Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Anas Urbaningrum, menyoroti tren penurunan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kondisi tersebut patut menjadi perhatian serius karena terjadi ketika usia pemerintahan belum genap dua tahun.
Pernyataan itu disampaikan Anas melalui akun X pribadinya. Ia mengaku mencermati berbagai hasil survei, baik yang telah dipublikasikan maupun yang belum dirilis secara luas. Menurutnya, tren yang muncul menunjukkan adanya penurunan tingkat persetujuan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
"Dari berbagai survei, baik yang dirilis maupun tidak, secara umum approval rating pemerintah turun. Angkanya boleh dibilang cukup mengkhawatirkan," tulis Anas.
"Termasuk jika ditilik dari sudut masa tugas yang belum genap dua tahun, dengan modal awal yang (sangat) tinggi," lanjutnya.
Meski menilai situasi tersebut mengkhawatirkan, Anas berpandangan pemerintah masih memiliki ruang untuk memperbaiki keadaan. Ia pun menawarkan lima langkah yang dinilai dapat meningkatkan kembali kepercayaan publik.
Pertama, pemerintah diminta kembali fokus merealisasikan janji-janji kampanye, terutama di tengah keterbatasan anggaran. Menurutnya, peluncuran program-program baru yang bersifat ad hoc sebaiknya dihindari.
"Kembali fokus untuk memenuhi janji kampanye yang eksplisit. Apalagi dengan ketersediaan anggaran yang relatif cupet. Manuver berupa kreasi program-program yang cenderung dadakan, bersifat ad hoc, sebaiknya tidak lagi dilakukan," ujarnya.
Kedua, Anas menilai konsolidasi kabinet perlu diperkuat agar seluruh jajaran pemerintahan bekerja dalam satu irama di bawah kepemimpinan Presiden. Ia juga menyoroti pentingnya menghilangkan kesan adanya menteri yang lebih diutamakan dibandingkan yang lain.
"Konsolidasi kerja dan kinerja pemerintahan harus benar-benar utuh dan bersatu. Kesan sepintas ada yang 'diutamakan' dan 'dinomorduakan', termasuk dalam hal personel kabinet, penting untuk diselesaikan. Kabinet mesti benar-benar bergerak bersama dalam irama kerja yang dipimpin Presiden," katanya.
Ketiga, Anas menilai pemerintah perlu membenahi strategi komunikasi publik. Ia menyarankan pemerintah lebih aktif membangun agenda strategis dibanding hanya merespons isu yang berkembang.
"Memperbaiki dan meningkatkan komunikasi publik pemerintah. Memproduksi isu jauh lebih baik ketimbang menanggapi, termasuk klarifikasi. Hal-hal yang berpotensi memunculkan kontroversi dan kesalahpahaman penting untuk ditekan atau dikurangi sedaya upaya," ujarnya.
Keempat, pemerintah diminta lebih fokus pada sektor-sektor yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, mulai dari pangan, kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, pelayanan publik hingga keamanan.
"Menggenjot kinerja secara lebih khusus untuk hal ikhwal yang terkait langsung dengan hajat hidup rakyat banyak, seperti pangan, kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, kegesitan dalam pelayanan, dan rasa aman," ungkapnya.
Terakhir, Anas mengusulkan agar struktur kabinet dirampingkan. Menurutnya, kabinet yang lebih ringkas akan memudahkan koordinasi, meningkatkan efektivitas kerja, sekaligus memperkuat citra pemerintahan yang efisien.
"Merampingkan struktur kabinet. Ini akan mempermudah konsolidasi dan koordinasi, serta menggenjot kinerja. Citra kerja keras dan efisiensi pemerintah juga lebih mudah dibangun dengan postur kabinet yang lebih ramping dan gesit," katanya.
Ia menambahkan, kabinet yang terlalu besar berpotensi menciptakan ketimpangan kinerja di lingkungan pemerintahan.
"Kabinet yang terlalu gemuk bisa menciptakan keadaan: Presiden lari kencang, kerja sangat keras, tetapi ada sebagian dari 'keluarga besar kabinet' hanya bekerja sekadarnya," ujarnya.
Menutup pernyataannya, Anas berharap pemerintah terus melakukan pembenahan agar kinerja meningkat dan kepercayaan masyarakat kembali pulih.
"Rakyat berharap kinerja pemerintah makin baik dan itu akan terpantul pada angka approval rating yang juga baik (membaik)," pungkasnya. [riz/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published