Skip to main content

Category : Kolom


Kompetisi

Membuktikan diri sebagai juara dan mengalahkan orang lain itu animal instinct yang tertanam dalam diri manusia. Tidak ada yang bisa mengelak dari "kutukan" ini. Dalam berbagai bentuknya, setiap orang punya kecenderungan untuk menunjukkan dirinya sebagai yang terhebat. Bahkan manusia terlemah pun tidak bisa lolos dari imajinasi untuk menjadi pemenang. Nietszche menggambarkan "kodrat" manusia ini dengan istilah "will to power".

Merefleksi Pancasila di Tengah Gelombang Penggelapan Dana Negara

Menjaga amanah bukan sesuatu yang mudah. Tidak semua orang mengakui itu tetapi tidak pula semua orang bisa menjaga amanah yang diemban. Manusia tidak luput dari sebuah kesalahan, maka dari kondisi ini menjadi salah satu hal tersulit untuk manusia mengungkapkan kejujurannya. Jati diri manusia terbentuk dari pancasila.

Matematika sebagai Bahasa Sains Membentuk Argumen Bukti dan Komunikasi Data

Pemikiran sebuah dunia di mana setiap klaim ilmiah bisa diuji, dibuktikan, dan dipahami dengan jelas oleh siapa saja, tanpa harus menjadi ahli. Di dunia itu matematika tidak lagi sekadar rangkaian angka dan simbol, melainkan bahasa universal yang mempersenjatai kita untuk membaca kenyataan, menyusun argumen, dan membagikan temuan dengan cara yang dapat diverifikasi. Matematika menjadi alat utama dalam sains karena ia mengubah data menjadi narasi yang bisa diperdebatkan, disahkan, dan dipakai untuk mengambil tindakan nyata. Inilah inti dari gagasan bahwa matematika adalah bahasa sains membentuk argumen bukti dan komunikasi data.

Eranya Generasi Muda Pada Pemilu 2024

Pesta demokrasi akbar bagi seluruh rakyat Indonesia akan dilangsungkan pada 14 Februari 2024 melalui Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak. Hari pemungutan suara itu dihelat bersamaan dengan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) serta Pemilu Legislatif (Pileg) untuk memilih anggota DPR RI, anggota DPRD provinsi, anggota DPRD kabupaten/kota, dan anggota DPD RI. Sementara, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk memilih gubernur, bupati, dan wali kota diselenggarakan serentak di seluruh daerah pada 27 November 2024.

Melihat Komitmen Pendidikan Bacaleg

Sebagaimana berita media di Bojonegoro, sebanyak 737 bakal calon legislatif (Bacaleg) dari 18 parpol telah mendaftar di KPU Bojonegoro. Antusiasme Bacaleg tersebut menyita perhatian kita, yang mana mereka “beradu nasib” berjuang menjadi anggota legislatif.

Pengawasan Pemilu di Era 5.0: Tantangan dan Peluang dalam Transformasi Digital

Pemilu, singkatan dari Pemilihan Umum, merupakan salah satu tonggak penting dalam sistem demokrasi. Ini adalah momen saat rakyat memiliki kekuasaan untuk memilih wakil mereka dalam pemerintahan. Pemilu adalah wahana bagi suara setiap individu memiliki bobot yang sama dan keputusan dibuat berdasarkan kehendak mayoritas. Melalui pemilu, masyarakat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan politik, serta membentuk arah dan masa depan negara mereka.

Pemilu dan Era Big Data

Pemilu merupakan momen penting dalam negara demokrasi dimana rakyat memiliki hak untuk memilih wakilnya untuk mengambil keputusan politik. Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah menyebabkan perubahan signifikan dalam cara informasi dikumpulkan, dianalisis, dan digunakan dalam proses pemilu.

Tetap Damai Walau Beda Idul Fitri

KINI-saudara kita Muhammadiyah telah lebaran, dan 1 Syawal 1444 H ditetapkan pada Jumat (21/4/23). Adapun pemerintah sebagaimana Hasil Sidang Isbat, menetapkan 1 Syawal 1444 H pada Sabtu (22/4/23). Dan NU sebagaimana ikhbar, 1 Syawal 1444 H pada Sabtu (22/4/23). Perbedaan lebaran tahun 2023 ini, bagi penulis tidak perlu dibesar-besarkan. Yang urgen adalah saling menghormati terhadap penetapan Idul Fitri.

Dari Hafalan Menuju Pemecahan Masalah Kelas yang Penuh Eksperimen

Di era data yang mengalir deras, sebuah kelas bisa berubah menjadi laboratorium ide tempat pertanyaan menggantikan hafalan. Di ruang itu guru tidak lagi sekadar menjadi pengingat rumus, melainkan fasilitator yang menuntun siswa merumuskan pertanyaan, merancang eksperimen sederhana, dan menilai hasilnya bersama. Satu jam pelajaran bisa terasa seperti sesi ilmiah yang hidup, bukan sekadar ritual menghafal yang membuat jiwa pembelajar kehilangan otonomi berpikir. Transformasi ini bukan sekadar perubahan teknik mengajar; ia menuntut kita menyusun ulang apa yang kita sebut pembelajaran bermakna.