Sebanyak 40 peserta yang merupakan perwakilan jurnalis dari Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro mengikuti Edukasi dan Media Gathering 2018 oleh Asset IV Sukowati Field Pertamina Eksplorasi dan Produksi (Pertamina EP). Acara digelar, Kamis (6/12/2018) di Amaris Hotel Pemuda, Jalan Pemuda No.138, Semarang.
Turun gunungnya KH Maksum Faqih, putra bungsu KH Abdullah Faqih almarhum, pengasuh pondok pesantren Langitan, Widang, Tuban itu cukup mengejutkan. Bukan lantaran kasusnya, namun nama besar pondok Langitan yang membuat publik seolah terhenyak dengan kehadiran pengasuh pesantren yang dulu dikenal sebagai pusat kegiatan Poros Langit tersebut.
Sebanyak 55 siswa kelas X dan XI SMAN 3 Bojonegoro mengikuti pelatihan menulis, diantara dengan materi "Menulis Esai". Kegiatan berlangsung di aula sekolah yang ada di Jalan Monginsidi Kota Bojonegoro, Rabu (5/12/2018).
Dalam Anugerah Media Humas (AMH) pada gelaran Sinergi Aksi Informasi dan Komunikasi (SAIK) 2018 Bojonegoro kembali raih Juara II dalam kategori Pelayanan Informasi melalui Website , penghargaan tersebut diterima langsung malam ini (4/12) oleh Kepala Dinas Kominfo Kab. Bojonegoro Drs. Kusnandaka Tjatur P di Ballroom Hotel Novotel Kota Tanggerang Banten.
Dasarian pertama Desember 2018 ini wilayah Desa Balenrejo Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro sudah memasuki musim penghujan. Sehingga para petani mulai turun ke sawah untuk membuat lahan persemaian bibit padi.
Setiap hujan turun setelah musim kemarau, warga di sekitar hutan Bojonegoro ramai-ramai mencari entung atau ulat jati. Selain untuk dimakan sendiri, ternyata entung tersebut juga ramai diburu oleh warga luar daerah
Berburu entung atau kepompong dari ulat jati ternyata bisa menambah penghasilan. Pasalnya, hewan yang bernama latin Hyblaea puera juga bernilai ekonomis.
Setiap hujan turun setelah musim kemarau, maka warga di sekitar hutan di Kabupaten Bojonegoro beramai-ramai mencari entung atau ulat jati. Selain untuk dimakan sendiri, ternyata entung tersebut juga ramai diburu oleh warga luar daerah setempat.
Tidak ada yang salah dari tulisan NU dan Pertanian. Namun, berbicara pertanian adalah berbicara tanah, juga agraria. Perlu dibedakan mengenai tanah dan agraria. Agraria lebih luas lingkupnya. Petani yang hidup di Indonesia ini tidaklah bisa tenang. Harus was-was setiap hari, bukan karena gerakan makar, teroris apalagi HTI dan PKI. Harus was-was karena ada banyak Undang-undang yang melegitimasi “perampasan†tanah rakyat, termasuk lahan pertanian. Aturan yang memperbolehkan perubahan lahan pertanian menjadi non pertanian. Belum lagi aturan terkait perdagangan bebas yang membuka celah untuk barang impor menghancurkan harga panen petani, pencabutan subsidi pupuk dan sederet aturan global yang mengintervensi aturan nasional ataupun lokal.