Skip to main content

Category : Kolom


Mengkarakterkan Remaja Masjid

Pemandangan calon anggota baru Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma-JT) sedang melaksanakan pengabdian (baca: KKN untuk Mahasiswa) dalam bentuk kamping ke beberapa masjid –di Semarang– sungguh patut untuk diapresiasi.

Full Day School Akan Bubarkan Madrasah Diniyah

Keputusan yang dilontarkan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan baru Prof. Dr. Muhadjir Effendy tentang Full Day School (FDS) menuai kontroversi dan membuat gaduh di masyarakat. Nantinya kalau gagasan ini diterapkan, selama seharian penuh, siswa akan berada di bangku sekolah. Tujuannya menurut menteri Muhajir Effendy adalah untuk membentuk karakter siswa. Alasan lain, karena ketika siswa pulang lebih dini, pergaulan siswa tidak terkontrol kedua orang tua sibuk bekerja dan baru pulang sore hari. Akibatnya, siswa bebas keluyuran di luar rumah dan akan melakukan banyak perbuatan negatif tanpa ada pengawasan dari orang tua.

Pers Mahasiswa, Penolakan dan Perjuangan Eksistensinya

Medio April 2017 kemarin, kampus UIN Sunan Ampel dihadapkan dengan kondisi percaturan politik mahasiswanya yang lumayan berkabut. Beberapa mahasiswa dari kubu selatan kurang sepakat dengan aturan Pra Pemilu Raya (Pemira) yang dibuat KPU. Karena memiliki indikasi menghalangi kubu tersebut masuk dalam partisipasi demokrasi kampus. Hal tersebut memunculkan beberapa keributan. Salah satunya bentrokan yang terjadi ketika pihak yang diuntungkan oleh regulasi—untuk tidak mengatakan se-pihak dengan golongan yang masih/sedang berkuasa—mengusung calon ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas dengan istilah kerennya Presiden Mahasiswa sedang melakukan kampanye terbuka di lingkungan kampus. Kampanye tersebut berakhir dramatis karena dibubarkan oleh mahasiswa yang kontra dengan aturan yang telah dibuat KPU.

Kesantunan Komunikasi Politik di Pilkada Bojonegoro

Politik dan internet tak bisa lagi dipisahkan. Begitulah era digital telah mempengaruhi semua bidang kehidupan, mulai ekonomi, sosial, agama, dan tentu saja politik. Banyak orang memanfaatkan internet, yakni lewat media sosial untuk terlibat di urusan politik. Banyak contoh yang mudah dipakai untuk bercermin soal ini.

Esai Minggu

Tantangan yang Menantang

Apa Anda senang dengan tantangan? Kalau tidak suka, saya menyarankan Anda untuk mengambil selimut dan tidurlah kembali. Itu akan menghadirkan rasa aman bagi Anda. Karena tantangan akan memacu semangat anda untuk bisa melampauinya.

Tiga Pilar Penopang Bojonegoro Semakin Matoh

Berdasar pada data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bojonegoro, secara astronomis Kabupaten Bojonegoro terletak pada posisi 112°25´-112°09´ BT dan 6°59´-7°37´ LS, serta jumlah penduduk sebesar 1.450.889 jiwa. Luas dan banyaknya penduduk ini tidak dapat dipungkiri bahwa Bojonegoro bisa semakin Matoh. Hal ini juga sesuai dengan jargon masa pemerintahan Bupati Suyoto, M.Si yaitu ‘Bojonegoro Matoh’. Bupati Suyoto juga membuat lagu dengan judul ‘Bojonegoro Matoh’. Salah satu lirik yang bisa digarisbawahi adalah Bojonegoro semangat berbenah, Bojonegoro tak henti berkarya, Bojonegoro semua pasti suka, Bojonegoro matoh. Pada lirik ini sangat memotivasi masyarakat untuk selalu membuat inovasi-inovasi yang bisa menjadikan Bojonegoro lebih matoh di-era selanjutnya. Untuk itu pada tulisan kali ini saya menawarkan tiga pilar yang nantinya dapat dijadikan sebagai penopang Kabupaten Bojonegoro agar semakin matoh. Pilar tersebut yaitu:

Refleksi RA. Kartini

Kartini, Kyai Sholeh Darat dan Kitab Tafsir Faidhur-Rohman

Setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Peringatan yang merujuk pada lahirnya Raden Ajeng Kartini, 21 April 1879. Kartini hidup pada zaman ketika kekuatan budaya masyarakat sangat permisif memandang perempuan. Zaman ketika budaya feodalisme dan patriaki masih dijunjung tinggi di bumi Nusantara. Zaman ketika perempuan harus menanggung “double colonisation” (Kirsten Holst Petersen & Anna Rutherford, Beginning Postcolonialism, 2008). Penjajahan dari bangsa asing dan penjajahan dari bangsa sendiri yakni budaya patriaki.

Tarik Ulur Relasi Agama dan Negara

Himbauan Presiden Joko Widodo untuk tidak mencampurkan agama dan politik yang disampaikan dalam pidatonya pada saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menuai kritik dari beberapa tokoh politik. Pernyataan presiden tersebut dikritik tidak punya pijakan sejarah. Namun kritik itu tak menyurutkan pikiran dan langkah politik, pada saat meresmikan Masjid Arifah Istiqomah Ponpes Khalifatullah Singo Ludiro, Sukoharjo Jawa Tengah, dalam pidatonya presiden kembali mengingatkan semua elemen bangsa untuk tidak mempolitisasi agama. Presiden Joko Widodo juga mengklarifikasi bahwa tidak ada pikiran politik atau kehendak untuk memisahkan agama dan politik atau negara, namun menegaskan bahwa hubungan antara keduanya harus dijalin dalam konteks yang tepat.

Film Marvel, Avengers: Age of Ultron-2015

Rahasia Palu Thor Odinson, Beratkah Mjolnir itu?

Bagi pecinta Avengers, baik komik maupun film, pastinya sudah tidak asing lagi dengan Mjolnir. Palu milik Thor yang bisa memanggil petir.

Catatan 63 Tahun GMNI

GMNI, Paradigma Baru Gerakan Kebangsaan

Pada 23 Maret 2017, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) merayakan ulang tahun ke 63 sejak didirikan pada 1954. Momentum ini menjadi sangat tepat untuk melihat kembali politik kebangsaan ditengah menguatnya gelombang gerakan politik yang lekat dengan sektarianisme, primordialisme dan fundamentalisme. Namun, disisi lain juga semakin menguatnya arus globalisasi yang terkesan menjadi antitesa dan saling berhadapan secara vis-à-vis.