Sejarah KH. Abdul Wahab Chabullah Bawa ISHARI Jadi Bagian Syuriah hingga Banom
KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) sebagai Bapak ISHARI NU / ilustrasi AI

Reporter: Muhammad

blokBojonegoro.com - KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), pendiri, inisiator dan sekaligus penggerak Nahdlatul Ulama NU resmi dianugerahi gelar sebagai Bapak ISHARI NU atas jasa dan perjuangan besarnya membina serta memasukkan jam'iyyah hadrah ke dalam struktur organisasi NU. 

Anugerah diberikan bersamaan dengan rangkaian kegiatan Istighotsah dan Sukses Muktamar ke-35 NU di Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (20/8/2026) malam.

Penghargaan diserahkan langsung oleh pengurus PP ISHARI kepada salah satu putra Mbah Wahab, KH Hasib Wahab Chasbullah atau Gus Hasib.

Mewakili Dzurriyah Mbah Wahab, Gus Hasib menyampaikan terima kasih yang mendalam atas penganugerahan kehormatan tersebut. "Semoga penghargaan ini membawa berkah, ISHARI makin besar dan jaya," ujar Gus Hasib di depan peserta Istighosah dan Doa Bersama untuk kesuksesan Muktamar ke-35 NU. 

Tampak hadir ribuan warga Nahdliyin, santri, jemaah ISHARI, hingga masyarakat umum. Sejumlah tokoh utama PBNU turut hadir di lokasi yang nantinya dijadikan arena persidangan Pleno Muktamar tersebut. Selain Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, hadir juga Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, serta Anggota Steering Committee (SC) Muktamar Prof. Muh. Nuh. 

Terlihat pula jajaran pengasuh Pesantren Tambakberas seperti KH Abdurrozaq Sholeh Gus Rozaq, serta jajaran Pengasuh pesantren dan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Sejarah Mbah Wahab dan ISHARI

Sekretaris PW ISHARI NU Jawa Timur, Gus Nu'am Abud, menyampaikan bahwa penganugerahan ini merupakan bentuk penghormatan atas kejelian Mbah Wahab saat menjabat sebagai Rais 'Aam PBNU. 

Mbah Wahab kala itu melihat tradisi majelis shalawat Terbang Abdurrahiman yang didirikan oleh Kiai Abdurrohim bin Abdul Hadi asal Pasuruan sebagai sarana dakwah yang sangat potensial, masif, dan mengakar kuat di tengah warga.

Tepat pada 23 Januari 1959, Mbah Wahab memboyong Jam'iyyah Hadrah tersebut ke dalam naungan wadah resmi NU dengan nama Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI). 

Dalam merintis kelahirannya, Mbah Wahab turut melibatkan sejumlah tokoh ulama PBNU seperti KH Bisri Syansuri, KH Syaifuddin Zuhri, KH Ahmad Syaiku, serta KH Muhammad bin Abdurrokhim.

Keseriusan Mbah Wahab berlanjut pada Agustus 1961 melalui surat bertuliskan tangan kepada KH Muhammad bin Abdurrokhim untuk membentuk Pengurus Pusat ISHARI berkedudukan di Surabaya. 

Langkah ini memuncak dalam musyawarah para ulama dan tokoh hadrah se-Jawa Timur pada September 1961 yang menetapkan Mbah Wahab sebagai Pembina dan Pelindung, serta KH Muhammad bin Abdurrokhim sebagai Ketua.

Pengakuan ISHARI di tubuh jam'iyyah kian menguat setelah Mbah Wahab bersurat kepada Panitia Muktamar ke-23 NU di Surakarta agar kesenian hadrah diberikan ruang tampil. 

Pada muktamar di Solo tersebut, ISHARI secara resmi ditetapkan berada di bawah pembinaan Pengurus Syuriyah NU, hingga akhirnya disahkan menjadi salah satu Badan Otonom (Banom) NU pada Muktamar ke-34 NU di Lampung tahun 2021.

Kesenian ISHARI bermula dari majelis shalawat yang memadukan syair mahabah kepada Nabi Muhammad SAW dengan konfigurasi gerak tari rodad serta tepuk tangan rancak yang sarat nilai spiritual. 

Melalui perjuangan Mbah Wahab dan para putra pendiri ISHARI, seni budaya keagamaan ini terus berkembang luas dari Pasuruan, Jombang, Surabaya, Madura, hingga ke berbagai pelosok Nusantara. [mad]