Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas*
blokBojonegoro.com - Bangsa Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam dan lautnya. Namun kenyataannya kekayaan yang melimpah itu belum mampu memberikan kontribusi yang berarti untuk rakyatnya. Terbukti banyak rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Menurut data World Bank melalui laporan "Macro Poverty Outlook" pada awal April 2025 disebutkan bahwa pada tahun 2024 lebih dari 60,3 persen penduduk Indonesia atau setara 171,8 juta jiwa berada di bawah garis kemiskinan (Berbeda dengan data BPS). Kemerdekaan yang sudah di usia 81 tahun, belum mampu memberikan solusi untuk kesejahteran dan kemakmuran yang berkeadilan.
Memang, kemerdekaan bangsa tercinta ini telah diakui secara de jure dan de facto oleh negara dunia. Namun kemerdekaan fisik ini hanya menandai akhir dari penjajahan bangsa asing dan berdirinya negara yang berdaulat.
Persoalannya adalah dalam mengisi kemerdekaan bangsa, belum sesuai dengan cita cita kemerdekaan, yang tertuang dalam pembukaan UUD 45, yaitu mewujudkan masyarakat yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Pada esensinya penjajahan belum benar benar hilang di muka bumi Indonesia.
Islam sangat menghargai kemerdekaan manusia dan menolak segala bentuk kezaliman. Jika pada masa lalu penjajahan dilakukan dengan menguasai wilayah melalui kekuatan militer, maka pada zaman modern penjajahan sering hadir dalam bentuk yang lebih halus: menguasai ekonomi, membentuk cara berpikir, mengendalikan budaya, serta memonopoli teknologi dan informasi.
Fenomena inilah yang sering disebut sebagai neokolonialisme. Meskipun istilah "neokolonialisme" merupakan istilah modern, nilai-nilai yang digunakan Islam untuk menilai fenomena tersebut telah dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, yaitu larangan terhadap segala bentuk dominasi (monopoli) dan kezaliman yang melahirkan ketidakadilan, eksploitasi, dan ketergantungan yang melemahkan umat.
Esensi Kemerdekaan dalam Islam
Dalam Islam, kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga terbebas dari penghambaan kepada selain Allah, peningkatan kesejahteraan rakyat dan terbebasnya masyarakat dari kebodohan.
Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata:
متى استعبدتم الناس وقد ولدتهم أمهاتهم أحرارًا؟
Artinya: "Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka sebagai orang-orang yang merdeka?"
Ungkapan ini menunjukkan bahwa Islam menolak segala bentuk penindasan, baik terhadap individu maupun suatu bangsa. Dalam prakteknya, banyak buruh yang masih dieksploitasi tenaga dan pikirannya, untuk menghasilkan keuntungan segelintir tuannya.
Bentuk Neokolonialisme
1. Neokolonialisme Ekonomi
Islam mengajarkan agar harta tidak hanya berputar di kalangan orang-orang kaya. Allah SWT berfirman:
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ
"...agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." (QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini mengandung prinsip keadilan ekonomi. Ketika sistem ekonomi global menyebabkan kekayaan hanya mengalir kepada segelintir negara atau korporasi besar sementara negara lain terus bergantung dan tertinggal, keadaan tersebut bertentangan dengan semangat keadilan yang diajarkan Islam.
Karena itu, Islam mendorong umat untuk membangun perdagangan, pertanian, industri, dan kemandirian ekonomi sehingga tidak mudah didikte oleh kekuatan luar.
2. Neokolonialisme Budaya
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya: "Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu beriman." (QS. Ali 'Imran: 139)
Islam tidak melarang mengambil ilmu, teknologi, atau pengalaman dari bangsa lain. Namun Islam juga tidak menghendaki umat kehilangan jati diri hingga merasa rendah di hadapan budaya asing.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa bangsa yang kalah sering kali mengagumi dan meniru bangsa yang menang, baik dalam pakaian, gaya hidup, bahasa, maupun tradisi. Menurut beliau, hal itu merupakan gejala psikologis yang dapat melemahkan identitas suatu masyarakat.
Oleh karena itu, Islam mengajarkan sikap selektif: menerima hal-hal yang baik dan bermanfaat, tetapi tetap menjaga akidah, akhlak, dan identitas bangsa.
3. Neokolonialisme Teknologi
Teknologi adalah nikmat Allah yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Namun apabila umat hanya menjadi pengguna tanpa mengembangkan kemampuan ilmiah dan teknologi sendiri, maka ketergantungan akan semakin besar.
Allah SWT berfirman:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
Artinya: "Persiapkanlah untuk menghadapi mereka segala kekuatan yang kamu mampu." (QS. Al-Anfal: 60)
Para mufasir menjelaskan bahwa kata quwwah (kekuatan) mencakup segala bentuk kekuatan yang diperlukan sesuai perkembangan zaman. Pada masa kini, kekuatan itu meliputi ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, keamanan siber, media, dan penguasaan data.
Karena itu, mengembangkan riset, pendidikan, dan inovasi merupakan bagian dari ikhtiar untuk memenuhi perintah Al-Qur'an.
Jangan Menjadi Umat yang Bergantung
Allah berfirman:
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
Artinya: "Allah tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa': 141)
Ayat ini dipahami para ulama sebagai dorongan agar kaum mukmin tidak menyerahkan urusan-urusan strategis mereka sehingga mudah didominasi dan kehilangan kemandirian. Ini bukan berarti menolak kerja sama dengan pihak lain, tetapi menghindari ketergantungan yang menghilangkan kemampuan mengambil keputusan secara bebas.
Solusi Islam Menghadapi Neokolonialisme
Islam menawarkan beberapa prinsip untuk menghadapi tantangan tersebut:
1. Pendidikan yang berkualitas, yang didalamnya ada penguatan akidah agar tidak mudah terpengaruh oleh ideologi yang merusak. Selain itu, juga ada ilmu dan mengembangkan sains serta teknologi.
Allah SWT berfirman:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: “Allah mengangkat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Al-Mujadalah : 11) Artinya Ketika pendidikan maju di sebuah negara, maka peradabannya juga akan maju."
2. Membangun ekonomi yang adil, produktif, dan mandiri. Dalam prakteknya, bisa mengembang UMKM, menekan impor dan mencintai produk dalam negeri.
3. Menghidupkan kembali budaya ketimuran yang kaya akan norma, akhlak tanpa menutup diri dari kemajuan.
4. Memperkuat ukhuwah dan persatuan umat.
5. Mengembangkan kepemimpinan yang amanah dan berorientasi pada kemaslahatan rakyat.
Neokolonialisme adalah tantangan nyata pada era modern. Penjajahan tidak lagi selalu hadir dalam bentuk pendudukan wilayah, tetapi dapat muncul melalui dominasi ekonomi, budaya, teknologi, media, dan informasi.
Islam tidak mengajarkan umat untuk memusuhi bangsa lain atau menutup diri dari kemajuan. Sebaliknya, Islam mendorong kerja sama yang adil, saling menguntungkan, dan bermartabat. Yang ditolak adalah segala bentuk dominasi dan monopoli yang menghilangkan kebebasan, keadilan, dan kemandirian.
Kemerdekaan menurut Islam bukan sekadar bebas dari penjajah, tetapi juga mampu berdiri tegak sebagai umat yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri secara ekonomi, unggul dalam teknologi, dan hanya tunduk kepada Allah SWT. Dengan demikian, umat Islam dapat menjadi khairu ummah yang memberi manfaat bagi seluruh manusia, bukan menjadi bangsa yang selalu bergantung pada kekuatan orang lain. [mu]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published