Kedelai dan Minyak Curah Kompak Naik, Perajin Tahu-Tempe Bojonegoro Mulai Tercekik
Salah satu perajin tahu di Ledok Kulon, Bojonegoro tengah menggoreng tahu (Foto: blokBojonegoro.com/Wahyu Budianto)

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com – Kenaikan harga sejumlah bahan baku mulai menghimpit para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Bojonegoro. Harga kedelai yang menjadi bahan utama produksi, serta minyak goreng curah, kompak mengalami kenaikan dalam dua bulan terakhir.

Kondisi tersebut dirasakan para perajin tahu dan tempe di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro. Kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi meningkat, sementara perajin kesulitan menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan daya beli masyarakat.

Pembina Asosiasi Perajin Tahu Tempe Ledok Kulon Bojonegoro, Pranyoto, mengungkapkan harga kedelai saat ini telah mencapai Rp10.800 hingga Rp11.000 per kilogram (kg). Padahal, sebelumnya harga kedelai berada di kisaran Rp9.300 per kg.

"Saat ini bisa dikatakan masalah, ya juga keluhan. Harga bahan baku tahu dan tempe melambung tinggi," keluh Pranyoto, Rabu (2/9/2026)

Tak hanya kedelai, kenaikan juga terjadi pada minyak goreng curah yang menjadi salah satu kebutuhan dalam proses produksi. Jika sebelumnya minyak goreng curah berada di kisaran Rp18 ribu per kg, kini harganya telah mencapai sekitar Rp22 ribu per kg.

Kenaikan dua bahan produksi tersebut membuat para perajin harus mencari cara agar usaha tetap berjalan. Sebab, menaikkan harga tahu dan tempe dinilai bukan pilihan mudah di tengah kondisi daya beli masyarakat.

Salah satu cara yang dilakukan perajin adalah mempertahankan harga jual, namun mengurangi ukuran produk. Strategi tersebut dipilih untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga agar konsumen tetap mampu membeli.

"Harga tidak kami naikkan, tapi disiasati. Ukurannya lebih kecil. Tapi kalau terus-terusan begini ya kolaps," ujar Pranyoto.

Menurut Pranyoto, kondisi tersebut menjadi persoalan serius apabila kenaikan harga bahan baku berlangsung terus-menerus. Margin keuntungan yang semakin tipis dikhawatirkan membuat keberlangsungan usaha para perajin tahu dan tempe semakin terancam.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro memberikan perhatian terhadap kondisi yang dihadapi para perajin. Menurutnya, diperlukan langkah konkret agar usaha masyarakat yang selama ini tetap bertahan dapat terus berjalan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disdagkopum) Bojonegoro, Moh. Akhmadi, mengatakan pihaknya tengah melakukan identifikasi serta pemantauan terhadap ketersediaan barang dan perkembangan harga di wilayah setempat.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan tidak terjadi penimbunan maupun permainan harga secara spekulatif, baik terhadap kedelai lokal maupun kedelai impor.

"Di samping itu, juga berkoordinasi dengan pihak terkait, di antaranya DKPP (Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian), TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah), dan lainnya," kata Akhmadi. [riz/mad]