Oleh: Usman Roin*
blokBojonegoro.com - Sudah 81 tahun, negara tercinta Indonesia ini merdeka. Namun, ada yang masih menyimpan tanda tanya, apakah kita sudah merdeka dalam membaca?
Pertanyaan ini penulis ajukan oleh sebab, kita, lingkungan terdekat kita tidak ‘terlihat’ aktivitas membaca yang konsisten. Ruang membaca seperti tidak pernah kita ciptakan. Inilah yang kemudian mengilhami secuil tulisan ini, untuk mengampanyekan perihal membaca.
Merdeka membaca juga menyiratkan makna, kita sadar bahwa membaca buku kudu menjadi aktivitas harian. Layaknya kita makan, minum, dan tidur. Namun, hal itu luput kita kerjakan. Untuk aktivitas membaca buku, seakan kita membatasi. Mengekang. Bahkan melupakan.
Upaya kita membatasi ‘tidak membaca’ itulah yang kemudian penulis sebut, tidak memerdekaan diri dalam hal membaca. Kita melepaskan begitu saja tuntutan untuk membaca. Dalam diksi yang lain, mengabaikan, menghentikan. Padahal, membaca adalah perintah Allah Swt sebagaimana tertuang dalam surah al-‘Alaq.
Bebaskan Baca
Jika kita sudah mengerti bila ‘membaca’ adalah perintah dasar-Nya, momentum kemerdekaan ini, membaca perlu kita merdekakan. Artinya, kita bebaskan. Jangan sampai rasa malas menjajah diri, sehingga membaca kita abaikan. Kita perlu membiasakan membaca di rumah, di warung kopi, di kantor, di kampus dan di mana pun selagi hal itu mendukung meminjam bahasa Agus Magelang “proper” dengan aktivitas membaca.
Jangan pula, gadget menjajah hingga melenakan diri tenggelam oleh waktu. Alhasil, start dari pagi, siang, sore, malam hingga ketemu pagi lagi; yang kita openi hanyalah gadget. Terhadap aktivitas membaca buku, kita jauhi. Kita tolak. Dan, menjadikannya sebagai musuh oleh sebab ‘tidak bisa mikir’. Begitu kata yang sering penulis dengar.
Jika perilaku ini dilakukan berkali-kali, seharusnya kita mempertanyakan diri, sudahkah kita mengimplementasi merdeka membaca di mana pun berada!
Jika belum, saran penulis segera taubat. Merdeka memang perlu kita pekikkan selalu. Jaga. Peringati. Hanya saja, kontekstualisasinya bila dihubungkan pada ranah literasi, juga kudu diiringi dengan semangat diri produktif untuk membaca.
Sebagai gambaran sederhana, bulan ini khatam membaca buku 'A', bulan berikutnya hatam buku 'B' dan seterusnya. Artinya, kita sudah menciptakan kebebasan diri untuk tidak malas, terbelenggu oleh godaan gadget yang tiada henti mengalihkan kita tidak membaca.
Perhatian
Perihal membaca, mestinya kegiatan tersebut juga mendapat perhatian lebih pemimpin. Nyatanya, anggaran di Perpusnas saja di potong (baca Kompas.com), yang hal itu berdampak kepada layanan pemberian bantuan buku. Jika di wilayah pusat saja ada kebijakan yang viral dengan sebutan ‘efisiensi’ lalu bagaimana dengan yang di daerah? Pertanyaan tersebut, tentu pembaca bisa mencari informasi detailnya sendiri. Lalu, bisa diambil simpulan, apakah berdampak!
Meski dalam himpitan ‘perhatian’, membaca ternyata masih diperjuangkan keberadaannya. Sebut saja Disperpussip yang setiap Minggu menggelar lapak baca di Alun-alun Bojonegoro. Dari pegiat lain, sebut saja mastumapel.com, juga menyelenggarakan hal yang sama.
Di Perpustakaan Unugiri, dalam hal membaca juga menyelenggarakan aneka program. Salah satunya adalah ‘Pemustaka Unugiri Membaca’ yang disingkat Pusgiri Baca. Program yang rencana akan dilaunching pada Kamis (20/8/26) dalam rangkaian kegiatan Temu Penulis Batch 4 kerjasama dengan mastumapel.com, menghadirkan penulis buku Althmira Frishka berjudul ‘Captive of Love: Tawanan Cinta di Lautan’. Bila mulai dari dinas, pegiat, kemudian kampus bergerak mengampanyekan baca, eman-eman bila pemerintah luput dari perhatian.
Sebagai orang yang senang dengan literasi, penulis bermimpi, semoga di Bojonegoro ini gedung perpustakaan areanya lebih luas. Magrong-magrong gedungnya, se-dahsyat Gedung DPRD-nya. Ia tidak kalah dengan swalayan modern. Jika masih kalah, mohon maaf, membaca dan segala hal yang ada hubungannya dengan literasi menjadi ‘tidak penting’.
Lalu, apakah patut kita ‘salahkan’ bila generasi kini minim perilaku membaca? Pegawai yang tidak produktif, inovatif!
Keluarga
Di keluarga, merdeka membaca juga perlu diwujudkan. Jangan sekadar merdeka memperlihatkan gadget yang ditampakkan saking asyik scroll konten. Sementara, membaca luput. Di sinilah jadwal membaca kudu dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Ayah, ibu, kakak, adik, tante dan seterusnya; ikut memberi contoh kepada anak, keponakan, hingga sesama keluarga dalam baca.
Penulis juga berusaha melakukan hal yang sama. Dalam sebulan, 1 buku harus ada yang khatam hasil dari kuliner di toko buku Bojonegoro.
Akhirnya, mari kita bertanya, kapan terakhir Anda membaca buku?
Bila sudah tahu kapan terakhir kali kita membaca, coba tarik hingga perayaan kemerdekaan ini. Apakah sudah ada satu tahun? Mohon jangan kaget! Akui saja bila kita terjajah oleh hal-hal yang meniadakan untuk membaca. Begitu saja.
Berikutnya, ambil langkah untuk memerdekakan diri dari belenggu tidak membaca kawan.
*Dosen Prodi PAI dan Kepala Perpustakaan Unugiri.