17:00 . Dishub Bojonegoro Luncurkan Layanan Pengaduan Pungli Parkir Liar   |   16:00 . Sudah Lunas, Pemilik Katering Minta Dirinya Tidak Dilibatkan pada Polemik Persibo   |   15:00 . Pladu, Warga Sekitar Bendung Gerak Panen Ikan   |   14:00 . Tingkatkan Pengetahuan Tentang Periklanan Digital Google News Initiative - AMSI Gelar Pelatihan   |   12:00 . Kemenag Bojonegoro Gelar Bimtek untuk KUA   |   11:00 . Asprov PSSI Jatim: Pendaftar Persibo Hanya Pemilik PT yang Sah   |   10:00 . Geluti Usaha Backdrop, Ibu Muda ini Kantongi Omset Jutaan Rupiah   |   09:00 . 549 Peserta Berebut Kursi Perangkat Desa di Sumberrejo   |   08:00 . Manajemen Persibo 'Kebut' Kesiapan Tim   |   07:00 . Waspada Kecanduan Gadget, 40 Persen Anak Habiskan 30 Jam Main HP dalam Seminggu   |   17:00 . Bupati Anna Dukung Penuh Tahapan Verifikasi Menuju KLA   |   16:00 . Verifikasi Lapangan KLA, Dinas P3AKB Sampaikan Kondisi Bojonegoro   |   14:00 . Mbah Galong dan Sejarah Desa Sambong   |   12:00 . Temui Suporter Persibo, Begini Tanggapan Anggota DPRD Bojonegoro   |   10:00 . Suporter yang Mengatasnamakan Bojonegoro Bersatu Gelar Demo   |  
Tue, 15 June 2021
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

LKPI Survei Jajak Pendapat, ini Hasilnya...

blokbojonegoro.com | Saturday, 02 January 2021 10:00

LKPI Survei Jajak Pendapat, ini Hasilnya...

Reporter: Parto Sasmito

blokBojonegoro.com - Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) melakukan survei jajak pendapat masyarakat Indonesia terhadap pemulihan ekonomi akibat dampak Covid-19 dan persepsi masyarakat terhadap politik Indonesia. Survei tersebut, dilakukan pada 20-27 Desember 2020, dengan jumlah responden 1.225 orang tersebar secara provosional di 34 provinsi di Indonesia.

Direktur Eksekutive LKPI, Arifin Nur Cahyono menjelaskan, penentuan sample Metode Mix-Mode karena  riset ini yang dilakukan di era pandemic Covid-19 yang membatasi untuk melakukan wawancara tatap muka, karena itu Survei Jajak Pendapat ini dilakukan melalui sambungan telepon terhadap responden yang dipilih secara acak.

"Survei melalui telepon ini menggunkan petugas wawancara yang telah dilatih untuk mengajukan pertanyaan dan mencatat jawaban yang diberikan responden pada komputer. Diketahui, margin of error survei sebesar  kurang lebih 2,8  persen dan pada tingkat kepercayaan mencapai 95 persen," kata Arifin.

Dari temuan penelitian pada 1225 responden sebanyak 76,6 persen merasa  puas dan yakin dengan usaha pemulihan ekonomi nasional oleh pemerintah yang sangat membantu pada ekonomi rumah tangga keluarga masyarakat Indonesia akibat dampak covid. Dan sebanyak 18,7 persen menyatakan tidak puas usaha pemulihan ekonomi nasional oleh pemerintah karena tidak ada dampak positive terhadap keadaan ekonomi rumah tangga masyarakat sedangkan 4,7 persen tidak menyatakan apapun.

"Dari hasil survei sebanyak 71,8 persen merasa puas dengan penanganan dan penanggulangan Covid 19 oleh pemerintah. Dan sebanyak 81,7 persen responden menyatakan siap ikut program vaksinisasi Covid 19," imbuhnya.

Responden diberi pertanyaan 'Dalam satu tahun terakhir, bagaimana menurut Ibu/Bapak tingkat korupsi di Indonesia saat ini, apakah meningkat, menurun, atau tidak mengalami perubahan? DanHasil survei terkait persepsi terhadap korupsi satu tahun terakhir. Hasilnya, 61,8 persen responden menilai tingkat korupsi di Indonesia mengalami peningkatan.

Hal ini menunjukkan bahwa persepsi korupsi di masyarakat negatif, baik di masa pandemi , hal ini juga menunjukan bahwa  persepsi masyarakat terhadap upaya pencegahan dan penegakan hukum bagi pelaku korupsi semakin negatif

"Dari hasil survei 79,8 persen responden menyatakan bahwa pelaku korupsi lebih dominan dilakukan oleh kader dan politisi parpol yang ada dipemerintahan dan legislative," tegas Arifin.

Sebanyak 81,9 persen responden memberikan persepsi bahwa korupsi dilakukan oleh kader parpol
Dan sebanyak 50,7 persen persepsi masyarakat menilai korupsi oleh kader untuk kepentingan pembiayaan parpol  dan sebanyak 67,7 persen untuk pribadi kader parpol tersebut.

Dari hasil survei sebanyak 87,7 persen responden menyatakan bahwa prilaku korupsi yg dilakukan oleh kader parpol akan menjadi penilaian untuk memilih kader parpol dan parpol pengusung pada saat dilakukan pilkada maupun pemilu .

Dari hasil survei ketika 1225 responden diberikan pertanyaan parpol mana yang akan dipilih jika pemilu digelar hari ini maka hasil nya tingkat keterpilihan Parpol adalah sebagai berikut:

Dari kasus OTT KPK terhadap dua kader parpol ditingkatan menteri di kabinet Jokowi- Maruf Amin memberikan dampak yang signifikan terhadap tingkat pilihan masyarakat terhadap PDI Perjuangan dan Gerindra. Serta persepsi masyarakat juga negative terhadap pemerintahan Jokowi-Maruf yang sangat Korup.

Sementara GOLKAR, Partai Demokrat ,PKB, NASDEM, PKS dan PSI menjadi tempat pelarian pilihan masyarakat yang sebelumnya memilih PDI Perjuangan dan Gerindra jika pemilu digelar hari ini.

PDI Perjuangan (17, 8%)
GOLKAR ( 15,2℅)
Partai Demokrat (10,8%)
PKB (8,8%)
NASDEM(8,1%)
PKS (6,9%)
GERINDRA(6,6%)
PSI (4,2%)
PAN (3,1%)
PPP (2,9 %)
HANURA (1,6%)
Dan lainnya di bawah 0,5 persen

Tag : survei, lkpi, pandemi, covid

* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Monday, 31 May 2021 12:00

    Rekrutmen CPNS dan PPPK Bojonegoro 2021

    Pendaftaran CPNS dan PPPK Ditunda

    Pendaftaran CPNS dan PPPK Ditunda Sesuai dengan Surat Kepala BKN bernomor 4761/B-KP.03/SD/K/2021 tanggal 28 Mei terkait beberapa peraturan penundaan pendaftaran CPNS maupun PPPK yang belum di tetapkan oleh pemerintah serta masih ada beberapa usulan revisi...

    read more