Mendakwahkan Membaca
Usman Roin

Oleh: Usman Roin*

blokBojonegoro.com - Kemarin, Rabu (12/11/25), kita memperingati Hari Gerakan Nasional Membaca (HGNM). Peringatan ini bukan sekadar untuk ‘diingat’ saja, tetapi perlu berefleksi –diri kita masing, apakah membaca sudah menjadi aktivitas keseharian kita?

Pertanyaan penulis ini hakikatnya mengarah kepada kita semua –di mana penulis yang juga kena, agar secara kolektif kita mengambil peran masing-masing untuk mentradisikan membaca.

Kala misal nongkrong menunggu antrian di bank sebagai contoh, membuka buku yang dibawa dan dibaca sembari bersabar ngantri, adalah hakikat makna ikut memperingati HGNM.

Kemudian bagi mahasiswa, sebagai misal menunggu jam masuk atau sedang nongkrong di kantin, membaca perlulah dilakukan. Tujuannya, waktu yang hadir tidak sekadar dibuat menikmati informasi gadget yang hari ini tidak terbendung silih berganti.

Terlebih, menurut J. Sumardianta dan Dhitta Puti Saraswati dalam bukunya yang berjudul ‘Guru Posting Berdiri Murid Update Berlari: Transformasi Pendidikan Zaman Kerumunan Virtual’ (2022:23) menegaskan, bila kehadiran media sosial mendrive perubahan masyarakat dari vertikal ke horizontal.

Alhasil, model relasi ini, khalayak dengan pesohor sebagai role model menjadi sejajar. Sehingga banyak hadir era nobody (bukan siapa-siapa) menjadi somebody (terpandang).

Pernah di sebuah ruang kelas pembelajaran, penulis coba menanya kepada mahasiswa ketika menghubungkan materi pembelajaran terhadap konteks sosial.

Kepada mahasiswa, penulis bertanya, ketika kalian menikmati gadget itu lebih banyak pasif –yakni menerima aneka informasi; atau justru aktif –dengan membuat konten ulang, yang kemudian kaya manfaat kepada sesama?

Respon atas pertanyaan penulis kepada mahasiswa masih jadi penikmat. Penulis kemudian mengajak mahasiswa berefleksi, bila dari satu kelas saja jawaban kita masih menjadi penikmat; lalu bagaimana bila pertanyaan itu kita tarik kepada ranah sosial! Tentu, kepasifan sosial ‘bisa’ meningkat.

Momentum Pas

Hadirnya HGNM, tentu secara tekstual, aktivitas membaca serempak dan seremonial ‘tidak’ dilakukan pada hari itu saja. Melainkan, sepanjang hari selama Allah Swt masih memberi kesehatan kepada kita, membaca kudu tetap dilakukan di manapun dan kapanpun.

Termasuk juga membaca perlu digiatkan sejak dini. Coba baca bukunya Mem Fox, penulis buku anak best seller dan ahli literasi dari Australia yang berjudul ‘Reading Magic’ (2022:15), meminta kepada orang tua utamanya untuk membacakan nyaring kepada anak sebelum usia sekolah.

Menurut penelitiannya, orangtua yang menikmati cerita bersama anak dengan membacakan nyaring sepuluh menit sehari, di lima tahun pertama kehidupan anak akan membuatnya belajar membaca secara cepat, senang (fun), dan mudah.

Bahkan menurut beliau juga, ketika kita bersama tergugah untuk memberi perhatian, waktu, dan dana untuk mempromosikan literasi sejak dini serta dari ruang terdekat kita masing-masing; akan lebih sedikit anggaran untuk menanggulangi buta huruf, kejahatan, depresi, pengangguran, dan untuk jaminan sosial.

Jika berbagai manfaat sebagaimana di atas telah kita ketahui, tidak ada salahnya kita segera beranjak ke perpustakaan bila masih berat untuk menyisihkan rupiah guna membeli buku. Yakni, bisa langsung meluncur ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpussip) Kabupaten Bojonegoro.

Apalagi panjenengan kala kesana, akan bisa langsung membuat kartu anggota yang saat itu juga tercetak. Kemudian, bisa langsung digunakan untuk meminjam koleksi pustaka.

Bagi mahasiswa, dosen, tenaga pendidikan di kampus, momentum HGNM juga bisa dilakukan dengan mendatangi perpustakaannya masing-masing. Tentu, agak sedikit kurang elok, bilamana ada mahasiswa yang selama kuliah belum pernah ke perpustakaan.

Begitu pula dosen, hingga tenaga kependidikan, kehadirannya di perpustakaan kampus bisa menjadi pionir membaca. Sebab, nampak bin nyata role model terdekat hadir di perpustakaan kampus untuk membaca, meneliti, hingga menyelesaikan tugas.

Sementara bagi para pegiat literasi, juga bisa melakukan kampanye membaca di tempat baku yang dibuat nongkrong kawula muda. Warung kopi sebagai misal.

Karena sepengetahuan penulis, banyak mereka kala nongkrong di warkop, masih luput dari membaca buku. Dominannya masih ‘happy’ menikmati gadget untuk ngegame dan sekadar scroll medsos.

Bila kemudian ada yang merespon, membacakan bisa di gadget? Berdasarkan literatur buku yang penulis baca, beda tipis ‘membaca’ melalui gadget dengan ‘melihat’ update status.

Jika memang beda tipis, sudah saatnya penulis dan panjenengan semua, memperjelas dari yang abu-abu menjadi terang benderang. Yakni, membuka buku untuk kemudian dibaca sebagai aktivitas dakwah kultural yang menyenangkan. Amin ya rabbal 'alamin.
 
*Penulis adalah Dosen Prodi PAI dan Kepala Perpustakaan Unugiri.