijaiyah (ح، ر، ت، م). “Di menara terdapat huruf ح ر ت م yang mempunyai arti kemerdekaan yang sempurna,” kata Abdul Hakim. Tulisan itu berawal dari wasiat KH Hasbullah kepada KH Abdul Hamid Hasbullah (putranya). Ia menuliskan sesuatu di kertas, dibungkus dengan kain dan tidak boleh dibuka sebelum KH Hasbullah wafat.

Setelah wafatnya Kiai Hasbullah, penutup tersebut dibuka dan berisi tulisan huruf hijaiyah (ح، ر، ت، م). "Akhirnya sebagai bentuk penghormatan, oleh Kiai Hamid diukirkanlah tulisan tersebut pada dinding menara," demikian dilansir dari Bahrululum.id. 

Huruf Hijaiyah itu ditafsirkan sebagai kemerdekaan yang sempurna. Ini sesuai dengan selesainya bangunan menara pada tahun 1367 H/1948 M sebagai akhir dari penjajahan di Indonesia dan menjadi negara yang merdeka. [ayu/mad]